Bertandang ke Pulau Doom, Sorong, Papua Barat di sela Festival Nusantara Sorong Raya pekan lalu, memberikan perspektif tersendiri bagi saya. Di pulau ini, pemeluk agama Kristen dan para Muslim hidup rukun berdampingan. Mereka tak hanya bertetangga saat hidup, setelah meninggal pun mereka tetap bertetangga.
Ya, di jalan-jalan kecil kota ini mudah ditemukan masjid dan gereja-gereja. Namun tak hanya rumah ibadah yang berdampingan, kuburannya juga demikian.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Persoalan SARA tampaknya sudah lama hilang dari masyarakat Doom. Meski di beberapa kota di Indonesia persoalan SARA sempat menggeliat dan berbuntut pada perang saudara, Pulau Doom justru tetap aman. Hampir tak pernah ada konflik antar pemeluk agama.
"Doom tetap rukun, biar ada masalah di mana-mana, kalau mau masuk ke sini sulit. Di sini tetap solid karena kita su kenal dari bapa mama," kata Herman, salah satu ketua RT 4 di Doom.
Doom memang istimewa. Pulau kecil dengan panjang garis pantai 4,5 kilometer ini menyimpan banyak potensi wisata. Selain budaya, Doom juga bisa memanjakan mata dengan sajian pemandangan ala Kota Tua Belanda.
Bagi Anda pecinta sejarah, Doom juga bisa Anda kulik sebab kota ini sudah ada sejak tahun 1800-an. Pulau yang juga kota tertua di Sorong ini sejak dulu didiami oleh banyak suku. Mulai dari Biak, Jawa, Batak, Sumatera, Bugis, Buton, Manado, Ambon, dan banyak lagi.
Untuk lebih mengenal kotanya, Anda bisa jalan kaki sembari menikmati udara segar. Kalau tak mau terlalu memeras keringat, Anda juga bisa menyewa becak. Biasanya mereka sudah ada di pelabuhan Pulau Doom. Oh iya, dari seluruh kota di Sorong, alat transportasi becak ini hanya ada di Doom.
Saat detikTravel bertandang ke Doom bersama rombongan Kemenparekraf beberapa waktu lalu, beberapa pengayuh becak langsung mendekati kami begitu turun dari kapal. "Rp 30 ribu saja keliling pulau," kata mereka mencoba menawarkan jasa.
Awalnya kami naik becak. Tapi di tengah perjalanan kami sepakat turun, lalu berjalan kaki agar lebih bisa menikmati suasana dan menyapa penduduk pulau. Toh, tak ada yang terlalu jauh di pulau yang bisa dikelilingi selama sejam ini.
Karakter masyarakat Doom sangat ramah kepada para wisatawan. Anak-anak Pulau Doom memekik senang tiap melihat kami. Saat kamera dibidikkan, mereka langsung memasang pose dan gaya masing-masing. Sementara kaum mama dan bapak tak akan sungkan melempar senyum saat berpapasan.
Sungguh tak menyesal rasanya menyempatkan waktu ke Pulau Doom. Untuk menuju tempat ini Anda cukup membayar ongkos taksi laut (speedboat) Rp 5 ribu lalu menyeberang selama 15 menit dari Dermaga Sorong. Yang jelas, berwisata ke Sorong tak akan lengkap rasanya jika tak menyambangi Pulau Doom.
(ptr/fay)











































Komentar Terbanyak
Viral Bule Inggris Menangis Lihat Sampah, Bukit Pergasingan Langsung Ditutup
Viral Sawah Bergaya Sabana di Prambanan, Petani Protes Lahan Jadi Tempat Bikin Konten
Gara-gara Protes Penerbangan Delay, Warga 62 Ditahan Polisi KLIA