Setelah lebih dari satu dasawarsa tinggal di benua biru Eropa, akhirnya saya bisa merasakan kembali hiruk pikuk berlebaran di tanah air, termasuk tradisi mudik yang menyertainya.
Tradisi mudik merupakan aktivitas massal tahunan masyarakat Indonesia setiap hari raya besar, seperti Idul Fitri hingga Natal dan Tahun Baru. Mudik seringkali dipahami sebagai kegiatan pulang ke kampung halaman.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mudik di Indonesia berakar dari tradisi masyarakat agraris Jawa dan Melayu kuno untuk kembali ke kampung halaman guna ziarah kubur makam para leluhur, dan silaturahmi dengan kerabat. Secara etimologi istilah mudik berasal dari bahasa Melayu udik(hulu/selatan).
Ada juga yang menyebutnya singkatan dari bahasa Jawa mulih dilik (pulang sebentar). Tradisi ini semakin populer pada tahun 1970-an akibat urbanisasi besar-besaran ke Jakarta.
Perjalanan mudik kami dimulai saat meninggalkan rumah di Kota Utrecht Belanda dengan menggunakan kereta api menuju bandara Schiphol sekitar satu jam, dilanjutkan dengan penerbangan pesawat yang menghabiskan waktu lebih dari 15 jam di udara menuju Bandara Soekarno-Hatta Jakarta. Rute penerbangan kami agak sedikit memutar menjauhi area terdampak perang Iran vs Israel-Amerika.
Sesampainya di Jakarta, kami menginap semalam di salah satu hotel dekat Stasiun Gambir. Esok harinya sekitar pukul 06.30 WIB kami menumpang Kereta Api Papandayan Executive menuju Kota Garut, dimana keluarga kami berkumpul untuk merayakan lebaran tahun ini, dan sampai sekitar pukul 11.15 WIB.
Meski memang terasa cape melakukan perjalanan panjang di saat Ramadan, tapi kami bahagia saat sampai dan akhirnya bersua keluarga. Berselang empat hari kemudian tibalah saatnya hari kemenangan bagi kami.
Sayangnya hari raya Idul Fitri saya dan suami berbeda dengan mayoritas masyarakat Indonesia termasuk keluarga besar saya. Saya melaksanakan Shalat Ied di mesjid di belakang rumah kami.
Setelah Shalat Id kami bersilaturahmi dengan tetangga dan kenalan yang hadir di mesjid. Setelah itu saya memutuskan untuk istirahat karena kondisi badan yang kurang fit, disebabkan kelelahan dan cuaca panas yang menyengat di Kota Garut.
Sehari kemudian suasana lebaran begitu terasa, kesibukan dan hiruk pikuk khas Idul Fitri terlihat di hampir setiap tempat, seperti pemakaman, tempat makan, terutama mie bakso, penuh sesak, orang- orang yang saling berkunjung, kegiatan berfoto keluarga, bahkan acara permainan semakin memeriahkan silaturahmi keluarga saat hari raya Idul Fitri.
Begitulah tradisi lebaran di tanah air, setiap orang sibuk berkunjung dan dikunjungi untuk bersilaturahmi dan saling memaafkan. Indahnya berlebaran di tanah air. Suasana khidmat, gema takbir yang saling bersahutan, dan kehangatan yang tak akan pernah ditemukan di tempat kami tinggal nun jauh di Benua Eropa. Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H. Mohon maaf lahir dan batin.
---
Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Anda yang ingin berbagi cerita perjalanan mudik bisa disampaikan melalui tautan ini.












































Komentar Terbanyak
Adzan Menggema di London, Ini Sudut Paling Menggetarkan Hati Muslim di Whitechapel
3 Hari Festival Songkran, 95 Orang Meninggal
Investor Gugat Pemprov Bali soal Lift Kaca Kelingking, Koster Merespons