Ini adalah pengalaman pertama saya, yakni naik kapal Pelni KM Kelud dengan rute Jakarta-Batam. Bersama rekan-rekan media lain dari Jakarta, kami diundang dalam peluncuran sekaligus merasakan soft launching KM Kelud pada Jumat (14/11/2014) lalu.
Perjalanannya mencapai 28 jam, yang artinya saya satu hari satu malam bakal menghabiskan waktu di lautan. Karena kebetulan hari Jumat, maka sudah kedengaran pengumuman untuk ibadah salat Jumat di dek 7, Musala Al-Azhar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Waktu menunjukan pukul 11.30 WIB, adzan sudah berkumandang dari pengeras suara di dalam kapal. Saya lantas bergegas ke dek 7. Musalanya sendiri cukup luas, mampu menampung sampai sekitar 70-80 orang.
Tempat wudhunya ada di bagian kanan untuk pria dan kiri untuk wanita. Yang spesial, musala ini berada di bagian luar dek dan saya bisa langsung melihat lautan biru luas dari bangku-bangku di luarnya. Mantap!
"Adzan pertama tadi melalui pengeras suara adalah suara kaset. Adzan salat Jumat selanjutnya akan dilakukan sekali di dalam sini," ujar pengurus musala sebelum adzan yang kedua itu.
Yang buat saya penasaran, ternyata ada tiga papan kecil yang menandakan arah kiblat. Namun saat itu, dari dalam musala, satu papannya mengarah ke bagian belakang dan sisanya menghadap bagian depan.
Tak lama, seorang pengurus musala membenarkan papan penanda kiblatnya dan semuanya pun menunjuk ke satu arah. Bisa jadi sebelum pelayaran ini arah papan penanda kiblatnya berubah.
Perasaan saya senang sekaligus antusias saat sudah berwudhu dan memasuki musalanya. Suara mesin kapal terdengar jelas, terdengar di sela-sela khotib Jumat.
Sesekali, terasa juga kapal yang bergoyang karena ditempa ombak dan arus. Bagi yang belum biasa seperti saya, jangan heran kalau badan bergerak sendiri ke kanan dan ke kiri. Ini jadi pengalaman tiada dua, salat di atas laut!
Setelah salat Jumat selesai, imam salat kembali berdiri dan memberikan pengumuman. Bahwa, salat Jumat akan di jamak dan qasar dengan salat ashar, sebanyak 2 rakaat dengan alasan karena dalam perjalanan jarak jauh. Namun dia tidak menjadikannya kewajiban, hanya mengajak para jamaah yang mau saja.
Kemudian setelah itu, saya kembali duduk di bangku di depan musala untuk memakai sepatu. Kalau biasanya setelah salat Jumat saya memandangi banyak jemaah yang langsung mengerubungi pedagang pinggir jalan untuk makan siang, maka di sini tidak. Banyak orang yang diam berlama-lama untuk memandangi perairan biru luas di depan mata.
Tuhan, saya baru saja bersujud di atas laut-Mu.
(aff/aff)












































Komentar Terbanyak
Koster: Wisatawan Domestik ke Bali Turun gegara Penerbangan Sedikit
Ditonjok Preman Pantai Santolo, Emak-emak di Garut Babak Belur
Koster Akui Jumlah Wisatawan Domestik ke Bali Turun di Libur Nataru