Begini Cara Hemat Keliling Paris Tanpa Takut Nyasar
Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Laporan dari Prancis

Begini Cara Hemat Keliling Paris Tanpa Takut Nyasar

- detikTravel
Senin, 01 Apr 2013 09:20 WIB
Begini Cara Hemat Keliling Paris Tanpa Takut Nyasar
Suasana jalan di Paris
Paris - Selain kota mode, Paris juga dikenal sebagai kota wisata yang diisi banyak tempat menarik seperti Menara Eiffel. Untuk menjelajah, Anda pun tak perlu mengeluarkan banyak uang. Ini cara hematnya.

Jika bertandang ke Paris, tak afdol jika tak menjelajah kota. Tapi bagaimana cara melakukannya kalau tidak tahu jalan? Jangan-jangan malah nyasar. Carter taksi? Pasti mahal. Ikut agen tur? Hmm, kurang menantang. Cara ini mungkin bisa jadi alternatif, terutama bagi yang baru kali pertama ke kota ini.

Beberapa waktu lalu, saya dan sejumlah jurnalis asal Indonesia diundang produsen pesawat Airbus ke pabriknya di Toulouse, Prancis. Karena ada satu acara di Paris, kami diinapkan semalam di kota mode itu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Di sela acara itulah, sebagian anggota rombongan nekat berkeliling kota tanpa pemandu. Betapa tidak nekat, kami hanya bermodal peta yang mungkin saja tidak banyak membantu, karena tak ada satupun dari kami pernah ke Paris.

Saat itu Kota Paris masih dibekap udara sangat dingin, paling tidak hingga akhir Maret. Memang jarang ada salju, tapi udara sangat dingin. Lebih dingin dibanding puncak Gunung Bromo di musim kemarau.

Matahari yang jarang bersinar membuat udara semakin dingin. Apalagi jika angin berhembus, dinginnya bisa menelusup tulang. Lalu bagaimana dengan hujan? Hujan kerap terjadi. Sekejap datang, lalu lenyap. Lebih sering berupa rinai daripada deras.

"Kamu beruntung. Pekan lalu, cuaca agak buruk. Salju dimana-mana. Banyak penerbangan ditunda," kata Manager Relation Airbus untuk Asia Pasifik, Alizee atau akrab disapa Lili saat menyambut kedatangan kami di Bandara Charles de Gaulle, Paris.

Suhu seperti ini dianggap beruntung? Kami pun hanya membayangkan cuaca buruk seperti dituturkan Lili. Katanya, saat itu, aktivitas warga sangat terganggu. Banyak mobil yang ditinggalkan pemiliknya di area publik akibat amukan badai salju. Ratusan penerbangan bahkan dibatalkan.

Dari hotel, sekitar pukul 13.45 waktu setempat (19.45 WIB) kami berjalan kaki menuju jalan protokol. Jalan ini sebelumnya sudah kami lewati saat ke hotel. Jadi kami tahu inilah akses yang mungkin dilalui angkutan umum. Benar saja, ada beberapa bus lalu lalang.

Kami telah memegang tiket L Open Tour seharga 37 Euro atau sekitar Rp 450 ribu. Tiket ini hanya berlaku sehari.

Jika memegang tiket L Open Tour, maka wisatawan bebas naik turun bus. Tak perlu bayar lagi. Yang penting rutenya sesuai tiket. Untuk tiket seharga 37 euro, ada 19 titik pemberhentian. Semuanya kawasan wisata. Ada Le Madelaine (gereja), monumen Arc de Triomphe de l'Γ‰toile, Notre-Dame (gereja yang dipersembahkan untuk Bunda Maria), hingga Menara Eiffel.

Tiket L Open Tour bisa diperoleh di hotel, agen-agen, atau website. Harganya beda-beda, berkisar antara 30-40 Euro. Ada wisata museum, istana, seni, dan lain-lain.

Untuk mengetahui bus yang sesuai tiket, kami perlu diskusi dengan lagak sedikit sok tahu. Maklum, badan bus bertuliskan bahasa Prancis. Tak satu pun mengerti kecuali kata 'merci' (terima kasih), 'sortie' (keluar), dan 'oui' (ya). Beberapa kali bus pun lewat tapi sepertinya bukan bus sesuai tiket.

Selang beberapa menit, kami melihat bus tingkat warna hijau bertuliskan L Open Tour berhenti. Tak bisa ditutupi kalau wajah kami sumringah. Segera saya dan kawan-kawan menghampiri. Setelah dialog pendek, supir mengangguk sambil memasukkan tiket kami ke mesin pencatat. Sebagai gantinya, kami diberi semacam nota.

Bus sarat penumpang. Kursi terisi penuh. Kami naik ke bagian atas. Hanya ada dua orang di tempat itu. Udara dingin pun menyergap. Jelas, karena bagian atas bus tak ada atapnya. Jangankan saat berjalan, bus berhenti pun udara tetap dingin.

Bus berjalan pelan, menyibak gedung-gedung tua berarsitektur Renaissance. Gedung-gedungnya 'sedikit' mirip dengan Kota Tua Jakarta, Semarang, atau kota-kota di Indonesia. Bedanya, di Paris bangunan-bangunan tua lebih megah dan terawat.

Di tengah perjalanan, mendung mulai menggelayut. Orang lalu lalang di trotoar. Berjaket wool dan syal di leher. Tak hanya orang ras Eropa, tapi juga wisatawan asal Asia Timur.

Setelah 20 menit melaju, bus berhenti. Bukan di halte, melainkan tempat terbuka yang telah ditentukan. Panorama di sekeliling halte cukup menggugah. Ada bangunan bak istana dan gerbang besar. Di seberang jalan tampak bangunan megah dengan piramida kaca di sampingnya. Kami baru sadar: inilah Champ de Elysee Palace. Di sinilah Le Louvre, museum salah satu lokasi syuting Tom Hanks dalam film Da Vinci Code itu, berada.

Tak peduli cuaca agak gelap, aksi jeprat-jepret langsung digelar. Foto orangnya boleh jelek, yang penting background-nya, pikir kami saat itu. Tapi tiba-tiba gerimis datang. Orang-orang berlarian ke gedung-gedung terdekat. Tenyata tak sampai 5 menit pun gerimis hilang.

Tak terasa jam menunjukkan pukul 14.45 waktu Paris. Waktu kami tak banyak. Sebagian besar tak sempat masuk museum. Kami pun menuju tempat turun dari bus tadi dan tak sampai 5 menit, bus warna hijau bertuliskan L Open Tour datang. Kali ini, tak satu pun dari kami berani duduk di bagian atas bus. Semua menggigil.

Bus yang kami tumpangi berhenti di Arc de Triomphe de l'Γ‰toile, monumen penghormatan bagi orang-orang yang gugur pada Revolusi Prancis dan perang Napoleon. Kami tidak turun karena dalam perjalanan ke hotel, tempat ini sudah dikunjungi.

Kami ingin langsung 'to the point': Menara Eiffel! Agak lama untuk sampai ikon Paris itu. Bus mengelilingi kota, menyeberangi jembatan Sungai Sein, dan melintasi kawasan-kawasan pinggiran. Dari jauh Eiffel sudah tampak, tapi sepertinya bus tak kunjung sampai. Ternyata bus harus berputar-putar dulu sebelum berhenti di 'halte' resmi.

Saat menginjakkan kaki di kawasan Eiffel, ratusan wisatawan berada di sekeliling menara. Sebagian besar sibuk berpose, mencari posisi terbaik mendapatkan background utuh. Kami tak mau kalah. Jeprat! Jepret!

Meski jadi pusat keramaian, area Menara Eiffel bersih dari pedagang kaki lima. Hanya ada 1-2 kios yang menjajakan suvenir. Di seberang jalan, dekat tepian sungai Sein, kios-kiosnya lebih banyak. Selain suvenir, ada yang jualan cokelat hangat. Lumayan untuk sekadar mengusir dingin tak tertahankan.

Pukul 17.50 waktu setempat. Hari makin gelap. Mendung kian tebal. Kami menuju halte. Bus siap menunggu. Kata supir, ini bus terakhir untuk tiket L Open Tour (saat musim panas, bus terakhir jam 20.00 waktu setempat). Setelah menunggu beberapa saat, bus berangkat. Hanya kami penumpangnya. Mungkin sebagian wisatawan naik bus sebelum-sebelumnya, tak mau risiko naik bus terakhir.

Baru 5 menit bus berjalan hujan deras mengguyur. Lepas dari guyuran hujan, pelangi muncul. Cukup indah untuk memberi warna mendung di sebagian langit Paris. Kami berhenti tepat di tempat kami naik, sekitar 150 meter dari penginapan.

Puas sudah menjejalah Paris meski tak semua kawasan wisata terjamah. Yang penting, tak perlu nyasar kemana-mana. Juga, tak perlu banyak bertanya. Cukup naik turun bus, panorama terbentang di depan mata. Merci L Open Tour.
(sst/sst)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads