Solo bukan hanya dikenal sebagai kota budaya dan kuliner. Hadirnya Tahir Solo Museum kini menjadi salah satu ikon baru Kota Solo yang disiapkan untuk berkembang menjadi ruang belajar yang lebih luas bagi masyarakat, khususnya anak-anak.
Pengunjung museum ini akan diajak belajar mengenai perjalanan evolusi tiga masa, yakni masa lalu, masa kini, dan masa depan. Ketiga masa tersebut dipadukan dengan sains, teknologi, astronomi, hingga budaya.
Gagasan tersebut berkaitan dengan keinginan pendiri museum, Tahir, yang ingin memberikan sesuatu bagi Kota Solo. Ibunda Dato Sri Tahir memiliki kedekatan emosional dengan Kota Solo karena lahir dan menghabiskan masa mudanya di kota ini. Operational Manager Tahir Solo Museum, Darryl Yusuf, membeberkan alasan pembangunan museum ini sebagai salah satu bentuk kecintaan Ibunda Tahir terhadap Kota Solo dengan memberikan sesuatu bagi masyarakat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pak Tahir sendiri itu orang tuanya, ibunya itu dari Solo. Jadi beliau pengen memberikan sesuatu lah untuk masyarakat Kota Solo, yaitu bikin museum yang paling bagus," kata Darryl Yusuf ketika dijumpai detikTravel.
Konsep museum kemudian dikembangkan bersama kurator dan sejumlah vendor. Salah satu kurator Tahir Solo Museum adalah Sarah Law yang berperan menangani konsep museum.
Saat ini, bangunan yang beroperasi baru bagian awal dari rencana besar Tahir Museum. Masih ada pembangunan tahap berikutnya yang nantinya akan menambah ruang pamer dan fasilitas lainnya.
Operational Manager Tahir Solo Museum, Darryl Yusuf, mengatakan rencana pengembangannya cukup besar. Nantinya, museum akan memiliki lima bangunan. Pada tahap berikutnya juga direncanakan ada area yang berisi sejarah presiden, auditorium, hingga bioskop IMAX.
Untuk fase kedua, pembangunan ditargetkan akan berlanjut pada 2027. Sementara itu, aset bangunan tahap pertama telah diserahkan kepada Pemerintah Kota Solo, meski operasionalnya saat ini masih ditangani oleh Tahir Foundation di bawah PT Teknologi Seni Museum.
Dari sisi konsep, museum ini membawa pengunjung seolah sedang melakukan perjalanan dari masa lalu menuju masa depan. Traveler diajak mengenal planet dan dunia melalui planetarium, kemudian melihat kehidupan masa lalu melalui dinosaurus.
Salah satu pengunjung Tahir Solo Museum, Mauli, menceritakan pengalaman yang paling menarik adalah ketika anak-anak antusias banget dengan dinosaurus. Tak hanya itu, keberadaan astronot dan planet-planet juga bikin anak-anak antusias. Setelah itu, perjalanan berlanjut ke dunia masa kini dan teknologi. Di museum terdapat antara lain replika teleskop Hubble dan Tiangong.
Sementara untuk masa depan, terdapat area STEM yang dirancang agar anak-anak bisa belajar tentang robot, drone, teknologi dan sains. Konsep interaktif tersebut menjadi salah satu pembeda Tahir Solo Museum. Edukator enggak cuma jadi penjaga koleksi, tetapi juga standby untuk memandu dan menjelaskan berbagai informasi terkait koleksi di museum kepada traveler.
"Sekarang di museum cuman ada audio, dengerin. Kalau kita ada interaktifnya karena kita punya banyak anak-anak yang mungkin mereka nggak mau dengerin (audio), kalau cuma sekadar kayak gitu kan boring. Harus ada human-nya," kata Darryl.
Antusiasme pengunjung pun terbilang tinggi. Darryl selaku Operational Manager Tahir Solo Museum menceritakan bahwa pada hari biasa, jumlah pengunjung museum sekitar 1.000 orang per hari. Saat weekend, jumlah pengunjung bisa mencapai sekitar 5.000 orang. Menariknya, tidak sedikit pengunjung yang datang lebih dari sekali.
Pihak museum menyebut ada pengunjung yang kembali hingga dua atau tiga kali karena tertarik dengan pengalaman yang dirasakan di museum. Ke depan, museum ini ingin melangkah lebih jauh. Bukan cuma menjadi tempat untuk datang, berkeliling, lalu pulang, tetapi juga menjadi ruang belajar yang bisa digunakan untuk berbagai kegiatan anak.
"Harapan saya ya ini bisa jadi sebenarnya museum itu kan kayak sekolah dengan banyak hal yang bisa dilakukan," tambah Darryl.
Ia membayangkan nantinya anak-anak dapat mengikuti berbagai kegiatan yang berkaitan dengan sains, teknologi, budaya, hingga sejarah.
Bahkan, pembelajaran tentang bagaimana menggali fosil juga diharapkan bisa dikembangkan untuk diceritakan kepada pengunjung. Sekarang Tahir Solo Museum baru menunjukkan apa yang sudah dimilikinya, ke depan museum ini ingin punya lebih banyak alasan untuk didatangi lagi.
Bukan cuma sekali untuk melihat dinosaurus, tetapi berkali-kali karena selalu ada hal baru untuk dipelajari.











































Komentar Terbanyak
Jembatan Cirahong Bersolek, Cagar Budaya Peninggalan 1893 Kembali Dipercantik
Amerika Serikat Tangguhkan Pengajuan Visa Imigran di Seluruh Dunia
Wisatawan Jepang Jadi Wisatawan Paling Sopan di Dunia, AS Paling Royal