Gedung tua itu berdiri anggun ketika saya tiba di Desa Linggasena, Kabupaten Kuningan, bersama rombongan dari Departemen Akuntansi FEUI, minggu lalu. Kendaraan umum Cirebon-Kuningan, disambung dengan ojek, angkutan desa atau delman, siap mengantar traveler ke sini.
Linggasena adalah desa yang menjadi pintu jalur pendakian ke Gunung Ciremai. Gunung tertinggi di Jawa Barat ini menjulang di belakang museum dan menyambut kami datang.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sirnalah sebuah ketakutan saya, kalau tempat ini akan sepi seperti kebanyakan museum sejarah di kota lain. Siang itu, banyak pengunjung datang ke tempat yang dahulu bernama Hotel Rustrood ini. Pada 10-13 November 1946 silam, Hotel Rustrood ikut menentukan nasib republik.
Wisatawan tidak masuk ke Gedung Perjanjian Linggarjati dari halaman depannya yang luas, melainkan dari gerbang samping yang berhadapan langsung dengan tempat parkir wisatawan. Sebuah ruangan 3x3 meter di gedung tersebut, menjadi tempat masuk dengan tiket Rp 10.000 saja.
Tanpa basa-basi, traveler langsung digiring ke ruang utama. Menakjubkan, nasib bangsa ditentukan lewat ruangan seukuran lapangan bulu tangkis saja.
Sebuah miniatur dalam kaca menunjukan posisi duduk para macan diplomasi Indonesia saat itu, 'melawan' para juru runding Belanda. Tidak salah, di gedung ini, perang mempertahankan kemerdekaan dilakukan lewat adu kata-kata.
Perdana menteri saat itu, Sutan Sjahrir, memimpin 3 anggota delegasi, yaitu Mr Soesanto Tirtoprodjo, Dr AK Gani dan Mr Muhammad Roem. Delegasi Belanda dipimpin Prof Ir Schermerhorn, yang juga membawa 3 delegasi, salah satunya Dr Van Mook yang sukses membelah-belah Indonesia dengan garis perbatasannya.
Ruangan itu tidak berubah sama sekali. Pemandu wisata dengan pengeras suara, mengulang presentasi setiap sekitar 10 menit, selama para wisatawan berkeliling ruangan. Kusentuh meja Sjahrir, meja kayu jati tua. Ingin kurasakan energi yang meluap-luap dari para tokoh bangsa ini mempertaruhkan nasib Indonesia.
Tapi Linggarjati punya lebih dari itu. Ada banyak kamar yang dipakai delegasi untuk tidur. Saya penasaran dengan kamar Sjahrir dan rekan-rekannya. Sebuah ruangan 3x4 meter dengan dua tempat tidur.
Kasur kapuknya agak keras waktu saya sentuh. Tak terbayangkan, Sjahrir dan teman-temannya tidur larut malam demi membahas strategi mereka di kamar ini. Penyegar mereka adalah sebuah wastafel di sudut ruangan untuk membasuh muka.
Ada dua foto tua yang menarik hati. Foto para wartawan asing duduk di setiap undakan tangga dengan mesin ketik yang membuat para pengunjung tersenyum. Serta terjemahan bahasa Inggris yang buruk, "President Soekarno talking-talking with Schemerhorn." 'Bincang-bincang' adalah maksud terjemahan itu.
Presiden Soekarno memang hadir dalam perundingan ini. Tapi dia tidak ikut dalam perundingan. Dia duduk di ruang lain, berbincang dengan Lord Killearn, mediator dari Pemerintah Inggris. Sebuah poster dari Soekarno membuat tenggorokan saya tercekat.
"Samboetlah naskah persetoedjoean dengan tenang. Pro atau contra tetap bersatoe! Hindarkanlah perang-saudara!" pesan Soekarno di poster itu.
Ya ampun! Soekarno sejak dulu sudah tahu mental bangsanya yang kerap berkelahi gara-gara perbedaan pendapat. Perundingan Linggarjati memang disambut dengan protes bangsa sendiri saat itu. Bagaimana tidak, Republik Indonesia hanya diakui Jawa, Madura dan Sumatera. Itupun hanya menjadi satu negara bagian di dalam Republik Indonesia Serikat (RIS).
Tapi harga sebuah pengakuan sangatlah mahal, dan itu yang diperjuangkan lebih dulu oleh Sjahrir dkk. Pahit memang, makanya Soekarno meminta mereka yang pro dan kontra tetap bersatu.
Saya melangkah malu keluar dari ruangan itu. Andai Soekarno tahu, bangsa ini masih terus berkelahi cuma gara-gara pemilihan kepala daerah sampai urusan Lady Gaga. Pesan Soekarno rasanya seperti tamparan di pipi.
Pohon bougenville yang indah menyambut kami di pintu keluar. Sebuah taman yang ramai dengan anak-anak berlarian. Anak-anak yang kini menikmati Indonesia yang diperjuangkan kakek-nenek mereka. Indonesia yang berulang tahun bulan Agustus nanti. Saya menghela nafas panjang.
(shf/fay)












































Komentar Terbanyak
Bule yang Ngamuk Dengar Warga Tadarusan di Gili Trawangan Ternyata Overstay
Viral 'Tembok Ratapan Solo', Politisi PSI: Bukti Jokowi Dicintai
Bandara Mencekam, Penumpang Panik-Ketakutan Saat Bos Kartel Tewas