Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Kamis, 23 Mei 2013 09:47 WIB

DESTINATIONS

Banyak Kisah Seru, Kemping Memang Bikin Nagih!

Kemping di Pulau Sempu (Shafa/detikTravel)
Jakarta - Kemping kini jadi salah satu cara liburan yang dipilih banyak traveler muda. Berbagai kisah menarik pun terlontar dari mulut para penggila kemping. Begini ceritanya!

Beberapa traveler penggila kemping, berbagi pengalaman mereka kepada detikTravel. Selain seru, banyak kisah penuh kenangan saat kemping. Semua orang pun ingin mencoba kemping, lagi dan lagi.

"Waktu itu lagi kemping di Telaga Warna, Bogor. Itu kemping pertama saya," kata traveler bernama Fahreza kepada detikTravel, Rabu (22/5/2013).

Saat itu Fahreza dan teman-teman bisa dibilang tidak memiliki persiapan untuk kemping. Tenda yang dibawa pun tidak sesuai dengan yang dibutuhkan.

"Pengalaman pertama sebenernya agak menyiksa, karena tenda yang harusnya cuma untuk 2 orang, malah diisi 4 orang," ujar Fahreza.

Kepanasan dan sempit pun dirasakan Fahreza dan teman-teman. Meski begitu, pengalaman kemping pertama kali yang ia rasakan sangat berkesan.

"Kemping terus tidur di tenda itu seru banget. Kita jadi bisa ngerasain alam sekitar. Ketika tidur bisa ditemenin suara jangkrik, kodok, dan segala macam binatang. Mau banget kemping lagi," jelas Fahreza.

Menurutnya, kemping adalah saat dimana traveler bisa semakin dekat dengan teman. "Feel bareng-barengnya berasa banget, susah senang bareng, semuanya barengan itu enak banget."

Tak hanya Fahreza, pengalaman kemping seru juga dialami oleh traveler bernama Bayu. Ia pernah kemping dan memasang tenda ketika traveling ke Taman Nasional Bali Barat.

"Waktu itu kita nenda di kawasan Taman Nasional Bali Barat, pake tenda tentara gitu," kata Bayu mengawali cerita kepada detikTravel.

Karena berkemah di alam terbuka, risiko bertemu dengan hewan liar pun sangat besar. Salah seorang temannya pun merasakan seperti dilewati ular.

"Katanya di sekitaran kita pasang tenda ada ular. Terus ketika tidur, beberapa anak ngerasa seperti dilewatin ular," kata Bayu.

Mengalami hal demikian memanglah salah satu risiko mendirikan tenda di alam lepas. Tak hanya itu, ternyata pengalaman lain juga dialami Bayu ketika melakukan kemping di kawasan Puncak, Bogor. Saat itu, ia dan teman-teman kemping dalam kegiatan pelantikan mentor dalam organisasi yang diikutinya.

"Ketika itu kurang persiapan banget. Kita kedingingan, terus pas hujan airnya rembes, soalnya nggak pake flysheet yang biasa dipasang di atas tenda," jelas Bayu.

Yang lebih sial lagi, sleeping bag yang berfungsi untuk menghangatkan tubuh ketika tidur juga basah.

"Jadi saat kita jalan keliling hutan, sleeping bag sengaja ditinggal di tenda. Eh tiba-tiba hujan, tenda bocor terus sleeping bagnya basah. Kita jadi tidur makin kedinginan," jelas Bayu seraya tertawa.

Belum selesai, pengalaman kemping seru juga dialami traveler lain bernama Merry. Ia adalah seorang pecinta alam yang senang mengamati burung. Ketika itu ia sedang melakukan kemping di Pulau Sempu bersama kelompok pecinta burung.

"Kita buat tenda sendiri, terus moving camp jadi nggak kemah di salah satu tempat saja," kata Merry.

Meski terdengar repot karena berpindah-pindah, ternyata di sinilah awal keseruan pengalaman kemping yang diawali Merry. Sempu adalah pulau tak berpenghuni yang tidak memiliki toilet umum. Untuk itu, traveler yang datang buang air di semak-semak.

"Aku geli kalau harus buang air besar di semak-semak atau gali lubang, jadi aku tahan. Padahal perjalanan aku itu 4 hari, jadi terpaksa deh nahan BAB 4 hari," ucap Merry.

Penderitaannya semakin terasa saat ia harus membawa barang ketika traveling. "Karena moving camp, jadi kita bawa semua barang bawaan pas jalan. Makin menderita banget deh. Bayangin aja nahan buang air besar 4 hari, terus jalan-jalan," jelas Merry.

Meski begitu, ternyata ia tak kapok menjalani kemping. Di pertengahan tahun 2012 lalu, ia kembali kemping. Kali ini tempat yang dipilih adalah Taman Nasional Baluran di Jawa Timur.

"Di sana sih lebih enak, kawasan kempingnya ada WC umum," celetuk Merry.

Cerita tak menyenangkan pun kembali menghampiri Merry. Kebetulan, lokasi ia dan teman-teman mendirikan tenda berada di alam bebas dan tak jauh dari savana. Ketika malam tiba, ia pun berjalan-jalan di sekitar tempat tenda.

"Kalau mata hewan non primata kan bersinar pas kena cahaya senter, nah aku lihat itu pas lagi jalan ke savana di deket tenda," kata Merry mengawali cerita.

Saat itu, ia melihat ada sepasang mata menatap ke arahnya. Perlahan tapi pasti, tiba-tiba muncul pasang mata lain, hingga ada 4 pasang mata.

"Aku pikir harimau atau panther gitu, tapi di sana kan nggak ada. Terus aku baru inget di sana ada anjing hutan yang ganas banget. Sadar itu ternyata anjing hutan, aku langsung kabur, eh dikejar. Tapi untungnya mereka nggak ngejar banget jadi pas sampe tenda aman," tutur Merry.

Meski begitu, kemping adalah salah satu hal yang sangat menyenangkan untuk Merry. "Kita bisa makan bareng, apa-apa bareng deh. Terus pas malam bisa lihat bintang bareng-bareng, asyik! Aku mau lagi," ungkapnya.

Lalu bagaimana dengan Anda? Tertarik kemping juga?

(ptr/aff)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA