Tak pernah terbayangkan di pikiran saya, bisa menginjakkan kaki di bumi Borneo. Terlebih datang untuk melihat orangutan (Pongo pygmaeus) atau bekantan (Nasalis larvatus), hewan khas pulau ini.
Tapi ternyata kesempatan itu tiba, Rabu (11/7/2012) saya berangkat ke tanah Kalimantan Timur untuk bertamu ke rumah orangutan. Ini memang bukan kali pertama kaki saya menginjak Kaltim, tapi sorak sorai gembira hati saat membayangkan akan tiba di Kaltim tidak bisa ditutupi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Setelah tak sabar menunggu, akhirnya Rabu siang saya dan rombongan wartawan yang diundang Bridgestone terbang ke Balikpapan. Sekitar pukul 17.00 Wita, kami mendarat mulus di Bandar Udara Sepinggan Balikpapan, Kaltim.
Udara sejuk nan berangin menyambut kedatangan rombongan. Saat itu matahari tampak malu-malu menunjukkan wajahnya, ia biarkan awan menutupi dan mengiringi keberangkatan kami menuju lokasi orangutan di Samboja.
"Kita akan ke Samboja ya, sekitar 35 km dari Balikpapan, ya sekitar 1 jam lah," kata pemandu yang menyambut kedatangan kami, Wiyono.
Lokasi tujuan rombongan adalah Desa Samboja. Mungkin memang masih terdengar asing di telinga. Desa ini adalah salah satu tempat konservasi orangutan yang ada di Kaltim, dan dikelola langsung oleh Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF).
Pada awalnya saya berpikir Kaltim sangatlah panas dengan banyak bangunan rumah di sepanjang jalan. Ternyata salah, sepanjang jalan yang saya lihat hanyalah jejeran pohon rindang nan hijau.
Sesekali tampak laut yang ternyata letaknya tak jauh dari jalan. Perbukitan kecil yang hijau turut serta mengiringi perjalanan rombongan.
Sambil melewati jalan yang sudah licin diaspal rapi, dan pepohonan yang setia menemani, khayal ini terus tertuju ke Samboja. Membayangkan seperti apa rumah orangutan, bagaimana rupanya, dan selucu apakah tingkah primata ini.
Setelah kurang lebih satu jam perjalanan, tibalah kami di Samboja, lokasi rehabilitasi orangutan. Seorang bapak-bapak dengan kaos hijau menyambut rombongan. Penginapan asri yang terbuat dari kayu telah disediakan untuk kami bermalam. Cukup mewah untuk penginapan yang posisinya di tengah hutan.
Sejenak mata saya berkeliling, melihat sekitar. Tak ada penerangan sedikit pun, selain yang ada di penginapan. Semua tampak gelap, dengan sedikit bayang-bayang pohon dari cahaya lampu penginapan. Saya pun tersadar, di sinilah awal perjalanan bertamu ke rumah orangutan.
(sst/fay)












































Komentar Terbanyak
Bandara Mencekam, Penumpang Panik-Ketakutan Saat Bos Kartel Tewas
Masjid Jamkaran dan Bendera Merah Balas Dendam
Menhub Usulkan Masjid di Jalur Arus Lebaran Jadi Rest Area Pemudik