Negara ASEAN Hadapi Kabut Asap Kiriman dari RI, PBB Sebut Ini yang Terparah

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Negara ASEAN Hadapi Kabut Asap Kiriman dari RI, PBB Sebut Ini yang Terparah

Muhammad Lugas Pribady - detikTravel
Senin, 19 Okt 2026 20:10 WIB
Foto udara asap membubung dari lahan gambut yang tebakar di Kalimantan Selatan.
Ilustrasi karhutla di Indonesia. (ANTARA FOTO/Bayu Pratama S)
Jakarta -

Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyebut Asia Tenggara mengalami salah satu kabut asap lintas batas terparah akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia.

Kondisi tersebut berdampak pada sejumlah negara, termasuk Singapura, Malaysia, dan Filipina. Direktur Regional WMO untuk Asia dan Pasifik, Ben Churchill, menyampaikan hal itu sebagai situasi yang begitu buruk.

"Menurut saya, peristiwa yang sedang kita alami saat ini merupakan salah satu kejadian kabut asap lintas batas yang paling parah-bahkan mungkin yang terburuk-yang berdampak ke Singapura, Malaysia, Filipina, dan negara-negara lain," kata Churchill dilansir dari The Straits Times, Senin (19/10/2026).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia memperkirakan kabut asap masih akan berlangsung. Churchill berharap situasi segera membaik seiring pergantian musim dan turunnya hujan di wilayah yang terdampak kebakaran.

ADVERTISEMENT

Menurut Churchill, upaya pemadaman yang dilakukan Indonesia, mulai dari pengerahan personel hingga rekayasa cuaca, perlu didukung hujan yang turun secara berkelanjutan.

"Karena satu-satunya hal yang akan memadamkan kebakaran di Indonesia-terlepas dari berbagai upaya, pengerahan tenaga, penggunaan teknologi, serta dukungan internasional-adalah curah hujan yang turun dalam durasi lama dan berkelanjutan di lokasi kebakaran," ujarnya.

Churchill juga menilai negara-negara Asia Tenggara perlu mempertimbangkan kerja sama dalam penanganan karhutla. Ia mencontohkan Australia yang mendatangkan bantuan ketika sumber daya untuk memadamkan kebakaran tidak mencukupi atau mulai terkuras.

Bantuan tersebut dapat berupa peralatan, helikopter, pesawat pemadam kebakaran, hingga personel. Adapun, baginya, negara-negara ASEAN juga bisa menerapkan pendekatan serupa dengan berbagi sumber daya dan peralatan yang dapat digunakan sesuai kebutuhan.

"Model ini bisa dipertimbangkan dalam konteks ASEAN yakni melalui penggabungan sumber daya serta investasi pada peralatan pemadam kebakaran yang bisa digunakan negara mana pun sesuai dengan kebutuhan," lanjutnya.

Ia mengingatkan karhutla dapat terjadi di negara mana pun, terlebih ketika kondisi iklim global memburuk akibat fenomena El Nino. Churchill pun mendorong para menteri ASEAN mempertimbangkan kerja sama lintas negara, termasuk pemanfaatan teknologi dan keahlian prakiraan cuaca untuk mengantisipasi kebakaran.

"Cara terbaik untuk memadamkan kebakaran bukanlah dengan menanganinya sendirian, melainkan melalui kerja sama internasional dengan memanfaatkan teknologi dan pengalaman, serta melibatkan ahli prakiraan cuaca yang mampu memprediksi kondisi cuaca terkait kebakaran dan api di lapangan," imbuhnya.

Sebelumnya, Pemerintah Indonesia menyatakan setuju menerima bantuan dari negara-negara tetangga untuk menangani karhutla. Kebakaran yang terjadi di sejumlah wilayah Indonesia dalam beberapa bulan terakhir telah menyebabkan kabut asap menyebar ke negara lain.

Di minggu lalu, indeks polusi udara Singapura mencapai 288 pada pukul 15.00, masuk kategori tidak sehat dan menjadi yang tertinggi sejak 2015. Sementara itu, Malaysia sempat mencatat kualitas udara kategori berbahaya di negara bagian Sarawak pada bulan lalu.



(upd/wsw)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads