Rupanya, beberapa bandara internasional di luar negeri juga memberikan pengalaman buruk pada traveler. Tindakan diskriminasi dari petugas bandara sampai toilet kotor menjadi kenangan yang pahit. Mau tahu kisah lainnya?
Tak selamanya bandara-bandara internasional di berbagai dunia menyenangkan bagi traveler. Beberapa bandara justru memberikan kenangan buruk kepada traveler. Pelayanan yang kurang maksimal, diskriminasi, dan toilet kotor, menjadi beberapa contoh pengalaman-pengalaman buruk yang terjadi di bandara di beberapa negara.
Beberapa traveler mengirimkan pengalaman pahit mereka ke redaksi@detik.travel beberapa waktu lalu. detikTravel pun juga menanyakan lewat akun twitter kepada dTraveler. Mereka menceritakan kisah yang tidak menyenangkan dan berharap dapat menjadi pelajaran bagi traveler lainnya, seperti yang disusun detikTravel, Kamis (14/2/2013).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kejadiannya di Bandara Internasional Beijing pada pertengahan Oktober 2012 lalu, saat itu saya ingin buang air kecil. Tapi, betapa terkejutnya saya saat masuk ke toilet umum di sana. Baunya tidak sedap dan ingin muntah rasanya," kata Kuncoro.
Berbeda dengan kisah dari Eka Priyanti saat berada di bandara di Kuala Lumpur dan Singapura. Menurutnya, di kedua negara tersebut terdapat beberapa etnis yang kurang baik terhadap orang Indonesia. Dirinya pun merasa didiskriminasi.
Ceritanya di budget terminal Bandara Changi, Singapura. Saat itu, Eka dan temannya akan masuk ke dalam terminal. Berbeda dengan Backpacker turis asing yang membawa koper dan tas besar, Eka dan temannya membawa tas yang lebih kecil.
"Saya membawa backpack ukuran 26 liter dan beratnya 7 kilogram. Teman saya dua koper besar dan satu koper ukuran kabin. Koper besar masuk bagasi dengan total berat 16 kilogram dari berat maksimum 20 kilogram," katanya.
Lalu setelah check in dan menuju area boarding, Eka dan temannya justru harus memasuki jalur khusus. Barang-barangnya pun dibongkar, kemudian koper kabin temannya dipermasalahkan hanya kelebihan 0,3 kilogram beratnya. Mereka pun minta bayaran lebih 1 kg seharga SGD 20 (Rp 150 ribu). Akhirnya setelah kompromi, Eka dan temannya lolos juga.
Tak sampai di situ, seorang petugas memukul pundak Eka dengan kencang. Lalu petugas itu bertanya tentang barang yang Eka bawa, yaitu backpack. Petugas tersebut mengira backpack Eka yang dilapisi rain cover adalah bayi. Tapi Eka menjelaskan, kalau itu adalah tas!
"Dia juga tidak bilang maaf sama sekali saat itu. Ternyata, banyak teman-teman saya yang juga mengalami hal serupa," kata Eka.
Bandara Suvarnabhumi, Bangkok juga memberikan pengalaman pahit. Navela Mulia, harus rela tasnya dibongkar dan dibentak-bentak petugas karena dianggap membawa narkoba. Padahal, dia hanya membawa alumunium foil. Duh!
Tak hanya itu, ada juga traveler yang diduga sebagai TKI ilegal. Kejadian ini terjadi oleh teman seperjalanan April pada bulan November 2011. Saat itu, temannya dicegat oleh polisi airport di Macau. Kejadian yang benar-benar membekas dan tidak menyenangkan!
Masih di kawasan Asia, Bandara Busan memberikan pengalaman buruk diskriminasi kepada Paul Rahardjo. Peristiwanya terjadi di check-in counter Bandara Busan pada pagi hari. Paul memesan penerbangan pagi dari Busan menuju Singapura, dengan transit di Hong Kong.
Awalnya berjalan dengan baik, hingga supervisior setempat datang dan memulai masalah. Dengan judes dan dialek Inggris yang aneh, dia menanyakan tentang penerbangan lanjutan Paul dari Singapura ke Indonesia. Paul menjawab, akan berencana menginap beberapa hari di Singapura dan membeli tiket ke Indonesia setelahnya.
"Yang mengagetkan, si supervisor itu merespon dengan ancaman dia takkan mengizinkan kami naik pesawat ke Busan-Singapura. Kecuali, kami pada pagi itu juga menunjukkan bukti penerbangan lanjutan dari Singapura ke Indonesia," kata Paul.
Paul terpaksa berdebat panjang hanya untuk meyakinkan itu adalah urusan pribadi. Yang penting, Paul harus naik penerbangan pagi itu juga supaya tiketnya tidak hangus, karena waktunya telah mepet. Akhirnya, Paul minta surat pernyataan untuk membebaskan maskapai dari seluruh tanggung jawab, seandainya ada penumpangnya yang dilarang masuk ke negara tujuan.
"Dia seharusnya tahu, saya sebagai pemegang paspor Indonesia berhak atas visa kunjungan 30 hari di Singapura, tanpa harus mengajukan aplikasi visa terlebih dulu. Sungguh aneh, dia bersungguh-sungguh melarang saya naik pesawat, padahal saya sudah lunas membayar tiketnya," keluh Paul.
Berbeda dengan Angel, dirinya mengalami pengalaman buruk di bandara di London, Inggris. Saat mendarat di bandara tersebut, dirinya ditanya berbagai pertanyaan oleh petugas bandara. Mulai dari kapan waktu berkunjung dan kegiatan apa saja yang dilakukan. Angel pun menjawab hanya berkunjung delapan hari dan berlibur untuk menonton pertandingan tim sepakbola kesayangannya.
Nah, Angel sempat salah ucap jumlah uang yang dia bawa dari 1.000 menjadi 10.000. Akibat salah ucap itu, dia berurusan dengan petugas imigrasi untuk dimintai keterangan lebih lanjut.
Angel pun diperiksa berjam-jam. Namun setelah semua dokumen dan bukti-bukti dikonfrontir, akhirnya Angel memang terbukti tidak melakukan kesalahan apa-apa. Angel pun akhirnya diizinkan masuk ke Inggris.
Itulah beberapa pengalaman buruk d'Traveler di bandara-bandara di luar negeri. Semoga dapat menjadi pelajaran dan kita jadi lebih waspada. Selamat traveling! (aff/aff)












































Komentar Terbanyak
Bule Rusia Hajar Warga Banyuwangi gegara Sound Horeg, Korban Tempuh Jalur Hukum
Dugaan Pungli Petugas Imigrasi Batam Jadi Pemberitaan Heboh Media Singapura
Kedubes Korea Selatan Minta Warganya Hati-hati Liburan di Bali