Perdebatan tentang kereta cepat Whoosh nyaris selalu berhenti pada satu pertanyaan: apakah proyek ini menghasilkan keuntungan. Namun sejumlah pelaku industri menilai pertanyaan itu terlalu sempit untuk mengukur dampak sebenarnya bagi Indonesia.
Salah satu pandangan datang dari sektor perhotelan. CEO Archipelago Hotels John Flood, berpendapat bahwa menilai Whoosh semata dari penjualan tiket berisiko mengaburkan nilai ekonomi yang jauh lebih besar di sekitarnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Whoosh mungkin tidak pernah menghasilkan keuntungan jika hanya dinilai sebagai perusahaan kereta. Namun itu tidak otomatis berarti Indonesia mengalami kerugian," ujar John Flood.
Argumen ini menantang cara umum publik membaca proyek infrastruktur besar. Setiap penumpang Whoosh, menurut pandangan ini, mewakili nilai yang lebih besar daripada harga tiket yang mereka bayar.
Penumpang itu bisa menginap di hotel, menghadiri rapat bisnis, makan di restoran, berbelanja di Bandung, atau bahkan mempertimbangkan investasi baru. Pendapatan itu nyata, tetapi mengalir ke pihak lain, bukan ke operator kereta.
Pelajaran dari China
Sebagai rujukan, China membangun jaringan kereta cepat terbesar di dunia, tetapi banyak jalurnya tidak menguntungkan jika hanya diukur dari kemampuan mengembalikan biaya pembangunan.
Hanya jalur tersibuk yang menghubungkan pusat populasi besar yang konsisten menghasilkan laba. Jalur lain tetap beroperasi karena kontribusinya terhadap mobilitas, pariwisata, dan integrasi ekonomi daerah.
Sebagai tolak ukur, angka sekitar 15 juta perjalanan per tahun kerap disebut penting untuk jenis proyek kereta cepat tertentu. Whoosh masih di bawah itu. Layanan kereta cepat ini melayani sekitar 6,06 juta penumpang pada 2024 dan 6,2 juta pada 2025, atau rata-rata sekitar 17.000 penumpang per hari.
Untuk mencapai 15 juta perjalanan setahun, dibutuhkan sekitar 41.000 penumpang per hari. "Indonesia tidak dapat sekadar berharap pertumbuhan penumpang pada akhirnya menyelesaikan seluruh persoalan keuangan. Namun kita juga tidak seharusnya langsung menyimpulkan bahwa Whoosh adalah investasi yang gagal," kata John Flood.
Perjalanan yang Sebelumnya Tak Pernah Terjadi
Salah satu manfaat terpenting transportasi cepat adalah terciptanya perjalanan baru. Ketika sebuah perjalanan menjadi lebih mudah, orang tidak hanya berpindah dari mobil atau bus. Mereka melakukan perjalanan yang sebelumnya tidak terpikirkan.
Warga Jakarta bisa memutuskan berakhir pekan di Bandung. Perusahaan dapat menggelar rapat manajemen di Jawa Barat. Wisatawan internasional yang menginap di Jakarta dapat menambahkan Bandung ke rencana perjalanan mereka.
Di titik inilah manfaat ekonomi yang lebih luas mulai tercipta. Bagi industri perhotelan, peluang ini datang bersama risiko. Bandung telah menjadi salah satu destinasi domestik terkuat di Indonesia dengan kekuatan kuliner, belanja, industri kreatif, dan alam.
Konektivitas yang lebih cepat membuka akses lebih mudah ke salah satu pasar perkotaan terbesar di Asia Tenggara.
Namun perjalanan yang lebih cepat juga dapat mengubah kunjungan menginap menjadi perjalanan satu hari. Lebih banyak pengunjung tidak otomatis berarti lebih banyak malam kamar hotel.
Hotel dan pelaku pariwisata harus menciptakan alasan agar wisatawan tinggal lebih lama dan membelanjakan lebih banyak melalui paket kereta dan hotel, wisata kuliner, konser, pernikahan, kebugaran, hingga paket rapat perusahaan.
Koneksi Terakhir yang Menentukan
Persoalan lain ada pada koneksi terakhir. Meski disebut kereta cepat Jakarta-Bandung, jalurnya tidak membawa setiap penumpang langsung ke pusat Kota Bandung. Banyak penumpang berpindah di Padalarang ke kereta pengumpan, sebagian lain melanjutkan lewat jalan raya dari Tegalluar.
"Kereta dapat menempuh bagian utama perjalanan dalam 30 atau 40 menit, tetapi bila penumpang kehilangan satu jam lagi untuk menunggu, berpindah moda, atau menghadapi kemacetan, sebagian besar manfaat itu akan hilang," ujar John Flood.
Ia menilai Whoosh harus dikelola sebagai koridor pariwisata dan ekonomi yang terintegrasi, bukan jalur kereta yang berdiri sendiri.
Siapa yang Menerima Manfaat
Di sinilah letak persoalan strukturalnya. Perusahaan kereta menanggung biaya pembangunan dan utang, sementara banyak manfaat finansial mengalir ke pihak lain. Pemilik tanah menikmati kenaikan nilai properti, pengembang membangun proyek baru, hotel dan restoran menerima pelanggan, pemerintah daerah memperoleh pajak, dan masyarakat menghemat waktu.
Karena itu, Indonesia sebaiknya mengevaluasi Whoosh melalui dua laporan yang transparan. Laporan pertama mengukur kinerja keuangan konvensional seperti pendapatan, biaya operasional, utang, dan pemeliharaan.
Laporan kedua mengukur manfaat ekonomi nasional seperti belanja wisatawan, malam kamar hotel, lapangan kerja, investasi, nilai tanah, penerimaan pajak, dan penghematan waktu. Manfaat ekonomi yang luas tidak boleh dipakai menutupi pengelolaan keuangan yang buruk atau pembengkakan biaya. Namun kerugian finansial juga tidak adil dinilai tanpa memperhitungkan nilai terukur yang tercipta di tempat lain.
Pertanyaan yang Lebih Tepat
Menanyakan apakah Whoosh menghasilkan keuntungan adalah hal yang wajar. Indonesia perlu memahami beban keuangannya dan melindungi perusahaan milik negara.
Tetapi itu tidak boleh menjadi satu-satunya pertanyaan. Pertanyaan yang lebih penting adalah apakah Whoosh dapat menciptakan cukup banyak kegiatan pariwisata, bisnis, investasi, lapangan kerja, dan penerimaan pajak untuk membenarkan biayanya bagi negara.
"Indonesia harus berhenti menunggu penjualan tiket menjadi satu-satunya pembenaran proyek ini dan mulai secara aktif menangkap pendapatan yang diciptakan oleh Whoosh, tetapi tidak pernah diterimanya," tutup John Flood.
CEO Archipelago John Flood Foto: Archipelago |
---












































Komentar Terbanyak
Aturan Bagasi Baru Garuda Indonesia Diprotes
Whoosh Belum Bikin Untung dari Tiket, tapi Benarkah Indonesia Rugi?
Pemerintah Thailand Panggil Dubes Israel, Ingatkan Warganya untuk Jaga Perilaku