Salah satu nama yang sangat tenar di Filipina adalah Ayala. Ayala merupakan nama keluarga konglomerat berkebangsaan Filipina keturunan Spanyol dan Jerman.
Generasi pertama Ayala mengawali bisnisnya di bidang konstruksi pada abad 19. Sukses datang bertubi-tubi sampai akhirnya keluarga Ayala mengembangkan usaha di berbagai bidang. Properti, bank, telekomunikasi, otomotif, dan ragam lainnya. 2012 ini, keturunan Ayala menjadi orang ketiga terkaya di Filipina.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ayala Triangle yang dikenal sebagai kawasannya konglomerat Manila tidak hanya diisi gedung perkantoran milik perusahaan Ayala. Beragam tempat favorit para wisatawan juga berlokasi di sana. Yang tentunya, cocok untuk wisatawan yang senang dimanjakan fasilitas papan atas.
Urusan akomodasi, ada Shangri-La, hotel berbintang dengan interior dan fasilitas menawan. Suka berbelanja, butik merek premium asal pusat mode di Eropa bertebaran di mana-mana. Pengoleksi merchandise Hard Rock Cafe juga pasti terpuaskan. Cafe dan toko mechandise terletak persis di seberang Shangri-La Hotel.
Bagusnya, kawasan Ayala tak semata-mata memuaskan nafsu konsumerisme. Soal budaya dan sejarah juga menjadi perhatian dengan mendirikan Ayala Museum.
Salah satu lantai museum berisi 60 diorama perjalanan Filipina dari masa pra sejarah sampai pasca kemerdekaan. Di lantai lainnya, ada pameran penemuan harta karun berupa koleksi ribuan perhiasan emas.
Jika lelah datang, santaikan diri sejenak di Taman Ayala. Pepohonan rindang akan membawa kesejukan dan kenyamanan. Saat malam datang, seluruh taman akan terang benderang dengan sinar lampu LED yang atraktif.
Berjalan-jalan di kawasan konglomerat ini terbilang aman. Sampai larut malam, banyak polisi berjaga. Siap mengatur lalu lintas juga membantu para turis yang awam kawasan Manila.
(shf/shf)












































Komentar Terbanyak
Waspada! Ini Daftar Pangkalan Militer AS di Seluruh Dunia yang Harus Kamu Tahu
Garuda Indonesia Tidak Lagi Berstatus Bintang 5
Daftar Negara Teraman Andai Terjadi Perang Dunia III, Ada Indonesia?