Belakangan kita sempat melihat video perjalanan yang menampilkan keindahan Nuca Molas yang ramai diperbincangkan di media sosial sebagai Jurrasic Park.
Banyak warganet menyebut pulau ini sebagai Jurassic Park versi Indonesia karena lanskapnya yang terlihat liar, eksotis dan berbeda dari destinasi wisata pada umumnya.
Pulau ini dikenal dengan hamparan perbukitan kering, garis pantai yang tegas, serta laut biru yang jernih. Tidak sedikit yang merasa seperti masuk ke dunia lain saat pertama kali melihatnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk mengetahui lebih jauh, saya mencoba menghubungi @ammarnaufaal salah satu content creator traveling yang sempat mengunjungi dan membagikan momen di Nuca Molas melalui media sosial. Ia mengatakan, pengalaman berada di sana bukan sekadar tentang menikmati pemandangan.
"Ini bukan cuma soal indah. Vibenya beda, bener-bener kayak dateng langsung ke tempat shooting Jurassic Park, karena tempatnya emang masih alami banget," ujar dia.
Menurutnya, daya tarik utama Nuca Molas justru terletak pada kesan liar yang masih sangat terasa. Tidak banyak bangunan, tidak ramai wisatawan, dan suasana yang cenderung sunyi membuat tempat ini terasa begitu autentik.
"Di sana tuh bukan cuma lihat alam, tapi bikin kita sadar kalau Indonesia ga ada habisnya kalau soal keindahan alamnya," tambahnya.
Sebutan Jurassic Park versi Indonesia muncul bukan tanpa alasan. Lanskap pulau yang yang masih tidak banyak tersentuh oleh pembangunan membuat banyak orang mengaitkannya dengan gambaran dunia purba.
Meski begitu, ia juga menekankan bahwa Nuca Molas bukan destinasi untuk semua orang. "Aksesnya nggak selalu mudah, panasnya juga lumayan ekstrem. Jadi kalau cari yang nyaman dan serba lengkap, mungkin nggak cocok," jelasnya.
Namun, bagi mereka yang mencari ketenangan dan pengalaman berbeda, tempat ini justru bisa memberikan kesan yang mendalam. Menurut Ammar, justru kesederhanaan dan kealamian itulah yang membuat Nuca Molas memiliki daya tarik tersendiri dibandingkan destinasi wisata yang sudah banyak mengalami modernisasi.
Di sisi lain, Ammar juga mengingatkan pentingnya menjaga sikap saat berkunjung ke tempat seperti ini. Sebagai destinasi yang masih alami, peran wisatawan sangat penting dalam menjaga kebersihan dan kelestarian lingkungan.
"Tempat kayak gini tuh indah karena masih alami. Jadi ya... jangan sampai kita sendiri yang ngerusak," ujarnya.
Ia berharap, ke depan semakin banyak wisatawan yang tidak hanya datang untuk menikmati, tetapi juga menghargai dan menjaga tempat yang mereka kunjungi.
Menurutnya, sebelum datang ke suatu destinasi, penting untuk memahami karakter tempat tersebut agar ekspektasi yang dibawa tidak salah. "Kadang yang bikin kecewa itu bukan tempatnya, tapi ekspektasi kita sendiri," tutup dia.












































Komentar Terbanyak
3 Hari Festival Songkran, 95 Orang Meninggal
Bule Australia Terlunta-lunta di Bali, Hidup di Bangunan Kosong-Kakinya Luka
Adzan Menggema di London, Ini Sudut Paling Menggetarkan Hati Muslim di Whitechapel