Bos pengelola Menara Eiffel berencana mengundurkan diri dari jabatannya. Keputusan itu diambil buntut dari polemik yang mengecualikan staf perempuan saat ada kunjungan rombongan keagamaan Hindu ke destinasi wisata tersebut.
Adalah Direktur Jenderal Societe d'Exploitation de la tour Eiffel (SETE), Patrick Branco Ruivo, yang akan meninggalkan jabatannya setelah menerima pengumuman dari investigasi yang dilakukan perusahaan independen. Investigasi mengungkapkan sejumlah masalah operasional dalam penyelenggaraan kunjungan rombongan pada 5 September.
Kunjungan itu melibatkan rombongan dari Bochasanwasi Shri Akshar Purushottam Swaminarayan Sanstha (BAPS). Kelompok tersebut berada di Paris dalam rangka perayaan pembukaan sebuah kuil Hindu tradisional di dekat ibu kota Prancis.
Selama kunjungan berlangsung, staf perempuan di Menara Eiffel diminta tidak berada di sejumlah area yang dilewati rombongan.
Sejumlah staf perempuan juga disebut meninggalkan posnya dan digantikan oleh staf laki-laki. Polemik itu kemudian berlanjut pada operasional Menara Eiffel. Para staf memilih mogok pada 7 September sebagai bentuk protes.
Keputusan itu mengakibatkan ikon wisata di Paris sempat ditutup untuk pengunjung.
Kelompok BAPS merupakan organisasi keagamaan dan sipil sedunia yang bersekte Swaminarayan, sebuah cabang dari agama Hindu. Mereka mengikuti perayaan untuk menandai peresmian sebuah kuil Hindu tradisional di Paris.
Usai polemik tersebut, SETE menyatakan akan menyiapkan sejumlah langkah baru, termasuk program pelatihan yang berkaitan dengan kesetaraan gender.
Ketua Societe d'Exploitation de la tour Eiffel (SETE), Ariel Weil mengatakan pada hari Selasa (29/9) agar langkah-langkah dan program pelatihan yang mempromosikan kesetaraan gender mulai diimplementasikan, seperti dikutip dari abcNews pada Rabu (30/9/2026).
Menara Eiffel merupakan salah satu ikon wisata utama Paris. Menara setinggi sekitar 330 meter itu disebut dikunjungi sekitar 7 juta orang setiap tahunnya.
(fem/fem)