Ini adalah kisah perjalanan saya hari pertama di Desa Samboja, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. Dengan hati yang masih begitu antusias dan semangat karena tiba di penangkaran orangutan (Pongo pygmaeus), mata ini rasanya sulit terpejam. Padahal saat itu waktu telah menunjukkan pukul 21.00 Wita, Rabu (11/7/2012) dan rekan lain telah terlelap dengan nyenyaknya di kamar masing-masing.
Di tengah gelapnya malam dan heningnya hutan di Desa Samboja Lestari, mata ini terus memandang ke tengah rimbunnya pepohonan. Sesekali saya mendongakkan kepala ke atas, melihat ujung pohon. Entahlah apa yang saya cari, yang jelas melihat ke atas pohon yang beratapkan langit penuh bintang, terasa begitu tentram.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Orangutan yang ada di sini, kita masukkan sekolah dulu baru bisa dilepas ke habitat asal," kata Martin sambil menyalakan rokoknya.
Orangutan bersekolah? Rupanya saya tidak salah mendengar. "Iya dong, orangutan di sini kan direhabilitasi, jadi disekolahkan juga. Jangan salah, orangutan juga suka kabur-kaburan saat sekolah, istilahnya cabut kalau di manusia, hahahaa," Martin tertawa begitu keras.
Usai menghembuskan asap rokok, Bang Martin menyahut lagi, "Iya dong, orangutan kan juga ada yang nakal. Jadi, saat mau mulai sekolah, mereka kabur, waah repot."
Menurut Bang Martin, orangutan itu ada yang bodoh dan ada yang pintar. Semakin bodoh, semakin lama dia bersekolah. "Kalau yang pintar paling cuma 4-6 tahun, tapi kalau yang bodoh ya bisa lama sampai 10 tahun," jelas Bang Martin.
Menurutnya, sekolah orangutan terbagi atas tiga tahap. Di hutan satu, orangutan diajarkan bagaimana memanjat pohon dan mengenal hutan. Naik ke hutan dua, orangutan mulai dilepas dan dikenalkan dengan alam. Di sini, mereka diajarkan bagaimana jika bertemu ular, mengenal buah-buahan hutan dan cara membuat sarang.
Naik tingkat ke hutan tiga, orangutan perlahan mulai dilepas, tidak lagi hidup di kandang. Selama 6 bulan dipantau secara tertutup. Jika dirasa sudah mampu untuk hidup sendiri, mereka dilepas ke hutan Kalimantan.
Percakapan malam itu terasa begitu seru dan menarik. Tanpa terasa malam semakin larut, jam di lengan kiri saya menunjukkan pukul 00.00 Wita, saatnya beristirahat karena pengalaman seru bertemu orangutan esok hari, telah menanti.
(ptr/fay)












































Komentar Terbanyak
Bandara Mencekam, Penumpang Panik-Ketakutan Saat Bos Kartel Tewas
Masjid Jamkaran dan Bendera Merah Balas Dendam
Tak Ada Ampun, Thailand Hapus Teguran bagi Pengemudi Mabuk