Jumat (25/10/2013), mobil berbelok dari jalan besar tak jauh dari Kota Atambua. Hari itu saya bersama rombongan Kemenparekraf bertolak ke Desa Tniumanu, tempat digelarnya pacuan kuda yang digelar rutin tiap tahun.
Desa itu rupanya cukup jauh dari jalan utama penghubung Kabupaten Belu dan Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS). Jalan aspal perlahan berganti dengan tanah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di depan kami membentang lintasan pacuan kuda, sangat luas, di tengah lanskap gersang. Tribun penonton tampak mungil dari sini. Mobil pun melaju perlahan di luar lintasan.
Waktu itu hampir pukul 12.00 Wita. Matahari bersinar sangat terik, namun pengunjung yang datang tak bisa dibilang sedikit. Tua-muda, pria-wanita sudah berkumpul di tribun. Kebetulan, pacuan kuda baru akan dimulai.
"Pacuan ini ada sejak lama, digelar seminggu tiap tahun. Biasanya setelah 17 Agustus-an," tutur Alex Un yang mengurus pacuan kuda Desa Tniumanu sejak 1986.
Hari itu, ada 120 kuda yang jadi peserta. Ada yang dari Kupang, Kabupaten Belu, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), juga Timor Leste. Tak sedikit peserta dari Bumi Lorosae yang mengikuti pacuan kuda ini.
Pacuan dimulai tepat pukul 12.00 Wita. Ada 14 babak hari itu, dengan panjang lintasan yang berbeda sesuai tinggi kuda. Alex memaparkan, kuda dengan tinggi 140-170 cm berlomba di lintasan 600 meter. Kuda-kuda setinggi 180-190 meter berlomba di lintasan 800 meter.
"(Kuda) yang tingginya mencapai 2 meter, lintasannya 1 Km. Ini berarti mengelilingi 1 lintasan penuh," tambahnya.
Nama kuda dipanggil satu per satu. Ada yang namanya Princess, Gadis Mata-mata, ada juga yang bernama Salah Sangka. Bersama pelepas masing-masing, kuda-kuda ini menuju garis start. Pelepas biasanya adalah pemilik kuda, sedangkan joki adalah anak laki-laki mereka. Ini adalah tradisi turun-temurun pacuan kuda di Pulau Timor.
Anak-anak pemberani itu lalu naik ke punggung kuda, tanpa pelana. Usai hitung mundur, kuda pun mulai berlari. Pemenang masing-masing babak akan menuju final keesokan harinya.
Hadiah untuk pemenangnya? Tak banyak, sekitar Rp 750.000 untuk juara pertama. Namun rasa bangga itu cukup untuk diwariskan ke keturunan mereka selanjutnya.
"Yang menang pacuan kuda berarti paling tangguh dibanding semua yang tangguh. Di sini, kuda sama pentingnya dengan keluarga sendiri. Kuda dan joki yang tangguh, berarti keduanya dididik dengan baik," tutur Alex.
(sst/sst)











































Komentar Terbanyak
Viral Bule Inggris Menangis Lihat Sampah, Bukit Pergasingan Langsung Ditutup
Viral Sawah Bergaya Sabana di Prambanan, Petani Protes Lahan Jadi Tempat Bikin Konten
Terpopuler: Pendaki Bawa Sapi ke Gunung Rinjani untuk Disembelih,Berujung Dikecam