Saat traveling ke Papua, bersiaplah untuk dititipi koteka oleh teman-teman Anda. Koteka adalah pakaian khas pria Papua untuk menutupi alat kelamin mereka. Bentuknya yang unik dan hanya ditemukan di Papua, menjadikan koteka sebagai incaran banyak traveler.
Koteka memiliki bentuk yang panjang dan mengerucut di bagian atasnya. Dibilang unik karena inilah pakaian asli pria di Papua. Turis pun banyak yang mengincar koteka sebagai oleh-oleh.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Buah itu kemudian dibuang bagian dalamnya, dan dipanggang hingga kering. Barulah setelah kering koteka siap dipakai para pria Papua.
Pakaian khas ini ternyata memiliki banyak ukuran dan bentuk, tak hanya kerucut panjang. Ada juga yang pangkalnya membulat dan berbentuk seperti tabung, bahkan ada yang bergelombang seperti keris.
Usut boleh usut, ukuran dan bentuk disesuaikan dengan usia. Nah, untuk koteka yang berukuran paling besar dan berbentuk seperti tabung, hanya boleh dipakai oleh kepala suku.
Sekarang, koteka tidak hanya digunakan sebagai pakaian pria Papua, tetapi juga menjadi suvenir yang selalu diburu para traveler. Salah satu kawasan di Jayapura yang menjual koteka aneka jenis adalah Jl Ahmadi, Jayapura.
Di dalam kawasan Jl Ahmadi, Anda bisa menemukan banyak jejeran toko yang menjual aneka suvenir, termasuk koteka. Koteka yang dijual pun beraneka ragam, bentuk, ukuran dan motif. Ada koteka yang dijual sebagai gantungan, atau pajangan meja.
Biasanya, motif yang dipakai identik dengan alam, seperti daun, buaya, cendrawasih dan tifa. Soal warna, hanya 3 jenis warna yang diberikan untuk motif koteka, yaitu merah, putih dan hitam.
Mau tahu harganya? Harga jual koteka ini beragam, tergantung ukuran. Untuk ukuran kecil atau panjang sekitar 20 cm dijual dengan harga Rp 20.000. Nah, kalau ingin memiliki koteka sang kepala suku, Anda harus merogoh kocek agak dalam, karena harga jualnya bisa mencapai Rp 300.000.
(sst/sst)












































Komentar Terbanyak
Terkuak! WNA Punya Lahan di Proyek Akomodasi Wisata, Caranya Pinjam Identitas Warlok
Penundaan Massal di Bandara-bandara AS, Ada Apa?
Timur Tengah Memanas, Ribuan Penumpang Kapal Pesiar Gagal Berlayar