detikTravel berkesempatan ikt dalam Tim adventure lovely Desember bersama CSR PT Sewatama, mengunjungi lokasi Cagar Budaya Kerajaan Kete Kesu di Toraja Utara, Sulawesi Selatan. Tak hanya menikmati pemandangan Tongkonan dan Bukit Malilli, kami pun mendapat pengetahuan sejarah dari Musem Kete Kesu.
Musem itu sendiri mengoleksi keris hasil perdagangan anggota kerajaan dengan India. Tak hanya peninggalan keris tetapi juga keramik sisa perdagangan dengan negeri Tiongkok pun juga dipajang di etalse musem.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Agustinus mengatakan, dahulu keramik peninggalan dari Tiongkok biasa digunakan untuk makan keluarga bangsawan. Lantaran sudah dihapusnya sistem kerajaan di Indonesia, benda itu dimasukan sebagai Koleksi mueseum.
"Itu piring keramik digunakan makan raja dan keluarga, sebenarnya sebelum ada piring kerajaan ketekesu menggunakan kayu nangka untuk tempat makan sementara masyarakatnya memakai daun," ujarnya.
Wadah atau piring makan keluarga banging biasa disebut Kandien. Kandien sendiri berasal dari kata Kande yang artinya makan. Dalam kasta keluarga bangsawan tempat makan memiliki adat istiadat sendiri.
"Piring makan keluarga bangsawan sendiri dibedakan, untuk ukuran kecil biasa digunakan untuk anak, ukuran sedang digunakan untuk istri dan ukuran besar untuk suami," cerita Agustinus.
Agustinus mengatakan dalam keluarga bangsawan tugas istri bekerja untuk rumah tangga. Istri pun harus melayani suaminya yang bergelar raja.
"Di sini fungsinya istri dalam sistem kerajaan di Toraja hanya istri yang boleh menuangkan nasi ke dalam piring dan itu telah ada takarannya," tutupnya.
(aff/aff)












































Komentar Terbanyak
Ditonjok Preman Pantai Santolo, Emak-emak di Garut Babak Belur
Terungkap! Penyebab Kapal Dewi Anjani Tenggelam: Semua ABK Ketiduran
Koster Tepis Bali Sepi, Wisman Naik, Domestiknya Saja yang Turun