Rumah Si 'Tukang Terbang' Pembuat Bedug di Demak

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Rumah Si 'Tukang Terbang' Pembuat Bedug di Demak

Kurnia Yustiana - detikTravel
Rabu, 22 Jul 2015 09:49 WIB
Rumah Si Tukang Terbang Pembuat Bedug di Demak
Wisata ke pengrajin bedug dan rebana di Demak (Kurnia/detikTravel)
Demak - Demak menjadi rumah bagi banyak pengrajin bedug dan rebana. Traveler yang penasaran dengan proses pembuatannya bisa berkunjung ke rumah pengrajin. Misalnya rumah si 'Tukang Terbang' di kawasan Tanubayan. Siapa dia?

Selain punya Masjid Agung Demak yang dibuat oleh Raden Patah dan Wali Songo, Kabupaten Demak di Jawa Tengah juga menjadi rumah bagi para pengrajin bedug dan rebana. Salah satu pengrajin yang paling terkenal adalah 'Tukang Terbang' yang tinggal di Tanubayan No 73, Demak.

detikTravel berkunjung ke rumah 'Tukang Terbang' itu beberapa waktu lalu atas undangan dari Sampoerna Kretek. 'Tukang Terbang' bukan berarti orang yang bisa terbang, melainkan pembuat rebana. Terbang (rebana) berasal dari kata banter dan abang, maksudnya ketika memukul rebana dengan keras (banter) maka tangan kita akan memerah (abang).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Seorang 'Tukang Terbang' ini bernama Musthofa MS, yang menekuni pembuatan bedug dan rebana sejak sekitar tahun 1969. Papan bertuliskan 'Tukang Terbang' pun terpampang di depan rumahnya. Ketika masuk ke bagian belakang rumah, maka traveler akan melihat banyak sekali rebana serta beberapa bedug aneka ukuran yang sudah jadi maupun belum jadi.

"Bedug, rebana, ketipung, Setiap hari saya bikin. Kalau bedug itu kayu trembesi, kalau rebana kayu nangka," ujar Mustofa MS.

Kayu yang digunakan untuk bedug seringkali hanya trembesi. Sedangkan untuk rebana lebih bervariasi, seperti kayu nangka serta kayu sawo. Kulit yang digunakan adalah kulit kerbau untuk bedug dan kambing untuk rebana. Proses pembuatan bedug biasanya menghabiskan waktu sekitar 1 minggu.

Untuk pembuatan bedug, kayu yang sudah dipotong dan dibolongi bagian tengahnya, akan dipasangi kulit kerbau yang sudah direndam 2 hari. Kulit itu diletakkan pada bagian atas dan bawah bedug, diberi beberapa bolongan untuk tempat tali, lalu dijemur sekitar 3 hari.

Bedug buatan Musthofa besarnya beraneka ragam, dari diameter 60 cm hingga 1,6 meter. Bedugnya pun ada yang diekspor hingga ke mancanegara karena kualitasnya sudah tak diragukan lagi. Musthofa membuat bedug dengan begitu profesional, ia bahkan puasa agar suara bedug buatannya terdengar nyaring.

"Ya harus puasa biar suaranya nyaring. Pemasaran ya di desa, daerah, sampai antar negara. Kemarin China, Malaysia, Yugoslavia. Saya pernah pameran ke Jakarta JCC itu baru dibuka langsung dibeli orang Yugoslavia," ucap Musthofa.

Bedugnya dijual muali dari sekitar Rp 10 juta hingga Rp 140 juta. Traveler yang penasaran ingin melihat proses pembuatan atau membeli bedug bisa langsung datang ke rumah Musthofa. Anak Musthofa yang ikut membantu ayahnya pun mengatakan bahwa banyak orang dari luar kota yang datang untuk melihat proses pembuatan bedug.

"Sering, katakanlah ada yang ingin beli bedug, atau ingin tahu proses pembuatannya ya boleh, tinggal datang saja. Mau beli rebana boleh. lihat proses pembuatannya masuk saja," kata Anas, anak laki-laki Musthofa.

(shf/fay)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads