Traveler Perlu Tahu, Tips Memotret Satwa

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Traveler Perlu Tahu, Tips Memotret Satwa

Vannisa Paramitha Junaidi - detikTravel
Senin, 10 Agu 2026 18:23 WIB
loading...
Vannisa Paramitha Junaidi
Para fotografer berusaha tangkap momen (Vannisa Paramitha Junaidi)
Alexander Zulkarnain pada opening IAPVC 2026 (Vannisa Paramitha Junaidi)
Alfin Tofler di workshop fotografi IAPVC 2027 (Vannisa Paramitha Junaidi)
Traveler Perlu Tahu, Tips Memotret Satwa
Traveler Perlu Tahu, Tips Memotret Satwa
Traveler Perlu Tahu, Tips Memotret Satwa
Jakarta -

Indonesia Animal Photography and Video Competition (IAPVC) 2026 digeber sejak Sabtu (8/8/2026). Juri ajang itu membagikan tips memotret satwa di sana.

IAPVC menjadi ajang bagi pencinta fotografi dan videografi untuk mengabadikan berbagai momen menarik satwa. Dalam memotret maupun merekam satwa, kemampuan menggunakan kamera bukan satu-satunya hal yang menentukan hasil.

Ada sejumlah hal yang perlu diperhatikan agar momen yang ditangkap tidak sekadar menjadi foto atau video biasa. Juri IAPVC 2026, Alfin Tofler, dan Chief Marketing Officer Taman Safari Indonesia Group, Alexander Zulkarnain, membagikan sejumlah tips dan trik untuk mendapatkan foto dan video satwa yang lebih menarik.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tips Memotret Satwa

1. Pelajari Perilaku Satwa

Alfin mengatakan langkah pertama yang perlu dilakukan sebelum memotret satwa adalah mempelajari karakter dan perilakunya. Fotografer perlu mengetahui kapan satwa biasanya aktif sehingga bisa mendapatkan momen terbaik.

ADVERTISEMENT

"Pelajarin satwanya, tingkah perilakunya kayak gimana, mereka suka aktifnya tuh jam berapa. Karena kalau satwanya udah nggak aktif itu cuma dapat foto patung doang," ujar Alfin kepada detikTravel.

Dengan memahami kebiasaan satwa, fotografer juga bisa lebih siap ketika momen yang ditunggu muncul. Sebab, momen terbaik dalam fotografi satwa bisa berlangsung sangat singkat.

2. Siapkan Peralatan yang Sesuai

Selain memahami satwa, kesiapan peralatan juga tidak kalah penting. Peralatan yang sesuai akan membantu fotografer mengantisipasi pergerakan satwa dan menangkap momen dengan lebih cepat.

Namun, menurut Alexander, peralatan bukanlah faktor utama dalam menghasilkan karya yang menarik.

"Jangan selalu terpaku pada alatnya tapi harus punya acuan terhadap kreativitas ide dan konsepnya itu yang utama karena alat pasti jadi nomor dua," kata Alexander.

Artinya, kamera dan perlengkapan yang digunakan sebaiknya menjadi pendukung untuk mewujudkan ide. Kreativitas fotografer justru menjadi modal utama dalam menghasilkan karya yang berbeda.

3. Sabar Menunggu Momen

Alfin juga menekankan pentingnya kesabaran ketika memotret satwa. Tidak semua momen bisa langsung didapat hanya dengan mengarahkan kamera dan menekan tombol shutter.

"Foto satwa semua orang bisa tapi kan ya yang kita mau itu foto yang lebih lagi gitu jadi memang harus sabar nunggu momennya," kata dia.

Menurut Alfin, hasil foto satwa yang menarik merupakan perpaduan antara kesabaran, keberuntungan dan kejelian. Kesabaran dibutuhkan untuk menunggu gerakan satwa yang menghasilkan pose unik. Sementara itu, kejelian membantu fotografer menyadari ketika sebuah momen mulai terjadi.

Tidak bisa dimungkiri, keberuntungan menjadi faktor yang tidak selalu bisa direncanakan.

4. Jangan Berlebihan Saat Edit

Setelah mendapatkan foto, proses editing juga perlu dilakukan secara proporsional. Alfin menyarankan agar editing tidak berlebihan sehingga mengubah hasil tangkapan asli.

"Kalau udah ngambilnya udah bener, editingnya harusnya nggak butuh banyak. Paling cuma naikin kontras misalkan mau ada seleksi seleksi simpel-simpel bikin vinyet dan lain-lain itu masih kita terima, masih aman yang penting nggak ngubah yang penting tadi," kata Alfin.

Karena itu, kemampuan mengambil gambar dengan tepat sejak awal tetap menjadi hal utama. Editing sebaiknya digunakan untuk menyempurnakan foto, bukan mengganti momen yang sudah ditangkap.

5. Utamakan Orisinalitas dalam Video

Sementara untuk videografi satwa, Alexander menyoroti pentingnya orisinalitas. Video yang dibuat tidak hanya perlu terlihat indah tetapi juga mampu menunjukkan momen penting dari satwa yang direkam.

"Video yang organik ya video yang estetis perlu, beauty perlu tapi punya orisinalitas. Orisinalitasnya itu artinya benar-benar bisa meng-capture momen-momen penting dari satwa tersebut," ujar Alexander.

Testimoni para Pemenang

Sementara itu, dalam rangkaian roadshow tersebut, peserta mengikuti photo hunting untuk berburu momen satwa, kemudian mengumpulkan karya untuk dinilai oleh para juri. Penilaian dilakukan oleh tiga juri yakni Alfin Tofler, Didi Kasim, dan Martha Suherman.

Dari 10 karya yang masuk dalam Top 10, akhirnya dipilih tiga pemenang, yakni Ares Jonekson sebagai juara pertama, Try Sugiarto sebagai runner-up, dan Risca Fizria sebagai juara ketiga.

Dua fotografer profesional yang berhasil meraih posisi kedua dan ketiga itu kemudian berbagi cerita mengenai proses di balik foto mereka.

Try menempati urutan kedua dengan potret keluarga siamang. Foto tersebut ternyata lahir dari momen yang tidak sepenuhnya direncanakan. Try awalnya hanya melihat seekor anak siamang bersama induknya. Namun setelah menunggu cukup lama, seekor siamang jantan tiba-tiba masuk ke dalam frame.

"Pertama cuman ada anak sama ibunya, tiba-tiba pas lagi pengen diambil ada bapaknya ikut di dalam frame. Nah anaknya kayak langsung kayak mau main sama bapaknya gitu. Jadinya capture itu," ujar Try.

Dia mengaku harus menunggu sekitar 20 hingga 30 menit untuk mendapatkan momen tersebut. Kesabaran itu akhirnya terbayar ketika ketiga siamang berada dalam satu frame dengan interaksi yang menarik.

"Bener-bener hoki juga sih karena nungguin lama 20 menit atau setengah jam," kata dia.

Bagi Try, momen seperti itu menjadi salah satu tantangan sekaligus keseruan dalam fotografi satwa. Fotografer tidak bisa mengatur kapan satwa akan bergerak atau berinteraksi sehingga kesempatan untuk mendapatkan foto yang unik bisa muncul secara tiba-tiba.

Pengalaman serupa juga dirasakan Risca. Dia memilih mengabadikan kanguru pohon yang membutuhkan waktu cukup lama untuk mendapatkan momen yang diinginkan.

Risca tidak hanya menunggu satwa tersebut bergerak. Dia juga memotret banyak momen lain selama menanti sehingga memiliki stok foto untuk dipilih.

"Saya nunggu lumayan lama sampe hewan itu makan, sempet memotret banyak foto," kata Risca.

Kesabaran menjadi bagian penting dari proses tersebut. Sebab, momen terbaik tidak selalu muncul ketika fotografer sudah siap menekan tombol kamera. Mata Satwa Jadi Kunci Try dan Risca sama-sama mengakui bahwa memotret satwa bukan hal yang mudah.

Selain membutuhkan peralatan dan kemampuan teknis, fotografer harus memiliki kesabaran serta ketelitian untuk membaca gerak-gerik satwa.

Menurut Risca, keberuntungan juga menjadi faktor yang tidak bisa diabaikan. Sebab, fotografer bisa saja sudah menunggu cukup lama tetapi momen yang diharapkan tidak kunjung muncul.

Sebaliknya, momen menarik dapat terjadi secara spontan dan hanya berlangsung singkat. Namun, keberuntungan saja tidak cukup. Ketika sudah menemukan objek yang tepat, fotografer tetap harus mengingat tema yang ditentukan dalam kompetisi.

Pada roadshow IAPVC 2026 di TSI Bogor, tema yang diangkat adalah "Mata yang Berbicara". Karena itu, fotografer perlu memusatkan perhatian pada mata satwa sekaligus berusaha menangkap ekspresi yang dapat menyampaikan cerita. Bagi para fotografer, tantangannya bukan sekadar mendapatkan foto satwa yang bagus. Mereka harus menemukan sudut pandang yang mampu membuat hasil jepretan terasa berbeda dari karya kebanyakan peserta.

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads