Ternyata ada cara seru untuk menikmati pagi di sekitar Museum Kebangkitan Nasional (Muskitnas), Jakarta. Lewat kegiatan Jalan Pagi Berkebaya dalam Community Day 2026, puluhan peserta diajak keliling kawasan Kwitang sambil mengenakan kebaya dan belajar sejarah dari tempat-tempat yang mereka lewati.
Kegiatan yang dipandu komunitas Batik Widuri ini diikuti 25 peserta yang terbagi dalam dua sesi. detikTravel berkesempatan mengikuti sesi pertama yang diikuti 14 peserta, dengan rute berjalan kaki sejauh sekitar 2,1 kilometer.
Sebelum jalan, peserta lebih dulu memilih kebaya yang sudah disediakan. Pilihannya cukup beragam, mulai dari warna hingga motif, yang kemudian dipadukan dengan kain sebagai bawahan.
Setelah semua siap berkebaya, rombongan berangkat dari Muskitnas menuju kawasan Kwitang. Jalan pagi kali ini bukan sekadar jalan santai sambil ngobrol, sebab di sepanjang perjalanan peserta juga mendapat cerita mengenai sejarah tempat-tempat yang mereka kunjungi.
Sulthan, seorang tour guide profesional, memandu perjalanan yang berlangsung sekitar dua jam. Sambil berjalan, ia menjelaskan sejumlah bangunan dan tempat bersejarah yang dilewati rombongan.
Salah satunya GKI Kwitang. Di depan bangunan tersebut, peserta berhenti sejenak untuk mendengarkan cerita sejarah sekaligus melihat langsung bangunan yang berada di kawasan Kwitang itu.
Perjalanan kemudian berlanjut melewati Toko Buku Gunung Mulia, Sinpo TV, hingga Toko Buku Restu. Nah, di Toko Buku Restu inilah suasananya mendadak jadi spot foto dadakan.
Peserta ramai-ramai mengabadikan momen dengan latar buku dan majalah masa lampau. Kebaya yang dikenakan pun terasa nyambung dengan suasana vintage di tempat tersebut, sehingga sesi foto menjadi salah satu momen yang paling ramai. Bukan cuma foto, peserta juga bisa saling berkenalan selama perjalanan.
Karena pesertanya berasal dari kalangan umum, jalan pagi ini sekaligus menjadi kesempatan bertemu orang baru sambil berbagi cerita selama menikmati rute.
Salah satu peserta, Arsyi, mengaku awalnya mengetahui kegiatan tersebut dari media sosial Instagram. Ia kemudian tertarik mendaftar karena melihat konsep acaranya cukup menarik.
"Pertama, liat di Instagram lewat di beranda. Terus kayak, liat ini kayak menarik. Terus aku daftar, coba daftar. Terus yaudah aku daftar, masih dapet slotnya," kata Arsyi kepada detikTravel, Sabtu (19/9/2026).
Menurutnya, pengalaman mengikuti jalan pagi berkebaya ternyata sesuai dengan ekspektasinya. Ia juga tak menyangka kegiatan jalan-jalan tersebut sekaligus dibarengi dengan penjelasan sejarah.
"Rasanya seru sih soalnya pake kebaya kan. Terus juga dijelasin, walaupun kayak, ini sejarah ya ternyata. Kita ini kan jalan-jalan aja ya, ternyata ada penjelasannya juga. Jadi seru," kata Arsyi.
Peserta lainnya, Sabila, juga merasakan hal yang sama. Bahkan, menurutnya, pakaian kebaya bikin rombongan jadi lebih mudah menarik perhatian orang-orang yang ditemui selama perjalanan.
"Seru banget sih, apalagi tadi pake kebaya yang bikin jadi perhatian orang-orang ke kita," kata Sabila.
Selain tampil beda, Sabila juga menikmati cerita sejarah yang disampaikan Sulthan sepanjang perjalanan. Dari beberapa tempat yang dikunjungi, kawasan Kwitang menjadi bagian yang paling berkesan baginya.
"Kwitang sih karena fotonya juga lucu dan ceritanya juga bagus," kata dia.
Dari kawasan Senen, rombongan kemudian menepi di Kopi Jurnal Risa sebelum melanjutkan perjalanan. Peserta lalu menyeberang melalui JPO Gigi Belalang dan menyusuri Jalan Kwini hingga akhirnya kembali masuk ke area Muskitnas. Jalan pagi pun selesai setelah sekitar dua jam berkeliling.
Keseruan kegiatan ini membuat mereka membawa cerita baru dari sudut-sudut kota yang mungkin selama ini cuma dilewati begitu saja.
(fem/fem)