"Hai, ini pasti ulah bangsamu," teriak seorang wartawati senior sebuah majalah terkenal Indonesia kepada saya. Saat itu kami menemukan bungkus permen kopi yang terkenal dari Indonesia, saat berjalan bersama di jalanan depan istana kekaisaran Jepang.
Dia lalu memungut bungkus permen tersebut dan membuangnya ke sebuah kotak sampah yang cukup jauh. Selanjutnya, sepanjang perjalanan kami menyusuri taman hingga halaman luar istana, memang hanya sampah plastik permen asal Indonesia itu saja yang dapat kami temui.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sesampai kami di kendaraan saat hendak pulang, wartawati itu mendapat pesan Blackberry dari redaksinya. Dia diminta mengamati apakah ada sampah yang tercecer di areal jalanan atau taman depan istana kaisar dan diminta memfotonya.
"Aduh, perintahnya terlambat. Lagipula tadi tidak sempat mengambil gambarnya," ujar wartawati itu dengan nada sesal.
Ya! Tokyo Imperial Palace adalah istana kediaman utama dari Kaisar Jepang. Di areal istana seluas 118 hektar dengan panjang keliling tembok luar mencapai hampir 7 km itu sangat terkenal kebersihannya.
Meskipun letaknya di pusat kota dan selalu ramai dikunjungi wisatawan maupun warga lokal yang melakukan aktivitas olah raga, namun kesadaran warga tentang kebersihan sudah mendarah daging. Mereka selalu menyimpan sampah untuk dibuang di tempat yang disediakan.
Istana tersebut terletak di kawasan Chiyoda, berdekatan dengan Tokyo Station. Dari halaman depan istana, kita akan dipandu menyaksikan bagaimana sebuah bangsa menghargai jejak kebudayaan dan peradaban. Kita akan menyaksikan bangunan masa lalu yang tetap kokoh berdiri dan terawat dengan baik, sedangkan di sekelilingnya bangunan-bangunan modern pencakar langit menjulang tinggi.
Istana ini dibangun sejak paruh kedua abad XVI. Lokasi yang dipilih adalah di sebuah delta sungai Ota, yang sangat strategis karena dekat dengan sarana transportasi di masa lalu. Pembangunan dan perluasan areal istana terus dilakukan dari waktu ke waktu dan abad ke abad. Bahkan hingga saat ini bebatuan yang dijadikan benteng istana, masih dipertahankan keasliannya.
Kondisi asri, bersih dan nyaman, bukan hanya terlihat di bagian atas. Sungai yang mengalir di bawah jembatan menuju gerbang istana, juga sangat jernih. Tidak terlihat ceceran apalagi onggokan sampah atau warna keruh air seperti yang biasa kita temui di sungai-sungai kita.
Petugas kebersihan memang selalu berkeliling di seluruh bagian taman istana tersebut, termasuk selalu memelototi. Petugas akan selalu siaga menjaga semua kemungkinan ada orang buang sampah di sembarang tempat, terutama wisatawan.
Rasa penasaran terus berada di benak, ingin rasanya melihat lagi ceceran sampah di depan istana kaisar untuk diabadikan dengan gambar. Tapi di kunjungan berikutnya, dengan lebih mempertajam pandangan namun ternyata benar-benar tak lagi ditemukan sampah, meskipun hanya plastik bungkus permen. Mungkin hari itu tidak ada wisatawan dari Indonesia yang datang berkunjung...
(mbr/fay)












































Komentar Terbanyak
Bule yang Ngamuk Dengar Warga Tadarusan di Gili Trawangan Ternyata Overstay
Viral 'Tembok Ratapan Solo', Politisi PSI: Bukti Jokowi Dicintai
Sejarah Tembok Ratapan yang Asli: Tempat Suci Umat Yahudi