Ende -
Tiga danau yang bisa berubah warna di Gunung Kelimutu di Flores, NTT, punya mitos yang berbuah tradisi dan upacara adat. Tiap tahun, warga setempat 'memberi makan' para roh penghuni 3 danau tersebut lewat upacara Pati Ka.
Pati Ka Du'a Bapu Ata Mata, begitu nama lengkap upacara adat tersebut. Satu kali dalam setahun, masyarakat Lio yang tinggal di sekitar Gunung Kelimutu mengumpulkan sesajen untuk dipersembahkan kepada para roh yang konon tinggal di ketiga danau berbeda warna tersebut.
Upacara dimulai dengan acara memasak dalam jumlah besar, dan diakhiri oleh tarian tradisional. Begini cara warga 'memberi makan' roh di Danau Kelimutu lewat upacara Pati Ka, yang dihadiri detikTravel pada Kamis (14/8/2014) lalu, bagian kedua:
5. Menari 'Gawi'
(Sastri/detikTravel)
|
Usai pemberian sesajen, para Mosalaki berdiri mengelilingi batu keramat dan menari Gawi. Mereka berpegangan tangan dan menari sambil menghentakkan kaki.
Gawi merupakan salah satu tarian tradisional masyarakat Lio yang tinggal di sekitar Gunung Kelimutu. Hampir semua warga bisa menari Gawi.
6. Momen sakral Pati Ka
(Sastri/detikTravel)
|
Pati Ka Du'a Bapu Ata Mata adalah upacara adat yang berlangsung 1 kali dalam setahun. Saat menari Gawi, salah satu Mosalaki memimpin dan melontarkan mantra serta puji-pujian.
Ini adalah salah satu momen paling sakral dalam upacara Pati Ka. Momen ini berlangsung sekitar 10 menit.
7. Makan besar
(Sastri/detikTravel)
|
Upacara selesai, para Mosalaki pun kembali ke lapangan parkir TN Kelimutu. Di sini, sudah digelar terpal untuk semua orang makan besar.
Wisatawan domestik dan mancanegara berkumpul dan duduk bersama. Makanan pun disajikan, tiap orang mendapatkan 1 piring nasi beserta lauk. Mereka yang muslim Muslim mendapat ayam, dan mereka yang Kristiani serta umat agama lain mendapat semangkuk sup babi.
8. Menari bersama
(Sastri/detikTravel)
|
Upacara berakhir sekitar pukul 13.00 Wita. Usai makan besar, warga dan wisatawan bergabung untuk menari Gawi bersama. Namun sebelum menari Gawi, para turis asing sumringah ingin menari bersama orang lokal.
Turis asal Belanda ini misalnya. Meski tak lagi muda, dia semangat menari bersama para Mosalaki dan warga setempat. Para turis pun ikut menari Gawi setelah acara makan besar.
Usai pemberian sesajen, para Mosalaki berdiri mengelilingi batu keramat dan menari Gawi. Mereka berpegangan tangan dan menari sambil menghentakkan kaki.
Gawi merupakan salah satu tarian tradisional masyarakat Lio yang tinggal di sekitar Gunung Kelimutu. Hampir semua warga bisa menari Gawi.
Pati Ka Du'a Bapu Ata Mata adalah upacara adat yang berlangsung 1 kali dalam setahun. Saat menari Gawi, salah satu Mosalaki memimpin dan melontarkan mantra serta puji-pujian.
Ini adalah salah satu momen paling sakral dalam upacara Pati Ka. Momen ini berlangsung sekitar 10 menit.
Upacara selesai, para Mosalaki pun kembali ke lapangan parkir TN Kelimutu. Di sini, sudah digelar terpal untuk semua orang makan besar.
Wisatawan domestik dan mancanegara berkumpul dan duduk bersama. Makanan pun disajikan, tiap orang mendapatkan 1 piring nasi beserta lauk. Mereka yang muslim Muslim mendapat ayam, dan mereka yang Kristiani serta umat agama lain mendapat semangkuk sup babi.
Upacara berakhir sekitar pukul 13.00 Wita. Usai makan besar, warga dan wisatawan bergabung untuk menari Gawi bersama. Namun sebelum menari Gawi, para turis asing sumringah ingin menari bersama orang lokal.
Turis asal Belanda ini misalnya. Meski tak lagi muda, dia semangat menari bersama para Mosalaki dan warga setempat. Para turis pun ikut menari Gawi setelah acara makan besar.
(sst/sst)
Komentar Terbanyak
Dugaan Pungli Petugas Imigrasi Batam Jadi Pemberitaan Heboh Media Singapura
Turis Belanda Tewas Ditusuk di Bali, Apakah Pulau Dewata Masih Aman bagi Wisatawan?
3 Turis Wanita Diperkosa-Dilecehkan di Bali, Pelaku Ditangkap Polisi