Eksplorasi wisata di kota Yogyakarta tak akan habis dibuat cerita. Kali ini perjalanan saya ke Yogya, khusus ingin mengenang masakan rasa lama yang jadi menu andalan Warung Moerni 78.
Saya sengaja memilih naik moda transportasi kereta api ekonomi agar bisa turun Stasiun Lempuyangan. Sampai di kota budaya ini, sekitar pukul 23.00 WIB, saya langsung berjalan kaki menuju home stay yang berada di daerah Jalan Tukangan, Danurejan.
Sepanjang Jalan Tukangan ini, traveler dapat dengan mudah menemukan home stay dengan beragam konsep yang mereka tawarkan. Soal harga, sepadan dengan kenyamanan ala rumahan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Yang jelas, banyak pilihan menyesuaikan budget dan cocok untuk traveler yang suka backpacker-an. Hanya saja, home stay di wilayah ini banyak yang tidak menyediakan lahan parkir untuk mobil, karena memang lokasinya sebagian besar berada di labirin permukiman padat.
Kenapa saya memilih menginap di Jalan Tukangan, karena wisata kuliner kali ini tujuan utama adalah sarapan di Warung Moerni 78 yang lokasinya hanya selemparan batu dari penginapan. Jadi, ketika bangun pagi saya masih sempat berjalan-jalan keliling pasar tradisional sekitar Jalan Tukangan karena Warung Moerni 78 baru buka tepat pukul 09.00 WIB.
Di pasar ini beragam jajanan tradisional bisa kita temukan, seperti cucur, jenang, serabi dan lain sebagainya. Sayangnya, tidak ada tempat ngopi yang buka pagi hari. Karena tradisi Yogya memang ngeteh, bukan ngopi, sehingga angkringan yang menyediakan kopi biasanya baru buka menjelang Magrib hingga dini hari. Menjelang jam 9, Langkah kami percepat menuju tujuan utama.
Hanya kurang 5 menit dari jam 9, namun gerbang warung ini belum dibuka walaupun sudah tampak aktifitas persiapan warung yang dikerjakan beberapa karyawan. Rupanya, pemilik warung ini sangat disiplin dan konsisten membuka warungnya tepat pukul 9 pagi. Beberapa traveler lain juga tampak antusias menunggu gerbang warung ini dibuka. Dan tepat pukul 9, gerbang warung pun dibuka.
Sambutan ramah karyawan mengarahkan kami ke meja buku menu, karena konsep warung ini memasak fresh from the dapur dari permintaan pembeli. Mata saya langsung menatap pada menu utama, bistik sapi dan es teler durian.
Menunggu menu yang saya pesan dimasak, atmosfer warung ini cukup bikin adem di bawah terik mentari pagi yang sudah menyengat di Yogyakarta. Tata ruangnya lapang dengan kursi-kursi model vintage di tiga ruangan.
Tak banyak ornamen hiasan yang dipajang. Cat tembok natural mendukung suasana nyaman untuk menyantap rasa masakan, tanpa gangguan berisik pengunjung yang berbincang atau musik seperti rumah makan zaman sekarang. Saya merasakan, pengunjung yang datang mampu menyesuaikan aturan tak tertulis untuk menjaga ketenangan agar benar-benar bisa menikmati hidangan makanan yang disediakan.
Tanpa menunggu lama, makanan yang saya pesan datang. Semangkok es teler dan sepiring bistik sapi Jawa yang tampilannya sangat sederhana. Warna makanan natural, namun isinya beragam.
Untuk es teler durian ini berisi nangka dipotong dadu kecil-kecil, daging buah kelapa muda atau degan, puding, beberapa potong alpukat, tape ketan hijau, beberapa potongan roti tawar dengan kuah asli santan yang manisnya pas. Esnya masih diserut halus seperti tampilan es teler zaman tahun 90-an. Toping paling atas, daging durian yang aromanya menggoda iman. Rasanya, otentik kesan lama yang tidak memakai santan buatan atau susu creamer pemanis seperti jajanan minuman zaman sekarang.
Membuka sarapan pagi dengan menyeruput es teler durian ini membuat lega tenggorokan di tengah udara panas kota Yogya. Selanjutnya, piring bestik sapi Jawa sudah siap di depan mata. Plating menu ini juga nampak sederhana.
Ada telur goreng berbentuk bulat mata sapi, beberapa rajang kentang, buncis dan wortel, sehelai daun selada dan seiris mentimun segar serta bulatan daging panggang yang tidak begitu besar.
Sekilas mirip Selat Solo, namun kuahnya terasa ringan dengan warna merah lembut dan irisan bawang bombai. Rasanya sesuai namanya, murni rasa lama yang sangat sederhana.
Kata David, generasi ketiga yang menjalankan warung ini, nama murni menunjukkan mereka konsisten memasak dengan menggunakan bahan baku murni alami, tanpa pemanis buatan maupun zat kimia tambahan sebagai penguat rasa.
"Iya, saya cucu generasi ketiga yang mengelola warung ini. Memang sejak awal dibuka tahun 1978 kami konsisten memasak tanpa bahan penguat rasa, jadi murni bahan alami. Kayak kuah bistik sapi itu, kami hanya pakai kuah kaldu ayam, tomat dan irisan bawang bombai saja. Kalau dagingnya, kami pakai daging segar dicampur tepung roti biar padat pas digoreng," jelas David Selasa (19/5/2026).
Porsinya pas untuk sarapan dengan harga yang terjangkau. Tak heran jika warung ini tumbuh dan bertahan menjadi salah satu destinasi wisata kuliner legendaris lintas generasi yang masih di rindukan dari Yogyakarta.
Setiap cecapan, mengundang nostalgia kenangan rasa lama kembali muncul di memori ingatan. Rasa yang selalu dirindukan bagi generasi milenial, dan pengalaman rasa baru bagi gen Z yang terbiasa dengan makanan kekinian yang dominan dengan bahan instan.
Di sini, lidah seolah menemukan kembali arah kompas ketulusan rasa masa lalu. Karena jejak rasa itu tak akan pernah benar-benar hilang, hingga menetap di sebuah memori rasa yang setiap saat hadir Kembali untuk dinikmati. Seperti rasa yang dihadirkan di Warung Moerni 78 ini.
---
Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom. Anda bisa mengirim cerita perjalanan Anda melalui tautan ini.












































Komentar Terbanyak
Ibu Kota Negara Tetap di Jakarta, IKN Jadi Apa?
Prabowo: Jangan Terlalu Kagum pada Bangsa yang Kaya dari Merampas Bangsa Lain
Meresahkan, Rombongan Pendaki Karaoke di Puncak Gunung Andong