detikTravel berkesempatan mengikuti tea ceremony di rumah seorang master teh di Kota Sakai, Jepang, Sabtu (13/10/2012). Rumah yang diberi nama Shin An itu tepatnya berada di kawasan Daisen Park, sekitar 10 kilometer dari pusat kota Sakai.
Sang master teh bernama Satoho Ohigashi. Dia mendapat sertifikat sebagai seorang tea master setelah belajar selama 20 tahun dari gurunya yang bernama Kuroiwa.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sekarang, untuk menjadi master teh harus mendapat sertifikasi dari keluarga Sen no Rikyu," kata Ohigashi kepada detikTravel dan rombongan peserta ASEAN Weekly Committe.
Bagaimana sebetulnya upacara teh 'chanoyu' itu? Awalnya para peserta harus berganti pakaian. Semua wajib memakai kimono, baik untuk perempuan maupun lelaki. Sebagian baju yang dipinjamkan adalah kimono untuk samurai, kimono musim panas, dan kimono untuk wanita.
Kemudian, para peserta minum teh dibawa ke sebuah ruangan khusus upacara. Semua duduk dengan lutut dilipat dan telapak kaki saling bertumpu. Posisi duduk tersebut tidak boleh berubah selama upacara berlangsung.
Setelah itu, master teh akan membagikan kue manis warna-warni bernama wagashi. Kue itu bisa dimakan sebelum, setelah, atau selama minum teh.
"Kue itu berfungsi untuk pemanis lidah karena tehnya sangat pahit," kata pemandu rombongan, Hisanori Kato.
Usai membagikan kue, tea master meracik teh yang dihidangkan. Dia memanaskan air, lalu meramu matcha, teh hijau khas Jepang, hingga siap dihidangkan dalam sebuah mangkuk. Teh itu berwarna hijau dengan buih.
Selagi panas, teh dihidangkan pada para peserta upacara. Sebuah penghormatan khusus diberikan tea master pada peserta saat membagikan teh. Dia lalu akan memperhatikan tata cara meminum teh.
"Saat mengangkat mangkuk teh, tangan kiri harus menahan mangkuk dari bawah dan tangan kanan menahannya dari pinggir," kata Ohigashi.
"Meminum tehnya pun harus bersamaan dan harus diminum selagi panas," sambungnya.
Di beberapa tradisi lain, ada yang meminum teh sambil membuat puisi. Sebagian ada juga yang meminum teh tersebut sedikit lalu membaginya dengan rekan di samping.
"Yang dilakukan di tempat ini adalah cara yang paling sederhana," terang Kato.
Shin An cukup banyak dikunjungi oleh turis lokal maupun internasional yang ingin belajar meminum teh dalam sebuah upacara khusus. Tempat yang sudah berusia 83 tahun ini, menjadi kebanggaan masyarakat Sakai karena jadi pusat pembelajaran upacara minum teh yang terkenal itu.
(fay/sst)












































Komentar Terbanyak
Kisah Siswa SD Viral di Salatiga, Piknik ke Jakarta Sewa Pesawat Garuda
KA Argo Bromo Anggrek Tabrak KRL, MTI: Momentum Perbaiki Perlintasan Kereta
Kesaksian Turis dalam Kejadian Penembakan di Situs Bersejarah Meksiko