Kewalahan Hadapi Panas Ekstrem, Menara Eiffel dan Museum Louvre Batasi Operasional

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Kewalahan Hadapi Panas Ekstrem, Menara Eiffel dan Museum Louvre Batasi Operasional

Femi Diah - detikTravel
Sabtu, 27 Jun 2026 17:17 WIB
A person wearing a hat and holding a hand fan walks on the Pont des Arts bridge over the River Seine in Paris as temperatures rise during a heatwave affecting a large part of France, June 22, 2026. REUTERS/Alice Sacco
Warga Prancis kewalahan menghadapi panas ekstrem. (Alice Sacco/Reuters)
Paris -

Paris tak berdaya menghadapi gelombang panas ekstrem. Dua ikon wisata dunia, Menara Eiffel dan Museum Louvre, memangkas jam operasional.

Langkah itu dilakukan untuk melindungi pengunjung dari suhu ekstrem. Pemerintah setempat mencatat hari terpanas dalam sejarah negara itu pada Selasa (23/6/2026). Saat itu, rata-rata suhu nasional mencapai 29,8 derajat Celsius, melampaui rekor sebelumnya yang terjadi pada 2003 dan 2019.

Dampak cuaca ekstrem paling terasa di sektor pariwisata. Menara Eiffel di Paris ditutup lebih awal dari biasanya, sedangkan Museum Louvre mengumumkan untuk menutup operasional dua jam lebih cepat sejak Rabu hingga Sabtu demi menjaga keselamatan pengunjung dan staf.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Museum Louvre menjelaskan bahwa bangunan bersejarah tersebut belum sepenuhnya siap menghadapi suhu ekstrem.

"Meskipun sebagian bangunan bersejarah kami secara alami cukup tahan terhadap kondisi cuaca, museum ini tetap rentan dan belum sepenuhnya siap menghadapi perubahan iklim. Penumpukan panas paling tinggi terjadi menjelang akhir hari dan semakin diperparah oleh tingginya jumlah pengunjung," kata pejabat Museum Louvre, dikutip dari AP, Sabtu (27/6).

ADVERTISEMENT

Di berbagai lokasi wisata, wisatawan terlihat menggunakan payung, topi, dan mencari tempat teduh untuk menghindari paparan sinar matahari. Banyak warga Paris juga memilih berendam di Canal Saint-Martin sebagai cara untuk menyejukkan diri di tengah suhu yang terus meningkat.

Seorang pekerja atap di Paris, Gin Dujardin, menggambarkan betapa ekstremnya kondisi cuaca saat ini.

"Ini jadi hari yang berat, sangat berat, karena lapisan sengnya menjadi sangat panas. Lasnya tidak bisa merekat. Suhunya seperti di Dubai. Mustahil untuk bekerja," kata Gin.

Badan meteorologi Prancis, Meteo-France, menyatakan bahwa gelombang panas telah mencapai apa yang disebut sebagai fase paling parah, yakni fase ketika suhu tetap sangat tinggi baik siang maupun malam. Lembaga itu juga memperingatkan adanya potensi suhu bisa lebih tinggi lagi beberapa hari ke depan.

"Suhu yang memecahkan rekor diperkirakan masih akan terus terjadi. Bahkan, beberapa di antaranya berpotensi melampaui seluruh rekor suhu yang pernah tercatat, tanpa memandang waktu dalam setahun," kata Meteo-France.

Gelombang panas juga menerpa negara-negara Eropa lainnya. Di Inggris, sejumlah sekolah ditutup lebih awal dan layanan kereta dikurangi karena suhu tinggi. Sementara itu, di Spanyol suhu diperkirakan mencapai 44 derajat Celsius di wilayah Andalusia, disertai peringatan cuaca ekstrem di beberapa daerah lainnya.

Para ilmuwan menyebut perubahan iklim akibat aktivitas manusia sebagai penyebab meningkatnya frekuensi dan intensitas gelombang panas di Eropa. Menurut Copernicus Climate Change Service, Eropa merupakan benua yang mengalami pemanasan paling cepat di dunia, dengan kenaikan suhu sekitar dua kali rata-rata global sejak 1980-an.



(fem/fem)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads