Liburan memiliki makna yang berbeda di setiap negara. Di Indonesia, akhir pekan, libur Natal dan Tahun Baru, atau Lebaran sering dimanfaatkan untuk berwisata ke pantai, gunung, candi, maupun destinasi alam lainnya. Sebagian besar orang juga memilih bepergian saat musim kemarau agar perjalanan lebih nyaman dan minim risiko.
Alasannya sederhana. Musim hujan membuat perjalanan ke alam terbuka menjadi lebih berbahaya. Hujan deras, angin kencang, hingga potensi longsor menjadi pertimbangan sebelum memutuskan berlibur.
Tapi bagaimana dengan liburan di Inggris?
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berbeda dengan Indonesia, Inggris memiliki empat musim: semi, panas, gugur, dan dingin. Warga setempat umumnya mulai ramai beraktivitas di luar ruangan ketika memasuki musim semi hingga musim panas. Setelah berbulan-bulan menghadapi suhu dingin dan langit yang kelabu, kemunculan matahari menjadi momen yang sangat dinantikan.
Di Indonesia, suhu 30-36 derajat Celsius sering membuat orang memilih berteduh atau tetap berada di dalam ruangan. Di Inggris justru sebaliknya. Begitu matahari muncul, taman kota, pantai, hingga ruang terbuka langsung dipenuhi orang.
Sinar matahari tidak hanya menghangatkan tubuh, tetapi juga membantu memenuhi kebutuhan vitamin D dan memperbaiki suasana hati. Tak hanya warga lokal, mahasiswa internasional dan diaspora pun memanfaatkan cuaca cerah untuk menikmati waktu di luar ruangan.
Bertemu dengan 'Pencuri' Bersayap
Perbedaan paling mencolok saya rasakan ketika berkunjung ke Pantai Brighton. Di Indonesia, piknik identik dengan tikar dan aneka makanan. Namun di Brighton, menikmati makanan di ruang terbuka ternyata bukan perkara mudah.
Penyebabnya adalah seagull atau burung camar. Burung yang menjadi ikon klub sepak bola Brighton & Hove Albion itu memiliki reputasi sebagai pencuri makanan. Populasinya sangat banyak di kawasan pantai dan mereka tidak segan menyambar makanan wisatawan.
Saya sendiri berkali-kali menyaksikan kejadian tersebut. Suatu hari, seseorang sedang menelepon sambil meninggalkan makanannya di atas meja depan perpustakaan. Dalam hitungan detik, seekor burung camar datang, mematuk makanan itu, lalu terbang pergi.
Pada kesempatan lain, saya melihat seseorang sedang makan sambil berjalan. Lagi-lagi, burung camar datang dan langsung merebut makanannya dari tangan.
Teman saya, Alma, bahkan bercerita ada wisatawan yang tangannya terluka karena burung camar menyambar makanan tepat saat hendak dimakan.
Rasa penasaran membuat saya mencari informasi lebih jauh. Ternyata, burung camar di Brighton memang terkenal agresif. Banyak video di YouTube maupun TikTok yang memperlihatkan burung tersebut masuk ke toko hingga mencuri makanan dari etalase.
Teman saya asal Jepang, Soske, juga mengaku sangat kesal dengan burung ini karena sering mengambil makanan orang tanpa rasa takut.
Kalau di Indonesia wisatawan sering khawatir hujan turun saat piknik, di Brighton kekhawatiran justru datang dari burung camar.
Transportasi yang Berbeda
Perbedaan lain terlihat dari cara masyarakat berwisata. Di Indonesia, kendaraan pribadi masih menjadi pilihan utama saat liburan. Mobil, motor, hingga kendaraan sewaan banyak digunakan karena dianggap lebih praktis.
Di Brighton, transportasi umum justru lebih banyak dimanfaatkan. Bus dan kereta menjadi pilihan utama, sementara masyarakat juga terbiasa berjalan kaki atau menggunakan sepeda.
Karena itu, persoalan yang dihadapi wisatawan pun berbeda. Di Indonesia, mencari tempat parkir sering menjadi tantangan, terutama saat musim liburan. Di Brighton, masalah itu relatif tidak terasa karena sistem transportasi publik berjalan baik dan fasilitas parkir telah tersedia.
Pada akhirnya, setiap negara memiliki cara tersendiri dalam menikmati liburan. Di Indonesia, wisatawan lebih sering menyesuaikan rencana perjalanan dengan cuaca agar terhindar dari hujan. Di Brighton, tantangannya justru mengejar hangatnya sinar matahari sambil menjaga makanan agar tidak dicuri burung camar. Dua-duanya punya tantangan masing-masing, tapi juga menyisakan cerita yang layak dikenang.
---
Artikel ini merupakan kiriman pembaca detikcom dan sudah disunting ulang. Anda juga bisa mengirim cerita perjalanan melalui tautan ini.











































Komentar Terbanyak
Viral di Medsos, Peserta Tur Asal Madiun Diduga Kabur Saat Liburan ke Korea Selatan
Naik Tiga Tingkat! Indonesia Kini di Posisi ke-2 Destinasi Ramah Muslim
Bandara Husein Bandung Hidup Lagi, Cek Maskapai dan Rute Penerbangannya