Ekowisata Mangrove Wanasari, Wisata yang Beda Banget di Bali

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Ekowisata Mangrove Wanasari, Wisata yang Beda Banget di Bali

- detikTravel
Rabu, 12 Mar 2014 08:47 WIB
Ekowisata Mangrove Wanasari, Wisata yang Beda Banget di Bali
Pemandangan di kawasan Ekowisata Mangrove Wanasari, Bali (Septi/detikTravel)
Kuta - Kalau mau merasakan liburan yang sungguh berbeda dari umumnya di Bali, datanglah ke Ekowisata Mangrove Wanasari di kawasan Tuban, Kuta. Pepohonan mangrove, pemandangan cantik dan kuliner nikmat akan menyambut Anda.

Sejuk, itu kata pertama yang keluar dari mulut saya begitu memasuki kawasan Ekowisata Mangrove Wanasari. Padahal siang itu, cuaca di sekitar Kuta, Bali sedang panas-panasnya.

Pohon-pohon mangrove besar berhasil menghadang teriknya sinar matahari hingga tak terlalu menyengat. Saya pun bersemangat berjalan di antara pohon-pohon hijau tersebut.

Saya nyaris tak merasa sedang di Bali. Meski, kawasan ekowisata ini ada di dekat dengan Bandara Ngurah Rai, tapi saya sama sekali tak mendengar suara mesin pesawat. Suasananya sangat tenang dan suni. Tapi entah kenapa, kawasan ini terlihat begitu terpencil, sampai-sampai saya merasa tengah berada di sebuah hutan belantara di Kalimantan.

Tempat yang wajib di kunjungi di kawasan ini adalah lokasi budidaya kepiting dan restoran. Ada jembatan dari bambu dan kayu untuk menuju ke sana. Ekowisata Mangrove Wansari didirikan tahun 2009 di atas lahan seluas 10 hektar. Kawasan ini merupakan milik 95 orang nelayan yang tergabung dalam kelompok nelayan Wanasari, Tuban, Bali.

Ekowisata ini awalnya bertujuan sebagai tempat budidaya kepiting yang aman terhadap lingkungan dan tidak merusak lingkungan melalui konsep kerambah tancap. Dengan bantuan CSR PT Pertamina (2010–2014) mereka beberapa kali berhasil mengekspor kepiting ke luar negeri.

Namun sejak tahun 2011, mereka memutuskan tidak mengekspor lagi kepiting. "Kami kena tipu dari pihak Singapura," kata sekretaris nelayan Ekowisata Mangrove Wanasari, Agus Diana, Minggu (9/3/2014).

Sejak itu pula, konsep ekowisata kepiting ini berubah konsep menjadi kuliner dan edukasi mengenai kepiting dan konservasi mangrove. Tentu, hal ini jadi daya tarik wisatawan.

"Kita hanya menjual 25 kg kepiting per hari. Kita ingin menjaga keseimbangan, dikarenakan tempat budidaya kita yang masih kecil dan kita tidak mau jadinya malah kekurangan," jelas Agus.

Ke depan, Agus ingin ekowisata ini bisa berkembang sehingga bisa menghidupi para nelayan. Agus mengungkapkan, semua keuntungan yang dihasilkan diberikan untuk nelayan dan hanya 10 persen untuk desa adat.

Untuk masuk ke kawasan ini, wisatawan berkelompok (1–10 orang) hanya perlu membayar Rp 100 ribu. Di sini, wisatawan bisa melihat bagaimana kepiting yang sedang bertelur dibudidayakan dan bagaimana bentuk dari karambah tancap yang tidak akan merusak lingkungan.

Selain melihat budidaya kepiting, wisatawan juga bisa menikmati indahnya wisata mangrove. Ada dua transportasi yang bisa dilakukan untuk berkeliling di sekitaran mangrove, pertama dengan kapal nelayan yang bisa memuat 10 orang atau dengan kano jika pengunjung ingin menikmati keindahannnya sendiri.

Lelah berkeliling? Silakan mampir ke restoran yang restoran Kampoeng Kepiting yang punya menu Kepiting Tol Bergoyang. Lengkap dan nikmat! Jika Anda merasa Bali sudah membosankan, Ekowisata Mangrove Wanasari adalah alasan untuk kembali ke Pulau Dewata.

(ptr/ptr)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads