Kisah Penyu Kecil di Belakang Villa Pulau Sangalaki

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Kisah Penyu Kecil di Belakang Villa Pulau Sangalaki

Astrid Septriana - detikTravel
Kamis, 05 Des 2013 09:20 WIB
Kisah Penyu Kecil di Belakang Villa Pulau Sangalaki
Tukik yang ditemukan di belakang vila (Astrid/detikTravel)
Berau - Suatu malam di villa Pulau Sangalaki, Derawan, tiba-tiba ada seekor tukik yang melintas. Ketika hendak membawa sang tukik, ternyata ada lebih banyak tukik di sebuah akar pohon. Beberapa malah tersangkut akar. Waduh!

Tukik yang banyak ini langsung diselamatkan untuk dibawa ke Badan Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA). Jika tidak, bisa-bisa anak-anak penyu ini akan dimangsa para predator seperti biawak atau burung.

Setiap malam di Pulau Sanglaki yang tak berpenghuni ini ada ratusan tukik atau anak penyu yang dilepas ke lautan. Ketika detikTravel mengunjungi pulau yang memerlukan perjalanan laut selama 30 menit dari Pulau Maratua ini, kami menyaksikan sendiri prosesnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Di tepi pantai yang gelap, kami mengikuti tim dari BKSDA yang dinas di malam itu untuk berburu penyu. Jejak penyu beberapa kali terlihat mengukir pasir putih di pantai, namun penyunya sendiri tak pernah sekalipun kami temukan.

Beruntung, ada tukik-tukik kecil yang mulai bermunculan dari dataran. Beberapa tukik menuju ke bibir pantai secara alami, namun sebagiannya lagi salah arah dan justru menuju ke dataran. Di sinilah tugas para petugas BKSDA untuk menangkap tukik-tukik yang menuju ke darat dan melepasnya di bibir pantai.

Salah satu petugas yang kami temui saat itu, Bambang, menjelaskan beberapa hal terkait pelestarian penyu di wilayah konservasi Pulau Sangalaki. "Di Sangalaki, penetasannya dilakukan secara alami. Menetasnya tukik sangat bergantung pada suhu mataharinya. Semakin panas maka akan semakin cepat menetas," ujarnya kepada detikTravel minggu lalu.

Kurang lebih penetasannya akan terjadi pada kurun waktu 47 sampai 60 hari. Bila telur ini menetas di siang hari, maka para petugas BKSDA harus menyimpannya di dalam wadah, menjaganya hingga malam dan melepaskannya di tepi pantai.

"Kalau menetasnya siang, kita jaga sampai malam. Kemudian malam itu baru kita lepas. Mengapa begitu? Ini untuk menjaga tukik dari predator seperti burung atau biawak," kata Bambang.

Upaya ini dilakukan untuk meminimalisir jumlah tukik yang dimakan oleh predator. Proses penyu bertelur itu memakan waktu hingga 5 jam. Jika penyu merasa terusik atau telurnya tidak akan aman, maka ia akan mencari tempat baru. Proses pelepasan telur dari badan penyu sendiri memakan waktu sekitar 15 menit.

Setiap bertelur, rata-rata telur yang dikeluarkan berkisar 60-180 telur. Untuk jumlah yang akhirnya menetas menjadi penyu itu sangat bergantung pada keberadaan predator dan juga suhu udara.

Ia juga menjelaskan, bila petugas BKSDA menemukan penyu yang bertelur di bibir pantai, ini harus segara diamankan dengan dipindahkan ke tempat yang lebih kering. "Agar tidak terkena air pasang laut dan bisa menetas. Karena telur yang terkena air asin itu tidak akan mungkin bisa menetas," jelasnya.

Penangkaran penyu di sini telah dimulai sejak tahun 2001. Personel yang menjaganya selalu berganti shift, setiap shift-nya personil BKSDA terdiri dari 6 orang. Mereka semua telah mendapatkan pelatihan bagaimana cara merawat telur penyu, saat menetas hingga dilepas ke lautan.

(sst/sst)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads