Layaknya perkampungan nelayan, sebagian besar nelayan di Wuring menggantungkan hidupnya dengan menangkap ikan di laut. Saat pagi hari, para nelayan sudah melaut untuk mencari ikan atau membersihkan jaring. Terlihat juga anak-anak yang sibuk berenang di laut. detikTravel berkunjung ke sana beberapa waktu lalu.
Uniknya, rumah nelayan di Wuring ini dibuat seperti rumah panggung. Semua rumah disangga oleh bambu yang ditancapkan ke dasar tepian laut. Selain sebagai fondasi rumah, bambu juga digunakan untuk menghubungkan setiap rumah hingga ke jalan utama.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sekilas melihat, ada persamaan antara kampung nelayan Wuring dan kampung nelayan suku Bajo di Sulawesi, khususnya soal bentuk rumahnya yang terapung dan saling terhubung. Ternyata, mayoritas nelayan yang ada di kampung nelayan Wuring adalah pendatang dari Sulawesi. Ada yang merupakan orang Bajo, hingga Bugis.
Mereka pun beragama Islam, berbeda dengan masyarakat asli Maumere yang beraga Katolik dan Kristen. Perbedaan pun tidak menjadi hambatan antar masyarakat yang berbeda untuk hidup rukun saling berdampingan.
Kegiatan di kampung nelayan Wuring pun akan semakin semarak ketika sore tiba. Transaksi jual beli ikan biasanya dilakukan pada sore hari. Di pagi hari, suasana begitu tenang dan damai. Nyaman sekali rasanya.
Sayang, masih terlihat sampah plastik hingga sisa kardus dan karton di sekitaran kampung nelayan Wuring. Seandainya ada kesadaran untuk hidup bersih di masyarakatnya, kampung nelayan Wuring pasti akan semakin cantik lagi. Salam dari Flores!
(aff/aff)












































Komentar Terbanyak
Ditonjok Preman Pantai Santolo, Emak-emak di Garut Babak Belur
Terungkap! Penyebab Kapal Dewi Anjani Tenggelam: Semua ABK Ketiduran
Koster Tepis Bali Sepi, Wisman Naik, Domestiknya Saja yang Turun