Kampung Belae, Pangkep, Sulawesi Selatan di kelilingi ratusan gua. 50 Gua di antaranya merupakan gua pra sejarah yang memiliki banyak lukisan.
Lukisan yang tampak di gua-gua itu antara lain cap tangan dan gambar binatang seperti ikan dan kura-kura. Lukisan-lukisan ini ada yang berwarna merah dan hitam.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Salah satu gua yang memiliki banyak lukisan cap tangan adalah Gua Bulo Ribba atau lebih dikenal dengan Leang Bulo Ribba. Menurut bahasa setempat, leang artinya gua. Sementara Bulo berasal dari kata bulu, yang artinya gunung, dan ribba adalah terbang. Namun Chairuddin mengaku tak tahu apa alasan gua tersebut dinamai gunung terbang.
"Di gua ini ada 25 cap tangan yang tersebar di dinding dan langit-langit," katanya.
Langit-langit gua Bulo Ribba cukup tinggi. Ketinggian langit-langit yang paling rendah saja lebih dari 2 meter. Masih belum diketahui bagaimana manusia purba dapat melukis setinggi itu.
Menurut ahli geologi ITB, Budi Prasetyo yang juga ikut dalam festival tersebut, pewarna merah yang terlihat dalam cap tangan kemungkinan merupakan campuran dari tanah liat dan getah. Keduanya ditumbuk halus, kemudian disemburkan di atas tangan yang ditempelkan di dinding gua.
"Cara penyemprotan macam-macam. Bisa jadi langsung disemprotkan dari mulut, bisa juga menggunakan bambu," terang Budi.
Sementara untuk pewarna hitam, menurutnya berasal dari arang. Kedua lukisan tersebut masih tampak jelas meskipun telah berumur jutaan tahun.
Menurut Budi, ada banyak alasan mengapa manusia purbakala melukis di gua. Salah satunya adalah menandakan kekuasaan. Lukisan tersebut menandakan bahwa gua itu telah atau pernah ada yang menempati.
"Untuk lukisan binatang menunjukkan bahwa itulah makanan yang mereka konsumsi pada saat itu," papar Budi.
Selain lukisan, banyak juga sampah-sampah berupa cangkang kerang yang tersebar di dalam gua. Cangkang tersebut telah menempel kuat di tanah dan stalakmit.
"Sampah itu menunjukkan dapur. Bagian gua yang ada sampahnya merupakan area yang tidak mereka gunakan untuk tidur," ungkapnya.
Sementara itu, jenis ornamen gua yang terlihat di kawasan tersebut rata-rata sama. Namun bentuk stalaktit dan stalakmit gua yang dekat dengan rumah penduduk berbeda dengan gua yang terletak jauh dari kehidupan manusia.
Stalaktit Gua Bulo Ribba, yang hanya berjarak 406 meter dari rumah penduduk ini terlihat seperti bunga karang. Bentuk stalakitit ini tidak panjang menjulang seperti yang terlihat di Gua Kallibong Aloa, hanya berupa tonjolan-tonjolan kecil dengan warna putih. Sementara di Gua Kallibong Aloa berwarna cokelat.
"Stalaktit di sini beda karena terkena udara dan cahaya. Kekuatannya juga berbeda, stalaktit di sini lebih kuat," ungkap Budi sambil mengetukkan jari telunjuknya ke stalaktit itu.
Begitu banyak hal yang dapat dipelajari di kampung yang jauh dari kebisingan kota ini. Jika Anda berminat bertualang susur gua sambil melihat lukisan manusia purba, tidak ada salahnya bertandang ke kawasan karst terbaik kedua di dunia ini.
(aff/aff)












































Komentar Terbanyak
Bandara Husein Sastranegara Beroperasi Lagi, Kertajati Jadi Bengkel Pesawat
Prabowo Beri Lampu Hijau, Bandara Husein Sastranegara Mulai Bersolek
Jokowi Dapat Gelar Baginda Pemuka Bangsa dari Keraton Kagungan Lampung, Apa Maknanya?