Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

ADVERTISEMENT

Minggu, 17 Apr 2022 08:31 WIB

DESTINATIONS

Bukan Kedai Kopi Biasa, yang Ini Ada Wisata Pabrik Kopi Jadulnya

bonauli
detikTravel
Pabrik penggilingan kopi Margo Redjo di Dharma Bourtique Roastery
Foto: (Bonauli/detikcom)
Semarang -

Kedai kopi kekinian sudah bisa ditemukan di mana-mana. Unik dan beda, yang ini punya pabrik kopi jadul.

Kedai ini berada di Jalan Wotgandul Barat No.14, Kecamatan Semarang Tengah, Kota Semarang. Bernama Dharam Boutique Roastery, kedai kopi ini berada persis di sebelah rumah besar bergaya Belanda.

Jangan ngaku pecinta kopi, kalau belum mampir ke sini. Tak sekedar jualan kopi, di dalamnya ada pabrik penggilingan kopi Margo Redjo yang dibangun pada tahun 1915 oleh Tan Tiong Ie.

Pabrik penggilingan kopi terletak di belakang kedai. Dipandu oleh Widayat Basuki Dharmowiyono, pemilik dari Dharma Boutique Roastery, detikTravel melihat langsung mesin-mesin jadul untuk sangrai kopi.

"Ini mesin sangrai atau penggorengan biji kopi. Saya rasa waktu datang ke sini, mesin ini bukan mesin baru. Waktu itu dipasang di sini tahun 1927," Basuki mengisahkan sembari menunjukkan mesin pertama.

Pabrik penggilingan kopi Margo Redjo di Dharma Bourtique RoasteryMesin sangrai kopi Margo Redjo di Dharma Bourtique Roastery Foto: (Bonauli/detikcom)

Ukuran mesin ini sangat besar, kapasitasnya 100 kg green bean. Sekali beroperasi, mesin ini dapat menyangrai dalam waktu 20 menit. Kemudian didinginkan selama 10 menit dan langsung masuk ke dalam karung.

Margo Redjo memiliki 2 mesin sangrai. Menurut penulusuran Basuki, pabrik pembuatan mesin sangrai itu tutup pada tahun 1935 karena bangkrut.

"Kami punya mesin sangrai yang terbaru, tapi modelnya justru lebih primitif," ungkapnya.

Mesin-mesin ini berada di ruang belakang dan berjumlah 3 unit. Ukurannya pun lebih kecil dengan kapasitas 60 kg. Basuki mengatakan bahwa ada alasan mengapa mesin sangrai kopi terbaru datang dengan model yang lebih primitif.

"Belanda sudah biasa beli kopi di Indonesia sebelum perang. Setelah mereka kembali bersama Inggris, mereka minta ayah saya untuk kembali menyuplai kopi. Caranya gimana? Karena listrik dan gas batubara dihentikan Jepang. Mereka bilang itu bukan masalah," kata Basuki.

Rupanya Belanda mengirimkan mesin sangrai kopi dengan model lama. Mesin ini dihidupkan dengan menggunakan kayu dan minyak tanah, bukan gas batubara.

Untuk mesin penggilingnya pun masih ada di sana. Berjumlah 3 unit, mesin-mesin penggiling ini menggunakan beton, air soda dan api.

Pabrik penggilingan kopi Margo Redjo di Dharma Bourtique RoasteryMesin sangrai kopi primitif Margo Redjo di Dharma Bourtique Roastery Foto: (Bonauli/detikcom)

"Dulu mesin-mesin penggiling ini ada di ruang sebelah. Ruang sangrai dan penggilingan dipisahkan oleh pintu kebakaran otomatis," kata dia.

Pintu kebakaran otomatis saat itu memiliki dua pemberat. Yang satu berisi pemberat tahan api, sementara lainnya berisi timbal yang akan leleh jika ada api.

"Pintu akan menutup otomatis jika ada kebakaran. Jadi melindungi biji kopi yang ada di ruang penggilingan," ujar Basuki.

Dari semua mesin yang ada, hanya mesin sangrai primitif yang masih bisa beroperasi. Sementara mesin yang besar sudah tidak bisa lagi.

Dharma Boutique RoasteryDharma Boutique Roastery Foto: (Bonauli/detikcom)

Traveler yang ingin mengenal sejarah kopi di Kota Semarang bisa melihat kemegahan pabrik kopi yang tersisa di Dharma Boutique Roastery.

Pabrik ini bisa kunjungi oleh traveler yang mampir beli kopi di sana. Tapi kalau ramai, kamu tak selalu bisa melihat pabriknya. Datanglah sore hari ketika agak sepi. Kedai kopi ini buka pukul 09.00-17.00 WIB, ya!



Simak Video "7 Mobil Hanyut Akibat Terseret Banjir Bandang Semarang!"
[Gambas:Video 20detik]
(bnl/fem)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA