"Pertama kali rafting di Citatih, Sukabumi 2009," tutur seorang traveler Farchan Noor Rachman kepada detikTravel, Kamis (19/9/2013).
Pertama kali ikut rafting, Farchan mengaku takut. Bahkan ia tidak berani untuk membuka mata. Ketika jeram cokelat menerpa tubuh, lanjut Farchan, yang ia rasakan hanyalah cemas.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tidak kapok, ia pun mencoba rafting di tempat lain seperti Elo di Magelang. Sedangkan rafting terakhir yang ia jajal di Paralayang, Kabupaten Bandung. Ketika itu Farchan mencoba rafting di Grade III-IV.
"Yang menakjubkan dari Sungai Palayangan adalah view sepanjang sungai yang sangat indah, dikelilingi hutan pinus Sungai Palayangan seolah berada di cerukan," jelasnya.
Ternyata pengalaman seru ketika rafting juga dialami oleh Arga. Traveler ini juga mengaku keseruan ketika pertama kali mencoba rafting.
"Sudah dua kali rafting, di Citatih sama Citarik, tapi cuma untuk senang-senang." ungkap Arga.
Menurutnya, rafting sangat menyenangkan karena memicu adrenalin. Banyak tantangan yang bisa dirasakan, terutama ketika perahu karet menerjang jeram dan terbalik. Deg-degan, tapi menyenangkan untuk Arga.
Pengalaman tak terlupakan lain ketika rafting dirasakan oleh traveler bernama Marisa. Ia pernah menjajal rafting di Taman Matahari Bogor bersama teman-temannya.
"Kami semua belum ada yang pernah mencoba olahraga air ini jadi bisa dibayangkan kehebohan yang terjadi. Kami terjengkal beberapa kali dan juga tersandung batu," jelas Marisa.
Untungnya, ia tidak melepas sepatu. Bila tidak bersepatu kaki, lanjut Marisa, kaki bisa mengalami lecet-lecet seperti yang dialami beberapa teman di kelompok lain.
Tak jauh berbeda dengan traveler lain, Esty juga mengaku rafting adalah salah satu kegiatan menyenangkan. Ia pernah mencoba derasnya arus di daerah Pengalengan.
"Awalnya berjalan datar lama-kelamaan jeramnya makin banyak dan makin menantang," ungkapnya.
Esty pun menyusuri sungai dan membelah hutan sejauh 3-5 km. Pemandangan yang tersuguh sukses membuatnya terpukau.
"Sungguh pemandangan yang sulit untuk dilupakan beningnya air sungai," tambah Esty.
Rasanya pengalaman rafting tidak selalu menyenangkan. Nasib kurang beruntung dialami traveler bernama Adit. Berbeda dengan traveler lain yang mengaku senang ketika rafting, Adit malah merasa kurang puas.
"2 Minggu lalu rafting di Sungai Cisadane, Sukabumi. Sungainya banyak sampah," kata Adit.
Adit pun mengaku rafting ia kali ini kurang menarik karena debit air yang kurang. Hantaman jeram pun kurang terasa. "Debit airnya kurang, salah momen," imbuhnya.
Pengalaman tidak menyenangkan juga dialami traveler bernama Fitriani yang berarung jeram di Sungai Ayung, Bali pada 2012 lalu. Dia dan kawan-kawannya malah menjadi korban pemerasan oleh operator arung jeram. Semua peserta arung jeram dipaksa berhenti di tengah jalan, untuk membeli makanan dan minuman mahal.
Bahkan, sang pemandu meminta dibayari minumannya. Setelah rafting selesai, sang pemandu meminta uang tips. Padahal, mereka sudah membayar paket arung jeram all-in termasuk biaya makan.
"Akhirnya per kepala terpaksa keluar uang tambahan sampai Rp 100.000. Benar-benar bikin kapok deh arung jeram di Bali. Harus hati-hati memilih operator. Banyak yang menipu!" ujar Fitriani dengan kesalnya.
(ptr/aff)












































Komentar Terbanyak
Cair! Desa Wunut Bagikan THR untuk Seluruh Warga, Termasuk Bayi Baru Lahir
Garuda Indonesia Tidak Lagi Berstatus Bintang 5
Gara-gara Monyet, Komodo di Singapore Zoo Telan Boneka yang Dilempar