Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Rabu, 08 Jul 2015 08:23 WIB

DOMESTIC DESTINATIONS

Napak Tilas Sayyid Hussein Jumadil Kubro, Bapak Wali Songo

Enggran Eko Budianto
detikTravel
Makam Sayyid Hussein Jumadil Kubro (Enggran/detikTravel)
Makam Sayyid Hussein Jumadil Kubro (Enggran/detikTravel)
Mojokerto - Di Jawa, nama ulama ini kalah tenar dibandingkan Wali Songo. Namun tanpa dia, tidak mungkin ada Wali Songo. Dialah Sayyid Hussein Jumadil Kubro. Seluruh Wali Songo adalah anak cucunya. Yuk, ziarahi makamnya di Mojokerto!

Trowulan di Mojokerto tak hanya terkenal dengan peninggalan Kerajaan Majapahit. Di sini ada sebuah kompleks makam Islam kuno sejak abad ke-14 masehi, dimana terdapat makam Syekh Jamaluddin Al Husain Al Akbar alias Sayyid Hussein Jumadil Kubro atau yang biasa disebut Syekh Jumadil Kubro. Dia dipercaya sebagai nenek moyang Wali Songo.
 
Kompleks makam Islam kuno itu terletak di Desa Sentonorejo, Kecamatan Trowulan. Tepatnya sekitar 500 meter ke arah selatan dari Pendopo Agung Trowulan, serta sekitar 1 Km dari Museum Majapahit dan Kolam Segaran. Kompleks makam Troloyo kini tak lagi menunjukkan kesan kunonya setelah dipugar.
 
Ketika detikTravel berkunjung ke sana, sebuah gapura bergaya Islam menyambut kedatangan peziarah di pintu masuk kompleks makam menuju lorong panjang. Makam Syekh Jumadil Kubro terletak di sisi kanan lorong masuk. Sebuah bangunan pendopo yang adem dan cukup megah menaungi makam ulama besar ini yang dibalut kelambu putih. Terlihat beberapa wisatawan peziarah berdoa di depan makam tersebut.

Salah seorang penjaga Makam Troloyo Muhammad Agus Santoso (37) mengatakan, makam Syekh Jumadil Kubro mulai ramai dikunjungi peziarah sejak tahun 2004 silam. Kala itu, mantan Presiden Abdurrahman Wahid alias Gus Dur meresmikan Syekh Jumadil Kubro sebagai salah satu wali sekaligus nenek moyang dari para Wali Songo.
 
"Beliau ini datang ke Majapahit untuk menyebarkan agama Islam. Kala itu beliau dibantu Tumenggung Satim yang lebih dulu masuk Islam, sekitar abad ke 14 masehi," kata Agus kepada detikTravel, Minggu (5/7/2015).

detikTravel pun mencoba menelusuri berbagai referensi sejarah. Antara lain Babad Tanah Cirebon yang dikeluarkan Keraton Kasepuhan Cirebon sampai dengan publikasi riset dari Martin Van Bruinessen, peneliti sejarah Islam Indonesia dari Universitas Utrecht, Belanda.

Banyak catatan sejarah menyebutkan Syekh Jumadil Kubro berasal dari Samarqand, Uzbekistan, Asia Tengah. Namun, Samarqand diduga hanya tempat yang pernah didakwahi Syekh Jumadil Kubro, bukan tempat asal. Riwayat hidup Syekh Jumadil Kubro alias Jamaluddin Hussein Al Akbar alias Sayyid Hussein Jumadil Kubro menurut Bruinessen memiliki akar di Hadramaut, Yaman.

Bruinessen sudah meneliti di Makam Troloyo, membandingkan dengan tulisan Gubernur Jenderal Inggris Thomas Standford Raffles 'History of Java' dan Sayyid Alwi bin Tahir bin Abdallah Al Haddar Al Haddad tentang 'Sejarah Islam di Timur Jauh'. Sejarahnya sebagai berikut:

Jamaluddin Hussein Al Akbar lahir sekitar tahun 1270 sebagai putera Ahmad Syah Jalaluddin, bangsawan dari Nasrabad di India. Kakek buyutnya adalah Muhammad Shohib Mirbath dari Hadramaut yang bergaris keturunan ke Imam Jafar Shodiq, keturunan generasi keenam dari Nabi Muhammad SAW. Setelah resign dari jabatannya sebagai Gubernur Deccan di India, Jumadil Kubro traveling ke berbagai belahan dunia untuk menyebarkan agama Islam.

Sejumlah literatur lain menyebut Sayyid Hussein Jumadil Kubro traveling sampai ke Maghribi di Maroko, Samarqand di Uzbekistan lalu sampai ke Kelantan di Malaysia, Jawa pada era Majapahit dan akhirnya sampai ke Gowa di Sulawesi Selatan. Dia wafat dan dimakamkan di Trowulan sekitar tahun 1376 masehi. Namun Bruinessen mengatakan ada kemungkinan makam yang asli malah di Wajo, Sulawesi Selatan karena terakhir dia berdakwah di Gowa.

Sayyid Hussein Jumadil Kubro tanpa disadari banyak orang Indonesia adalah perintis Wali Songo, karena 9 wali yang utama adalah keturunannya. Versi sejarahnya beraneka macam, tapi salah satunya menyebutkan semasa di Maroko, Sayyid Hussein Jumadil Kubro menikah dengan anak penguasa setempat dan lahirnya Maulana Malik Ibrahim atau Maulana Malik Maghribi yang menjadi Sunan Gresik.

Ketika di Samarqand, dia menikah dengan putri bangsawan Uzbekistan dan lahirlah Ibrahim Zainuddin Al Akbar As Samarqandiy alias Ibrahim Asmoro. Ibrahim Asmoro dibawa berdakwah ke Indo China kemudian menikah dengan puteri dari Champa dan lahirlah cucu Jumadil Kubro yaitu Sunan Ampel, yang menjadi ayah dari Sunan Bonang dan Sunan Drajat. Cucu satu lagi dari puteri Champa adalah Maulana Ishaq yang menjadi ayah dari Sunan Giri dan kakek dari Sunan Kudus.

Ketika berada di Kelantan, Jumadil Kubro menikah juga dengan puteri Raja Chermin. Cicitnya adalah Syarif Hidayatullah alias Sunan Gunung Jati. Sementara Sunan Muria dan ayahnya Sunan Kalijaga merupakan family jauh, keturunan dari adik Jumadil Kubro yang diajaknya traveling keliling dunia untuk berdagang dan berdakwah. Keturunan Jumadil Kubro yang tidak berdakwah, menjadi raja-raja kesultanan di Asia Tenggara dari Patani, Malaysia, Indonesia sampai Mindanao.

Wow! Dengan sejarah sepenting itu, tidak salah jika Presiden Gus Dur meresmikan makamnya sebagai situs bersejarah terhadap tokoh yang sejatinya adalah pionir penyebaran agama Islam sebelum adanya Wali Songo. Sampai saat ini, makam Syekh Jumadil Kubro tak pernah sepi dari wisatawan.
 
"Berziarah ke makam ini untuk mengingat Allah bahwa kita juga akan mati," kata Romlah (50), peziarah asal Sidoarjo yang datang dengan keluarganya.

Hanya saja, pada bulan Ramadan seperti ini, pengunjung cenderung berkurang. Peziarah akan membludak saat malam Jumat Legi (hari penanggalan Jawa), serta mulai hari ke 20 hingga 28 bulan Ramadan yang dipercaya sebagai waktu turunnya Lailatul Qadar. Selain itu, volume peziarah meningkat drastis pada bulan Maulud, Syura, dan Rajab.
 
Keberadaan makam Syekh Jumadil Kubro tak hanya dipercaya memberikan berkah bagi para peziarah. Hilir mudik peziarah yang seakan tak pernah sepi memberikan berkah bagi warga di sekitar kompleks makam. Berbagai usaha yang menghasilkan uang mereka tekuni. Mulai dari menyediakan jasa penitipan sepeda motor, menjual makanan dan minuman, hingga menjual berbagai suvenir yang menjadi oleh-oleh bagi keluarga peziarah di rumah.

(shf/fay)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA
NEWS FEED