6 Fakta Tentang Museum Tsunami Aceh yang Perlu Anda Tahu

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

6 Fakta Tentang Museum Tsunami Aceh yang Perlu Anda Tahu

- detikTravel
Selasa, 23 Des 2014 17:28 WIB
6 Fakta Tentang Museum Tsunami Aceh yang Perlu Anda Tahu
(Indonesia.travel)
Banda Aceh - 10 Tahun berlalu sejak kejadian Tsunami Aceh, namun masih tertinggal duka yang mendalam. Apabila berkunjung ke Aceh, kita masih dapat mengenangnya di Museum Tsunami. Museum ini punya 6 fakta menarik yang perlu Anda tahu.

Tidak hanya sebagai monumen peringatan, namun Museum Tsunami juga punya fungsi lain sebagai tempat perlindungan. Dikumpulkan oleh detikTravel dari berbagai sumber, Selasa (23/12/2014), inilah 6 fakta menarik di Museum Tsunami Aceh:

1. Merasakan suasana tsunami

(Indonesia.travel)
Tidak hanya berfungsi sebagai monumen peringatan tsunami, namun pengunjung yang datang seolah dapat merasakan kejadian Tsunami Aceh 10 tahun silam. Di dalamnya terdapat lima ruang tematik yang punya pesan masing-masing.

Ada Space of Fear (Lorong Tsunami), Space of Memory (Ruang Kenangan), Space of Sorrow (Sumur Doa), Space of Confuse (Lorong Cerobong), dan Space of Hope (Jembatan Harapan). Pengunjung akan dibawa melihat tragedi pilu, hingga kebesaran Allah.

2. Rancangan Ridwan Kamil

(Baban Gandapurnama/detikcom)
Nama Ridwan Kamil terkenal sebagai Walikota Bandung, namun banyak yang lupa kalau Museum Tsunami Aceh adalah salah satu karyanya. Sebelum menjadi Walikota Bandung, Ridwan Kamil sendiri merupakan seorang dosen jurusan arsitektur di ITB.

Ridwan Kamil memenangkan 'Sayembara Merancang Museum Tsunami Aceh' yang diselenggarakan oleh Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Aceh-Nias pada 17 Agustus 2007. Museum Tsunami Aceh terbuka untuk umum pada 8 Mei 2009.

3. Nama korban tsunami

(Indonesia.travel)
Tsunami Aceh 2004 memakan korban jiwa hingga ratusan ribu, menyisakan nama korban dan keluarga yang ditinggalkan. Ada satu ruangan bernama Space of Sorrow atau Sumur Doa, dimana pengunjung dapat melihat nama para korban Tsunami Aceh 2004.

Berbagai nama korban tertera menempel di dinding ruangan Space of Sorrow. Dapat Anda rasakan duka mendalam saat masuk ke ruangan ini, terlebih melihat banyaknya nama korban yang telah tiada.

4. Atap berbentuk gelombang laut

(Triono/detikTravel)
Apabila dilihat, atap Museum Tsunami Aceh terlihat menyerupai gelombang laut. Unik memang, dari luar saja Anda sudah dapat melihat esensi dari museum ini yang berfungsi sebagai monumen peringatan Tsunami Aceh tahun 2004.

Suasana tsunami pun makin hadir saat pengunjung masuk ke Space of Fear, dimana pengunjung dapat merasakan suasana tsunami di lorong sempit yang dihiasi oleh suara gemericik air.

5. Desain dasarnya adalah rumah panggung Aceh

(Indonesia.travel)
Asal-muasalnya, Museum Tsunami Aceh mengambil ide dasar Rumoh Aceh. Nuansa Rumoh Aceh pun tampak pada lantai pertama museum yang dibuat menyerupai rumah panggung, dimana merupakan rumah tradisional orang Aceh.

Ridwan Kamil memang menyelipkan berbagai unsur Aceh, Islam, hingga bencana Tsunami Aceh 2004 ke dalam desain bangunannya.

6. Tempat perlindungan tsunami

(Triono/detikTravel)
Desain Museum Tsunami Aceh disebut 'Rumoh Aceh Escape Hill'. Hebatnya, museum tersebut tidak hanya berfungsi sebagai monumen peringatan, tapi sebagai tempat perlindungan dari bencana tsunami.

Berkaca dari tragedi Tsunami Aceh 2004, Ridwan Kamil membuat taman berbentuk bukit yang dapat dijadikan lokasi penyelamatan apabila bencana tersebut terjadi lagi di masa mendatang. Atapnya yang landai dimaksudkan untuk menampung penduduk.
Halaman 2 dari 7
Tidak hanya berfungsi sebagai monumen peringatan tsunami, namun pengunjung yang datang seolah dapat merasakan kejadian Tsunami Aceh 10 tahun silam. Di dalamnya terdapat lima ruang tematik yang punya pesan masing-masing.

Ada Space of Fear (Lorong Tsunami), Space of Memory (Ruang Kenangan), Space of Sorrow (Sumur Doa), Space of Confuse (Lorong Cerobong), dan Space of Hope (Jembatan Harapan). Pengunjung akan dibawa melihat tragedi pilu, hingga kebesaran Allah.

Nama Ridwan Kamil terkenal sebagai Walikota Bandung, namun banyak yang lupa kalau Museum Tsunami Aceh adalah salah satu karyanya. Sebelum menjadi Walikota Bandung, Ridwan Kamil sendiri merupakan seorang dosen jurusan arsitektur di ITB.

Ridwan Kamil memenangkan 'Sayembara Merancang Museum Tsunami Aceh' yang diselenggarakan oleh Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Aceh-Nias pada 17 Agustus 2007. Museum Tsunami Aceh terbuka untuk umum pada 8 Mei 2009.

Tsunami Aceh 2004 memakan korban jiwa hingga ratusan ribu, menyisakan nama korban dan keluarga yang ditinggalkan. Ada satu ruangan bernama Space of Sorrow atau Sumur Doa, dimana pengunjung dapat melihat nama para korban Tsunami Aceh 2004.

Berbagai nama korban tertera menempel di dinding ruangan Space of Sorrow. Dapat Anda rasakan duka mendalam saat masuk ke ruangan ini, terlebih melihat banyaknya nama korban yang telah tiada.

Apabila dilihat, atap Museum Tsunami Aceh terlihat menyerupai gelombang laut. Unik memang, dari luar saja Anda sudah dapat melihat esensi dari museum ini yang berfungsi sebagai monumen peringatan Tsunami Aceh tahun 2004.

Suasana tsunami pun makin hadir saat pengunjung masuk ke Space of Fear, dimana pengunjung dapat merasakan suasana tsunami di lorong sempit yang dihiasi oleh suara gemericik air.

Asal-muasalnya, Museum Tsunami Aceh mengambil ide dasar Rumoh Aceh. Nuansa Rumoh Aceh pun tampak pada lantai pertama museum yang dibuat menyerupai rumah panggung, dimana merupakan rumah tradisional orang Aceh.

Ridwan Kamil memang menyelipkan berbagai unsur Aceh, Islam, hingga bencana Tsunami Aceh 2004 ke dalam desain bangunannya.

Desain Museum Tsunami Aceh disebut 'Rumoh Aceh Escape Hill'. Hebatnya, museum tersebut tidak hanya berfungsi sebagai monumen peringatan, tapi sebagai tempat perlindungan dari bencana tsunami.

Berkaca dari tragedi Tsunami Aceh 2004, Ridwan Kamil membuat taman berbentuk bukit yang dapat dijadikan lokasi penyelamatan apabila bencana tersebut terjadi lagi di masa mendatang. Atapnya yang landai dimaksudkan untuk menampung penduduk.

(shf/fay)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads