Melihat Roti Kembang Waru yang Legendaris, Asli dari Kotagede

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Melihat Roti Kembang Waru yang Legendaris, Asli dari Kotagede

Elyandra Widharta - detikTravel
Rabu, 08 Apr 2026 15:40 WIB
loading...
Elyandra Widharta
Produksi Roti Kembang Waru
Produksi Roti Kembang Waru
Roti Kembang Waru asli Purbayan Kotagede
Alamat produksi Roti Kembang Waru Purbayan Kotagede
Melihat Roti Kembang Waru yang Legendaris, Asli dari Kotagede
Melihat Roti Kembang Waru yang Legendaris, Asli dari Kotagede
Melihat Roti Kembang Waru yang Legendaris, Asli dari Kotagede
Melihat Roti Kembang Waru yang Legendaris, Asli dari Kotagede
Yogyakarta -

Mari melihat produksi Roti Kembang Waru yang begitu legendaris. Roti ini asli dari Kotagede, Yogyakarta.

Dapur yang tidak begitu luas, dua oven berbahan plat besi kastem berjajar dengan arang kayu yang masih membara apinya di bagian atas dan bawahnya.

Seorang ibu usia senja sedang memanggang adonan dalam loyang berbentuk segi delapan, begitu adonan masuk dalam oven aroma rotinya langsung berterbangan memenuhi dapur tersebut. Sementara sang suami menata rapi dalam kardus pesanan, setelah roti tersebut dikemas.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Begitulah proses yang saya amati siang itu dari dua jendela gang kecil di daerah Bumen KG III/452 RT23/RW06 Purbayan Kotagede. Ya, rumah tersebut kediaman Pak Basiran Basis Hargito atau akran di sapa Pak Bas dan Bu Gidah, seorang pasangan suami istri yang sudah menggeluti produksi roti kembang waru sejak tahun 1983.

Mereka berdua bisa dibilang pelopor roti kembang waru khas Kotagede di kampung Bumen. Resep roti kembang waru konon hanya diwariskan dari simbah yang hanya berupa komposisi tepung terigu, telur, susu, dan gula pasir.

ADVERTISEMENT

"Roti kembang waru ini dikenal awal mulanya makanan snack kesukaan para kerabat keraton Raja Mataram Kotagede. Memang kebetulan dulu tempat pembuatannya terdapat kembang waru" tutur Pak Bas.

Gaya bertutur Pak Bas pun kemudian melesat jauh ke belakang ketika saya tanya mengenai asal usul roti itu kenapa dinamai Kembang Waru. Oleh karena beliau termasuk budayawan kampung Bumen, Pak Bas lalu menceritakan tentang sejarah yang ia interpretasikan ulang dengan pemahaman dan gagasannya.

Orang Jawa bilang othak-athik gathuk, hal ini merupakan gaya orang Jawa bertutur ketika membedah dengan epistimologi[ Epistimologi adalah cabang ilmu filsafat sebagai cara pandang mempelajari hakikat, sumber, sifat, metode, dan batas-batas pengetahuan, serta bagaimana kita memperoleh pengetahuan itu. ] yang lebih cair dan santai.

"Mataram itu masyarakat takwa dan rahmat. Sedari dulu orang Kotagede itu guyub rukun sebelum agama masuk di nusantara itu," ucapnya.

Pak Bas kemudian melesat jauh bercerita mengenai perjalanan spiritual orang-orang Kotagede saat masa lampau. Roti kembang waru, kata "roti" menurut Pak Bas itu akronim yang memiliki kepanjangan dari Roti Orisinil Tetap Istimewa.

Sementara kata "kue" baginya adalah Kualitas Unggulan Enak karena jaman dulu orang belum mengenal istilah roti. Tidak berhenti sampai disitu saja, Pak Bas meneruskan pitutur filosofisnya mengenai Kembang Waru yang dimaknai menjadi "Kembalilah Bangsa Kita Wajib Rukun".

Baginya senjata yang paling ampuh itu ya persatuan dan kesatuan seperti yang dipesankan oleh Bung Karno maka dalam butir Pancasila sila ke 3 disebutnya Persatuan Indonesia.

Pak Bas melanjutkan uraiannya mengenai filosofi kembang waru yang berbentuk bunga dengan kelopak berjumlah delapan. Delapan itu dalam konsep Jawa adalah hasta brata berarti 8 perbuatan yang mulia dan jagat semesta itu terdiri dari 8 elemen antara lain: bumi, matahari, bulan, bintang, samudra, langit, api dan angin.

Waru pun jenis pohon yang sudah langka di Kotagede meskipun dulu pada masa kerajaan Mataram yang saat ini menjadi wilayah Pasar Legi itu banyak ditumbuhi pohon beringin, pohon gayam, pohon talok, dan pohon waru.

Pohon waru memang pohon yang tidak produktif menghasilkan buah, apalagi kayunya tidak bisa untuk membangun rumah. Apalagi sepanjang sejarah pohon waru itu tidak pernah berbuah namun berkembang terus.

Begitulah cara Pak Bas mengothak-athik gathuk dengan gaya tutur epistimologi yang sederhana khas budayawan genuine kampung, namun tetap menggunakan nalar yang mudah untuk dipahami maknanya.

Roti kembang waru diproduksi setiap hari baik dalam rangka pesanan atau sekedar stok. Namun sampai dengan hari ini selalu saja ada pembeli yang datang ke rumah karena roti kembang waru ini tidak dititipkan kewarung atau dikulak penjual lain.

Pak Bas dan Bu Gidah memulai produksinya pukul 4 pagi. Meski produksi rumahan skala UMKM namun Pak Bas mengaku bisa memproduksi 400 kembang waru dalam sehari jika ada pesanan.

Apabila berminat bisa datang langsung membeli Roti Kembang Waru seharga Rp2.500. Roti Kembang Waru ini sudah menjadi Warisan Budaya Tak Benda oleh Gubernur DIY dengan nomor SK 3034/F4/KB/.09.06/202

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads