Satu hari sebelum kembali dari Banyuwangi ke Jakarta, Sabtu (21/6/2014) rombongan Explore Indonesia: Tour Banyuwangi diundang pihak Pemkab Banyuwangi ke Desa Kemiren. Explore Indonesia: Tour Banyuwangi adalah program jalan-jalan dari detikTravel untuk mempromosikan destinasi Indonesia yang didukung penuh Garuda Indonesia dan Pemkab Banyuwangi.
Di Kemiren, sudah disiapkan pagelaran sendratari berjudul Sritanjung-Sidopekso. Sekitar pukul 20.00 WIB, para rombongan sudah tiba di Desa Kemiren. Sebelum menonton sendratari tersebut, rombongan dipersilakan terlebih dulu untuk menyantap pecel pitik yang merupakan suguhan kuliner khas Banyuwangi berupa ayam kampung yang diberi urap. Nyam!
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ternyata, di atas sungai sudah ada panggung merah yang luas. Ya, panggungnya benar-benar ada di atas sungai dan ada pula alat-alat musik seperti gong dan keyboard serta beberapa para penyanyi. Keren!
"Bagus pertunjukannya, penontonnya pun ramai sekali," ujar salah satu rombongan Explore Indonesia, Novi.
Memang, masyarakat setempat juga memadati area dan rela nonton sampai berdesak-deskan. Saking ramainya, bahkan beberapa masyarakat setempat menonton dari atas bebatuan sungai. Beruntung, para rombongan mendapat tempat duduk untuk menyaksikan sendratarinya.
Pagelaran sendratari Sritanjung-Sidopekso bercerita tentang legenda asal muasal Banyuwangi. Dikisahkan, Sidopekso merupakan patih dari Raja Prabu Sulahkromo. Sedangkan Sritanjung adalah istri yang cantik jelita dari Sidopekso.
Raja Prabu Sulahkromo ternyata tergila-gila dengan Sritanjung dan punya akal licik. Dia memerintahkan Sidopekso untuk pergi bertugas yang jauh dan sementara itu dia berusaha merayu dan mendapatkan Sritanjung. Tapi, Sritanjung adalah istri setia dan tak mempan oleh segala cara untuk dirayu.
Raja Prabu Sulahkromo tak kehabisan akal. Sekembalinya Sidopekso, dia memfitnah kalau Sritanjung merayu dirinya dan bermain dengan pria lain. Sidopekso langsung naik pitam dan menghampiri Sritanjung.
Sritanjung membela diri dan berkata jujur, namun Sidopekso tetap tak percaya. Akhirnya, Sirtanjung hendak dibunuh dan ditenggelamkan ke sumur. Namun sebelum itu, Sritanjung bersumpah kalau dia jujur maka darah dan airnya akan wangi. Akhir cerita, Sritanjung yang benar dan dari situ sebutan Banyuwangi, banyu berarti air dan wangi berarti harum atau wangi berasal.
Sendratari pun berlangsung meriah. Permainan alat musik, penataan cahaya dan para pamerannya begitu mempesona para penonton. Apalagi, suara arus sungai membuat suasana makin berasa unik. Sekitar satu jam, semua rombongan dan masyarakat dibuat puas. Acaranya pun selesai sekitar pukul 22.00 WIB.
Pemkab Banyuwangi akan terus berupaya mengembangkan potensi wisata dan budaya Banyuwangi seperti sendratari ini. Tentu, salah satunya bertujuan untuk mendatangkan wisatawan.
Nah, Banyuwangi juga punya Gunung Ijen yang seru untuk didaki. Tonton saja videonya berikut ini:
(shf/shf)












































Komentar Terbanyak
Ibu Kota Negara Tetap di Jakarta, IKN Jadi Apa?
Prabowo: Jangan Terlalu Kagum pada Bangsa yang Kaya dari Merampas Bangsa Lain
Meresahkan, Rombongan Pendaki Karaoke di Puncak Gunung Andong