Dari Ulat Sagu Sampai Jelajah Sungai Papua ala Suku Kamoro

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Dream Destination Papua

Dari Ulat Sagu Sampai Jelajah Sungai Papua ala Suku Kamoro

Afif Farhan - detikTravel
Senin, 26 Nov 2012 10:24 WIB
Dari Ulat Sagu Sampai Jelajah Sungai Papua ala Suku Kamoro
Para pria dewasa suku Kamoro dengan penampilan yang khas (Afif/detikTravel)
Mimika - Para pemenang Dream Destination Papua berkesempatan menjadi suku Kamoro. Mereka mencoba memakan ulat sagu sampai menjelajah sungai dengan perahu kayu. Bagaimana rasanya ya?

Papua punya banyak cerita. Tak hanya soal alam, kehidupan suku-suku di Papua pun menarik untuk ditengok. Pada hari Kamis (22/11/2012), detikTravel bersama tim Dream Destination Papua berkunjung ke suku Kamoro, Kabupaten Mimika, Papua. Rasa antusiasme dan penasaran menyelimuti perasaan mereka.

Perjalanan dimulai dari Rimba Papua, tempat bermalam selama di Timika. Dari sana, sekitar 45 menit perjalanan ditempuh dengan bus melalui jalanan beraspal. Cuaca terik tidak mengoyahkan rasa antusiasme mereka. Inilah kesempatan yang mungkin sulit untuk didapat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Setibanya di lapangan besar, ada pria dan wanita dewasa yang memakai pakaian khas. Mereka menggunakan jerami untuk menutupi badan dan juga terdapat coretan putih di tubuhnya. Selamat datang di Kamoro!

Para pria dan wanita suku Kamoro melakukan tarian semut untuk menyambut tim Dream Destination Papua. Tari Semut adalah lambang sebagai rasa untuk bergotong-royong dan saling membantu di Kamoro. Langit biru di angkasa pun menambah perasaan menjadi lebih takjub.

"Seneng banget! Biasanya hanya bisa lihat suku-suku di Papua dari TV, tapi sekarang bisa melihatnya dari dekat," kata Anisa Mardiani yang pertama kali melihat suku di Papua dari dekat.

Eits, sebelum masuk, muka mereka dicoret dengan cairan putih kental. Itu adalah kapur yang dicampur air dan itu, mereka sah menjadi tamu di sana. Tak ada sedikit pun yang menolak mukanya untuk dicoret, seru!

Puas menyaksikan tari Semut dan mengambil gambar, kini saatnya menuju hidangan kuliner. Keken Hamzah, Anisa Mardiani, dan Husni Mubarak disuguhi berbagai makanan khas seperti karaka, ikan, dan juga sagu bakar. Yang paling khas, adalah ulat sagu dan tambelo. Wah, bagaimana rasanya ya?

"Pas digigit kaya yupi, kenyal-kenyal gitu," kata Anisa yang mencoba mengunyah ulat sagu mentah di mulutnya hingga habis.

Ulat sagu bagaikan camilannya suku Kamoro dan suku-suku lain di Papua. Ulat ini berukuran sebesar jempol orang dewasa dan warnanya putih. Kepalanya yang berwarna merah harus dibuang sebelum dimakan. Ulat ini ada banyak di pohon sagu di hutan. Mau coba?

Selain itu, Tambelo adalah makanan khas dari suku yang menempati wilayah pantai di Kabupaten Mimika ini. Tambelo adalah sejenis moluska dengan warna putih dan berbentuk seperti cacing. Tapi, dia mempunyai gigi yang cukup tajam lho!

"Awalnya jijik karena bentuknya seperti cacing. Tapi pas gue makan malah enak, rasanya kayak kerang mentah. Gue makanlah semua tambelo sampai gak ada lagi di batang pohonnya," kata Husni yang mengaku memakan tambelo sebanyak tujuh buah.

Tambelo didapat dari batang pohon yang sudah busuk. Sebelum dimakan, baiknya Anda membuang lumpur yang terlihat jelas berwarna hitam di badannya. Husni saja suka, bagaimana dengan Anda?

Tak hanya itu, suku Kamoro juga menjual banyak aksesoris. Yang paling diminati, adalah topi jerami dengan hiasan bulu burung kasuari. Ada juga ukiran kayu dan jerami lainnya.

"Namanya topi mahkota, topinya cantik kalau saya pakai," kata Anisa yang membeli topi khas tersebut.

Saat memasuki siang hari yang makin panas, ada satu kegiatan menarik yang menanti mereka. Keken, Anisa, dan Husni diajak untuk menjelajahi sungai dengan perahu kayu. Bentuknya kecil, hanya cukup untuk lima orang dengan lebar tak lebih dari satu meter. Deg-degan!

"Deg-degan juga sih karena takut jatuh, tapi seru banget!" kata Anisa yang pertama kali naik perahu kayu.

Mereka pun diajak berputar-putar sungai yang berwarna cokelat dan bersih. Tak ada sampah di sana. Selain itu, banyak ilalang di tepian sungainya. Benar-benar beda dengan sungai di Jakarta!

"Mereka masih memegang teguh budaya dan adatnya, salut!" ujar Keken yang menggunakan syal untuk menutupi kepala.

Pengalaman menjadi dan merasakan hidup ala suku Kamoro menjadi cerita tersendiri bagi para pemenang Dream Destination Papua. Selain kejadian-kejadian seru dan menggelitik, mereka pun menjadi lebih kenal dan lebih akrab dengan salah satu suku di Papua tersebut.

"Harusnya lebih lama di sini, gue mau coba berburu tambelo sama orang Kamoro di hutan, " kata Husni yang berprofesi sebagai dokter ini.

(shf/shf)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads