Ya, Megamendung tak hanya ada di Puncak tapi juga Cirebon. Bedanya, Megamendung Cirebon bukan merupakan nama area tapi sebuah motif batik khas Cirebon. Motif Megamendung memang populer dan disukai oleh para turis lokal yang berkunjung ke Cirebon.
Motif Megamendung bentuknya seperti ukiran awan. Mungkin kalau Anda pernah menonton film kartun serial asal Jepang, Naruto, tentu akrab dengan gambar tersebut. Motif Megamendung memang akulturasi dengan kebudayaan Asia Timur dalam hal ini China -bukan Jepang- yang masuk ke Cirebon di era Wali Songo.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Motif-motif tersebut dibuat sendiri oleh pengrajin di kampung batik Ciwaringin. Motif alam seperti bunga, pepohonan, hingga hewan menjadi ciri khas mereka. Tidak hanya motif, tapi juga proses pewarnaannya berbeda dari tempat lainnya.
Di kecamatan paling barat Kabupaten Cirebon, tepatnya di Ciwaringin pengrajin mewarnai kain batik tidak menggunakan bahan kimia tapi memakai produk alami. Pengrajin mengekstrak warna-warna batik tersebut dari daun serta pepohonan. PT Indocement Tunggal Prakarsa, berencana akan membuat hak paten atas motif-motif yang digunakan.
"Ada 40 pembatik, ada galeri mini yang kita rintis di sini, hanya batik tulis saja, awalnya hanya ada batik pewarna alam, tapi kini juga ada warna batik sintesis, jadi ada dua sistem, dan akan ada 8 motif yang dipatenkan," ujar Lancar Murti selaku pihak CSR PT Indocement Tunggal Prakarsa di kampung batik Ciwaringin, Cirebon, pekan lalu.
Sedikit sejarah mengenai batik Ciwaringin. Batik ini sebenarnya sudah ada sejak Indonesia belum merdeka. Awalnya pola batik khas di Ciwaringin diajari oleh para santri dari pesantren Jawa Timur. Maka dari itu, motif-motifnya tidak jauh dari lasem atau daun-daunan.
Kemudian batik di Kampung Ciwaringin sempat vakum selama lebih dari sepuluh tahun. Mulai berkembang lagi semenjak dibina oleh PT Indocement Tunggal Prakarsa di 2010. Kini para pengrajin batik di Ciwaringin tidak perlu bergantung pada orang lain untuk menjual hasil usahanya. Mereka sudah bisa menjual batik yang dibuatnya sendiri secara langsung ke para turis serta melalui internet.
(shf/shf)












































Komentar Terbanyak
Ibu Kota Negara Tetap di Jakarta, IKN Jadi Apa?
Prabowo: Jangan Terlalu Kagum pada Bangsa yang Kaya dari Merampas Bangsa Lain
Meresahkan, Rombongan Pendaki Karaoke di Puncak Gunung Andong