Di balik ramainya kabar dugaan WNI yang kabur dari rombongan wisata di Korea Selatan, Gyeongbokgung Palace ikut menjadi perhatian publik. Istana terbesar peninggalan Dinasti Joseon itu merupakan ikon wisata Seoul yang hampir tak pernah absen dari paket tur.
WNI kabur dari rombongan itu bernama Femas (22). Dia bergabung dalam open trip Berani Backpacker.
Marketing Manager Berani Backpacker Wiky mengatakan rombongan berangkat dari Jakarta pada 27 Juni 2026. Pada malam pertama tur, atau 28 Juni 2026, seluruh peserta diberi waktu bebas setelah rangkaian tur selesai.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam salah satu foto yang diunggah, Femas mengenakan berfoto dengan latar Gyeongbokgung Palace, salah satu destinasi ikonik di Seoul. Gyeongbokgung Palace memang menjadi salah satu tempat yang kerap masuk dalam itinerary wisatawan saat berkunjung ke Korea Selatan.
Istana itu juga populer sebagai lokasi berfoto dengan hanbok dan latar arsitektur tradisional Korea. Namun, di balik kemegahan bangunannya, Gyeongbokgung Palace menyimpan sejarah panjang dan sejumlah fakta menarik.
Fakta Gyeongbokgung Palace di Seoul
1. Arti Nama Gyeongbokgung Penuh Berkat
Gyeongbokgung Palace dibangun pada 1395 oleh Raja Taejo, pendiri Dinasti Joseon. Istana ini menjadi istana utama sekaligus pusat pemerintahan kerajaan.
Nama Gyeongbokgung memiliki makna yang dalam. Secara umum, nama tersebut dapat diartikan sebagai "istana yang sangat diberkahi" atau tempat yang diharapkan membawa kemakmuran dan keberuntungan.
Nama tersebut mencerminkan harapan besar bagi kerajaan yang baru berdiri. Gyeongbokgung pun kemudian menjadi pusat pemerintahan dan simbol kekuasaan Dinasti Joseon.
2. Jadi istana terbesar dari Lima Istana Agung Seoul
Gyeongbokgung Palace merupakan yang terbesar di antara lima istana utama Dinasti Joseon di Seoul. Kompleks istana ini memiliki area yang luas dengan berbagai bangunan, paviliun, halaman, dan taman.
Selain itu, karena lokasinya berada di bagian utara kawasan ibu kota lama, Gyeongbokgung juga dikenal sebagai Northern Palace atau Istana Utara.
3. Kisah Kelam di Balik Keindahan
Gyeongbokgung Palace yang berdiri saat ini sebagian besar merupakan hasil rekonstruksi modern. Istana ini pernah terbakar habis pada 1592 saat Perang Imjin, ketika Jepang menginvasi Korea.
Pada waktu itu, kondisi keuangan kerajaan menipis sehingga pemerintah kerajaan memilih meninggalkan reruntuhan Gyeongbokgung dan memindahkan pusat pemerintahan ke Changdeokgung Palace. Gyeongbokgung pun dibiarkan kosong selama hampir tiga abad. Istana ini baru dibangun kembali pada 1867.
Namun, sejarah kelam Gyeongbokgung belum berakhir. Pada 1895, Ratu Myeongseong atau Permaisuri Myeongseong dibunuh di kawasan Geoncheonggung, salah satu bagian dari kompleks Gyeongbokgung. Peristiwa tersebut dikenal sebagai Eulmi Incident. Pembunuhan itu menjadi salah satu tragedi paling kelam dalam sejarah modern Korea.
Gyeongbokgung kemudian kembali mengalami berbagai kerusakan pada masa pendudukan Jepang. Karena itu, kompleks istana yang terlihat sekarang sebagian besar merupakan hasil pembangunan kembali dan restorasi yang dilakukan secara bertahap.
4. Dibangun tanpa paku
Salah satu bangunan paling ikonik di Gyeongbokgung Palace adalah Gyeonghoeru Pavilion. Bangunan ini dulunya menjadi tempat jamuan kerajaan, termasuk untuk pesta besar dan menerima utusan dari negara lain. Gyeonghoeru berdiri di atas kolam buatan yang luas dan ditopang oleh 48 pilar batu.
Desainnya memiliki filosofi tersendiri. Pilar-pilar bagian luar berbentuk persegi yang melambangkan bumi, sementara pilar-pilar bagian dalam berbentuk bulat yang melambangkan langit. Tata letak bangunannya juga dibuat berdasarkan perhitungan filosofi kuno dan prinsip-prinsip I Ching atau Kitab Perubahan.
Menariknya lagi, struktur kayu utama bangunan tradisional di Gyeongbokgung dibuat tanpa paku. Para arsitek mengandalkan sistem sambungan kayu bernama Gurae-jjeim, berupa rangkaian braket, sambungan, dan pasak kayu yang saling mengunci. Teknik ini bukan cuma menunjukkan kecanggihan pertukangan masa lalu.
Struktur tanpa paku tersebut juga membuat bangunan lebih fleksibel sehingga dapat sedikit bergeser dan meredam dampak gempa atau angin kencang tanpa mudah runtuh.
5. Batu lantainya sengaja kasar dan tidak rata
Area lapang berbatu di depan aula takhta Gyeongbokgung mungkin terlihat kasar, bergelombang, dan tidak rata. Namun, kondisi tersebut bukan akibat konstruksi yang buruk. Batu-batu granit di area tersebut memang sengaja dibuat tidak terlalu halus.
Permukaannya yang kasar membantu mengurangi pantulan cahaya matahari agar tidak menyilaukan mata para pejabat kerajaan yang berdiri di area terbuka. Kemiringan dan tekstur permukaannya juga memiliki fungsi lain. Saat hujan turun, air dapat mengalir dengan lebih cepat sehingga permukaan tidak terlalu licin.
Jadi, di balik keindahan Gyeongbokgung Palace, tersimpan sejarah panjang dan kecanggihan arsitektur yang tidak selalu terlihat sekilas. Istana ini bukan hanya destinasi untuk berfoto karena setiap sudutnya menyimpan cerita, mulai dari kejayaan Dinasti Joseon, kehancuran akibat perang, hingga proses restorasi panjang yang membuat Gyeongbokgung kembali menjadi salah satu ikon wisata Korea Selatan.











































Komentar Terbanyak
Potret Terkini Malaysia yang Selangkah Lagi Jadi Negara Maju
Ketika Perbedaan Bahasa Indonesia-Malaysia Mengundang Tawa
Gara-gara Protes Penerbangan Delay, Warga 62 Ditahan Polisi KLIA