Tiap Jumat, para Pegawai Negeri Sipil (PNS) di Kabupaten Donggala mengenakan kain mirip batik. Inilah Tenun Donggala, atau yang biasa disebut Buya Sabe. Tenun ini merupakan salah satu bagian tradisi masyarakat Sulawesi Tengah. Cara pembuatan, corak dan warnanya tak ada yang melenceng dari kebiasaan lama.
Hal yang paling mencolok dari Buya Sabe adalah bahannya. Tak seperti kain lainnya, Buya Sabe menggunakan kain sutera! Sutera punya kelas yang lebih eksklusif dari jenis kain lainnya. Biasanya, sutera hanya dipakai oleh para aristokrat atau bangsawan. Tapi Anda tidak akan menemukan kesenjangan sosial seperti itu di Kabupaten Donggala.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di sini, rutinitas adalah harga mati. Begitu pintalan pertama berhasil teranyam, para wanita Donggala harus melanjutkan pekerjaan menenun selama berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan. Mereka meneruskan tradisi yang telah ada sejak 200 tahun silam.
Dari situs Teluk Palu yang dikunjungi detikTravel, Jumat (14/9/2012), dulu kain ini hanya boleh digunakan dalam upacara tertentu. Misalnya perkawinan, sunatan, dan beberapa upacara adat yang disakralkan masyarakat setempat. Kain ini juga digunakan saat menyambut tamu atau melayat kerabat yang meninggal dunia.
Sekarang, para PNS di Kabupaten Donggala senantiasa mengenakan Buya Sabe tiap hari Jumat. Motif kain ini mayoritas bunga seperti anyelir, mawar, dan kamboja. Orang tua cenderung mengenakan Buya Sabe berwarna tua, begitu pun sebaliknya.
Di Desa Towale, wisatawan bisa melihat proses pembuatan Buya Sabe serta langsung membelinya. Satu buah kain Buya Sabe dihargai sekitar Rp 600.000, panjangnya 4 meter. Untuk kain sutra yang merupakan ciri khas Donggala, tentunya harga ini sepadan!
(sst/fay)












































Komentar Terbanyak
Jokowi Klaim Tak Tahu Ada Ritual Injak Kepala Kerbau, PDIP Tidak Percaya
Provinsi Jawa Barat Mau Ganti Nama Jadi Sunda, Budayawan Cirebon Tanya Urgensinya Apa?
Kasihan! Tapir yang Viral di Lampung Disembelih Warga, Dimasak Jadi Rica-rica