Sepakbola, Asrama dan Senyum Bocah Papua
Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Dream Destination Papua

Sepakbola, Asrama dan Senyum Bocah Papua

- detikTravel
Rabu, 13 Mar 2013 09:58 WIB
Sepakbola, Asrama dan Senyum Bocah Papua
Anak-anak pedalaman Papua di Asrama Penjunan Timika (Fitraya/detikTravel)
Timika - Traveler sering berinteraksi dengan warga lokal. Latihlah jiwa sosial saat traveling dengan mengunjungi Asrama Penjunan di Timika, Papua. Inilah tempat anak-anak suku pedalaman Papua merintis pendidikan untuk masa depan.

Mobil yang membawa tim Dream Destination Papua 2 melipir ke pinggiran kota Timika dan masuk menyusuri jalan kecil pada Kamis (7/3/2013) sore itu. Sebuah plang nama terpampang di dekat portal bertuliskan, 'Asrama Penjunan, SP 4 Kampung Wonosari Jaya, Timika'.

Sudut Kota Timika yang satu ini memang punya banyak transmigran Jawa dulunya. Itu sebabnya nama kampungnya Wonosari Jaya. Mobil kami masuk melewati portal dan gedung sekolah, lantas kami menjumpai lapangan luas dengan aneka bangunan panjang asrama di keempat sudut lapangan.

Kordinator Pendamping dan Kesehatan di Asrama Penjunan, Aswin Amiruddin menyambut dan mempersilakan kami masuk. Di dalam asrama, banyak bocah-bocah Papua berseliweran dengan tubuh berbalut handuk dengan tangan memegang gayung berisi alat-alat mandi. Jam mandi sore rupanya, itu yang saya lihat dari papan jadwal kegiatan yang menempel di dinding.

"Kami ingin memberikan kesempatan untuk anak-anak di pedalamanan yang tidak terjangkau pendidikan," kata Aswin memulai obrolan.

Ada 3 suku yang anak-anaknya diasramakan di sini, Suku Amungme 104 anak, Suku Kamoro 5 anak dan Suku Moni 9 anak. Mereka gembira menyambut permen dan biskuit yang kami bawa. Malu-malu, namun langsung berebutan begitu kami menghilang di balik dinding. Gelak tawa mereka saja cukup menyuarakan serunya berbagi permen dan biskuit.

Kami beralih ke samping asrama di mana anak-anak suku pedalaman Papua ini menikmati sore. Di kompleks asrama ini dilengkapi dengan sekolah dan rumah untuk para gurunya. Sore hari, mereka masih bisa bercengkerama dengan para guru. Seorang guru pria tampak sedang mencukur rambut keriting anak-anak ini.

"Bukan perkara gampang untuk meyakinkan orang tua di pedalaman agar mau menyekolahkan anak mereka. Kami pernah dikejar pakai pakai parang," kata Aswin.

Sebuah bola sepak melintas dekat saya, seorang bocah mengambilnya dan lanjut bermain sepakbola di lapangan basket. Kaki-kaki lincah anak Papua adalah berkah Tuhan yang menjadikan mereka pesepakbola berbakat.

Namun hati ini lebih memilih dua anak yang bermain ayunan. Kepada saya, mereka mengenalkan diri sebagai Frans siswa kelas 3 SD dan Jomianus siswa kelas 1 SD. Kenapa mereka tidak ikut bermain bola ya?

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Sa sudah mandi, Kakak. Kalau sudah mandi tidak boleh main bola. Nanti kami kotor," kata Frans disambut anggukan kecil Jomianus.

Disiplin dan taat aturan rupanya memang jadi dasar kehidupan di Asrama Penjunan. Meski demikian Frans dan Jomianus senang bisa berada di asrama ini.

"Betah, kami punya banyak teman, bisa main bola," kata Jomianus.

Bagaimana kalau para traveler ingin bermain dengan anak-anak ini? Menurut Aswin, mereka siap menyambut setiap para traveler yang ingin berkunjung ke Asrama Penjunan.

"Silakan datang ke sini dan berkenalan dengan mereka," kata Aswin.

Asrama Penjunan memang bukan destinasi wisata. Namun tempat ini bisa menjadi alternatif kunjungan yang bersifat sosial, saat Anda traveling ke Timika. Senyum mereka, tatapan tajam mata mereka adalah api semangat yang juga bisa melecut Anda. Anak-anak Papua juga ingin maju!

(shf/shf)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads