Arsitektur Yunani di Masjid Agung Jawa Tengah

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Arsitektur Yunani di Masjid Agung Jawa Tengah

Angling Adhitya Purbaya - detikTravel
Selasa, 30 Jun 2015 18:10 WIB
Arsitektur Yunani di Masjid Agung Jawa Tengah
Gaya Yunani di Masjid Agung Jawa Tengah (Angling/detikTravel)
Semarang - Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) yang menjadi ikon Semarang, kerap disebut sebagai kembaran Masjid Nabawi. Ternyata ada unsur arsitekur Yunani di masjid itu. Liburan ke Semarang di bulan Ramadan, mampir ke masjid ini ya!

MAJT terletak di Jalan Gajah Raya Semarang. Sang arsitek adalah Ir H Ahmad Fanani dari PT Atelier Enam Bandung yang memenangkan sayembara desain arsitektur MAJT pada 28 November 2001 silam. Ada tiga unsur yang diangkat dalam arsitekturnya yaitu Arab, Jawa, dan Yunani.

"Arsiteknya itu dulu dari sayembara. Ada tiga arsitektur besar yang dikolaborasikan di sini," kata Kepala TU MAJT, Fatquri Buseri saat ditemui detikTravel di kantornya, Selasa (30/6/2015).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Pada 6 September 2002, pembangunan dimulai dengan ditandai penanaman tiang pancang oleh Menag Said Agil Al Munawar dan Gubernur Jateng Mardiyanto. Fatquri menjelaskan unsur Arab sudah di MAJT terlihat jelas pada kubah, empat minaretnya, dan pastinya payung raksasa di plaza masjid seperti di Masjid Nabawi.

Unsur bangunan Jawa bisa dilihat di dalam ruang salat di bangunan utama. Di balik kubah ala Timur Tengah, ternyata di dalamnya terasa unsur Jawa-nya karena menyadur dari arsitektur masjid kuno di di Jawa seperti Masjid Agung Demak. Bedanya, jika di MAJT bentuk tajugan atap tidak lagi menggunakan kayu, tapi sudah memakai material kuat seperti baja.

"Unsur Jawa ada di ruang salat utama, jadi nuansanya etnik Jawa Tengah seperti di Masjid Demak. Misalnya dari tajuk pilar warnanya dibuat kehijauan, jadi kesannya tidak modern seperti tampak di bagian luarnya, ada kesejukan," terang Fatquri.

Nah, sedangkan unsur Yunani ternyata terletak pada gapura melingkar di plaza Masjid sebelum bangunan utama. Ada 25 pilar yang membentuk gapura mirip Colosseum dan dihiasi kaligrafi Arab yang indah. Gapura itu juga disebut sebagai Gerbang Al Qanathir yang artinya egah dan ernilai, jumlah pilarnya pun menyimbolkan 25 rasul Allah.

"Unsur Yunani seperti Colosseum ada di gapura melingkar itu. Sehingga ini menjadi kolaborasi tiga arsitektur dunia," tegasnya.

Meski terlihat modern, MAJT dikonsep agar tetap berkesinambungan dengan masjid-masjid yang sudah dibangun para wali yang menyebarkan agama Islam di Jawa. Bahkan di halaman masjid masih dipasang bedug yang menjadi alat penanda memasuki waktu salat pada zaman dulu.

"Jadi tidak meninggalkan sejarah dulu, walau sudah ada loudspeaker tetap ada bedug. Ada nilai edukasinya juga," pungkasnya.

MAJT yang berada di lahan seluas 10 hektar itu memang sangat menarik, berbagai fasilitas lengkap mulai dari penginapan untuk transit peziarah, gedung aula, hingga museum ada di sana. Di dalam ruang salat juga ada Al Quran raksasa karya santri Ponpes Al Asy'ariyyah Kalibeber, Mojotengah, Wonosobo sebesar 145 cm x 95 cm.

Pengurus masjid tidak pernah mengklaim MAJT sebagai destinasi wisata. Tapi masjid tersebut kini sudah sangat dikenal sebagai tempat wisata religi atau hanya sekadar berfoto bersama keluarga di sana.

"Tugas utama MAJT tetap sebagai tempat ibadah," tegas Fatquri.

(krn/fay)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads