Ende -
Tiga danau yang bisa berubah warna di Gunung Kelimutu di Flores, NTT, punya mitos yang berbuah tradisi dan upacara adat. Tiap tahun, warga setempat 'memberi makan' para roh penghuni 3 danau tersebut lewat upacara Pati Ka.
Pati Ka Du'a Bapu Ata Mata, begitu nama lengkap upacara adat tersebut. Satu kali dalam setahun, masyarakat Lio yang tinggal di sekitar Gunung Kelimutu mengumpulkan sesajen untuk dipersembahkan kepada para roh yang konon tinggal di ketiga danau berbeda warna tersebut.
Upacara dimulai dengan acara memasak dalam jumlah besar, dan diakhiri oleh tarian tradisional. Begini cara warga 'memberi makan' roh di Danau Kelimutu lewat upacara Pati Ka, yang dihadiri detikTravel pada Kamis (14/8/2014) lalu, bagian pertama:
1. Memasak sejak pagi buta
(Sastri/detikTravel)
|
Mulai pukul 04.00 Wita, para Mama sudah beraktivitas di kawasan pelataran parkir Taman Nasional Kelimutu. Mereka memasak dalam jumlah besar untuk dimakan oleh semua pengunjung yang hadir hari itu.
Ada 2 ekor babi, 10 ekor ayam, juga nasi dalam panci besar. Mereka memasak sampai sekitar pukul 08.00 Wita.
2. Pengesahan Bupati Ende sebagai tetua adat
(Sastri/detikTravel)
|
Upacara diawali dengan pengesahan Bupati Ende, Ir Marsel Petu sebagai Mosalaki Ulu Beu Eko Bewa alias Pimpinan Wilayah Pemerintahan secara adat. Tahun ini, ada 17 Mosalaki (tetua adat) yang hadir dalam upacara Pati Ka.
Mereka adalah para tetua adat dari desa-desa yang tinggal di kawasan Gunung Kelimutu. Dengan pengesahan ini, Bupati sebagai yang berkuasa dari segi pemerintahan pun punya wewenang terhadap kawasan tersebut secara adat.
3. Arak-arakan sesaji
(Sastri/detikTravel)
|
17 Musolaki yang hadir pun melakukan arak-arakan sesajen, dari lapangan parkir TN Kelimutu sampai ke satu area sebelum puncak. Di area ini terdapat batu keramat, yang konon menjadi tempat berkumpulnya para roh.
Mereka arak-arakan diiringi tabuhan musik tradisional. Wisatawan, terutama mancanegara sudah memenuhi area berlangsungnya upacara Pati Ka saat para Mosalaki tiba di sana.
4. Memberi persembahan
(Sastri/detikTravel)
|
Para Musolaki kemudian berdiri mengelilingi batu keramat tersebut. Beberapa mantra pun dilontarkan, sebelum akhirnya sesaji diberikan.
Sesaji itu diawali oleh sirih, pinang, dan rokok. Kemudian nasi dan daging, dan diakhiri oleh tuak atau arak.
Mulai pukul 04.00 Wita, para Mama sudah beraktivitas di kawasan pelataran parkir Taman Nasional Kelimutu. Mereka memasak dalam jumlah besar untuk dimakan oleh semua pengunjung yang hadir hari itu.
Ada 2 ekor babi, 10 ekor ayam, juga nasi dalam panci besar. Mereka memasak sampai sekitar pukul 08.00 Wita.
Upacara diawali dengan pengesahan Bupati Ende, Ir Marsel Petu sebagai Mosalaki Ulu Beu Eko Bewa alias Pimpinan Wilayah Pemerintahan secara adat. Tahun ini, ada 17 Mosalaki (tetua adat) yang hadir dalam upacara Pati Ka.
Mereka adalah para tetua adat dari desa-desa yang tinggal di kawasan Gunung Kelimutu. Dengan pengesahan ini, Bupati sebagai yang berkuasa dari segi pemerintahan pun punya wewenang terhadap kawasan tersebut secara adat.
17 Musolaki yang hadir pun melakukan arak-arakan sesajen, dari lapangan parkir TN Kelimutu sampai ke satu area sebelum puncak. Di area ini terdapat batu keramat, yang konon menjadi tempat berkumpulnya para roh.
Mereka arak-arakan diiringi tabuhan musik tradisional. Wisatawan, terutama mancanegara sudah memenuhi area berlangsungnya upacara Pati Ka saat para Mosalaki tiba di sana.
Para Musolaki kemudian berdiri mengelilingi batu keramat tersebut. Beberapa mantra pun dilontarkan, sebelum akhirnya sesaji diberikan.
Sesaji itu diawali oleh sirih, pinang, dan rokok. Kemudian nasi dan daging, dan diakhiri oleh tuak atau arak.
(sst/sst)
Komentar Terbanyak
Dugaan Pungli Petugas Imigrasi Batam Jadi Pemberitaan Heboh Media Singapura
Turis Belanda Tewas Ditusuk di Bali, Apakah Pulau Dewata Masih Aman bagi Wisatawan?
3 Kota di ASEAN Paling Murah Versi Turis AS