Berkunjung ke Larantuka saat itu adalah kali pertama dalam kehidupan saya. Tak pernah terbayangkan sebelumnya bisa menggapai kota yang berada hampir di ujung Pulau Flores itu.
Hawa panas bercampur terik matahari serasa menampar wajah ini begitu pertama kali menapakkan kaki di bandar udaranya. Sesaat saya lemparkan pandangan mata ke sekeliling. Kontras dengan hawa panas yang seolah menggigit kulit, pemandangan hijau yang saya dapat justru begitu menyejukkan mata.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Belum habis menikmati hijaunya pepohonan di kanan jalan menuju pusat kota, saya tengokkan kepala ini ke arah kiri. Luar biasa! Kini dihadapan saya terbentang luas lautan biru yang dihiasi dengan perbukitan hijau dari pulau lain.
Sesekali tampak kapal laut asyik memecah ombak. Tak ketinggalan ada banyak perahu nelayan yang hilir mudik di atas lautan birunya.
Tak sabar ingin melihat bawah lautnya, saya pun berhenti sejenak di pelabuhan laut Larantuka. Mata ini langsung menengok ke dalam laut.
Sekali lagi, Larantuka membuat saya terpukau. Tak ada sampah sedikit pun di lautannya. Yang terlihat hanyalah terumbu karang dan ikan yang sibuk berenang dengan kawanannya.
Jika saya boleh mengibaratkan, mungkin tidak berlebihan menyebut Larantuka sebagai lukisan Tuhan yang hadir di kehidupan nyata. Betapa tidak, kota ini begitu cantik dibalut dengan lautan biru dan perbukitan hijau di pulau seberangnya.
Sungguh, datang ke kota ini benar-benar membuat saya terpesona. Alamnya begitu indah, lengkap dengan penduduknya yang ramah. Tak salah lagi, Tuhan menjatuhkan anugerahnya di Larantuka.
(ptr/ptr)












































Komentar Terbanyak
Bule yang Ngamuk Dengar Warga Tadarusan di Gili Trawangan Ternyata Overstay
Viral 'Tembok Ratapan Solo', Politisi PSI: Bukti Jokowi Dicintai
11 Bandara Papua Ditutup