Menjelajah Gili Trawangan dengan Si Roda Dua

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Menjelajah Gili Trawangan dengan Si Roda Dua

- detikTravel
Kamis, 05 Jul 2012 12:00 WIB
Menjelajah Gili Trawangan dengan Si Roda Dua
Gili Trawangan - Di Pulau Gili Trawangan, Lombok, NTB, hanya ada sepeda dan kereta kuda cidomo, untuk berkeliling pulau. Pilih sepeda yang Anda suka, dan goweslah berkeliling pulau. Rasakan angin menerpa wajah di pulau cantik ini.

Gili Trawangan memang menjaga diri agar tetap cantik dan sehat. Salah satu cara menjaganya adalah dengan menolak keberadaan kendaraan bermotor. Alih-alih kebanjiran motor, pulau ini malah ramai dengan sepeda. Pilih saja, ingin bersepeda di sepanjang tepi pantai atau coba membelah pulau. Semua rute memiliki pesonanya sendiri.

Pagi itu saya bangun lebih cepat agar bisa segera menjelajah pulau dengan kendaraan kayuh roda dua. Karena tak memiliki sepeda, saya menyewa di dekat penginapan. Harga yang disepakati adalah Rp 40.000 per 24 jam. Dengan senyum lebar, saya menyambut pagi di Gili Trawangan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Gowesan pertama saya membawa sepeda ke depan pantai. Tak secepat sebelumnya, roda sepeda mandek di depan pasir lembut berwarna putih. Dibanding lelah mengayuh, saya memilih jalan bergandengan dengan sepeda. Tak rugi sama sekali, kaki yang dibiarkan telanjang ini terbuai dengan pasir lembut khas pantai.

Kencan saya bersama sepeda berakhir sudah, di ujung sana kembali tersaji jalan yang lebih rata dan menjejak. Kembali mengayuh, saya dipeluk angin pantai yang masih segar karena sinar mentari belum terlalu perkasa. Bosan dengan pantai, saya iseng membelokkan sepeda ke tengah pulau.

Jalan setapak dengan tanah keras menyambut, pepohonan hijau menjadi pagar di kiri dan kanan jalan. Ternyata, kawasan pepohonan rindang ini tidak terlalu panjang. Selesai pemandangan hutan mini, hadirlah perumahan penduduk lokal. Beberapa rumah di sana merupakan rumah Suku Sasak. Sungguh pemandangan cantik di tengah pulau.

Saya melambatkan kayuh saat melintas di kawasan perumahan lokal yang dikelilingi pohon kelapa. Ingin rasanya ikut larut dalam kehidupan masyarakat setempat, meski hanya dalam hitungan menit. Anak-anak yang berlarian di antara pepohonan memeriahkan suasana dengan suara tawa mereka. Asap wangi masakan mengepul dari jendela dapur rumah. Sekilas, saya melihat potret kehidupan masyarakat yang sederhana dalam bingkai bahagia.

Selesai menikmati setitik 'rasa' asli Trawangan, saya kembali menggowes sepeda. Tak lama melaju bersama dua roda, sampailah saya di pelabuhan. Karena matahari sudah ada di atas kepala, perjalanan dengan sepeda berakhir di kafe teduh di dekat pelabuhan. Menyeruput minuman dingin sambil mengulang kembali apa yang baru saja dilalui. Hmmm, indah!


(shf/fay)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads