Selain punya Masjid Agung Demak yang dibuat oleh Raden Patah dan Wali Songo, Kabupaten Demak di Jawa Tengah juga menjadi rumah bagi para pengrajin bedug dan rebana. Salah satu pengrajin yang paling terkenal adalah 'Tukang Terbang' yang tinggal di Tanubayan No 73, Demak.
detikTravel berkunjung ke rumah 'Tukang Terbang' itu beberapa waktu lalu atas undangan dari Sampoerna Kretek. 'Tukang Terbang' bukan berarti orang yang bisa terbang, melainkan pembuat rebana. Terbang (rebana) berasal dari kata banter dan abang, maksudnya ketika memukul rebana dengan keras (banter) maka tangan kita akan memerah (abang).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Bedug, rebana, ketipung, Setiap hari saya bikin. Kalau bedug itu kayu trembesi, kalau rebana kayu nangka," ujar Mustofa MS.
Kayu yang digunakan untuk bedug seringkali hanya trembesi. Sedangkan untuk rebana lebih bervariasi, seperti kayu nangka serta kayu sawo. Kulit yang digunakan adalah kulit kerbau untuk bedug dan kambing untuk rebana. Proses pembuatan bedug biasanya menghabiskan waktu sekitar 1 minggu.
Untuk pembuatan bedug, kayu yang sudah dipotong dan dibolongi bagian tengahnya, akan dipasangi kulit kerbau yang sudah direndam 2 hari. Kulit itu diletakkan pada bagian atas dan bawah bedug, diberi beberapa bolongan untuk tempat tali, lalu dijemur sekitar 3 hari.
Bedug buatan Musthofa besarnya beraneka ragam, dari diameter 60 cm hingga 1,6 meter. Bedugnya pun ada yang diekspor hingga ke mancanegara karena kualitasnya sudah tak diragukan lagi. Musthofa membuat bedug dengan begitu profesional, ia bahkan puasa agar suara bedug buatannya terdengar nyaring.
"Ya harus puasa biar suaranya nyaring. Pemasaran ya di desa, daerah, sampai antar negara. Kemarin China, Malaysia, Yugoslavia. Saya pernah pameran ke Jakarta JCC itu baru dibuka langsung dibeli orang Yugoslavia," ucap Musthofa.
Bedugnya dijual muali dari sekitar Rp 10 juta hingga Rp 140 juta. Traveler yang penasaran ingin melihat proses pembuatan atau membeli bedug bisa langsung datang ke rumah Musthofa. Anak Musthofa yang ikut membantu ayahnya pun mengatakan bahwa banyak orang dari luar kota yang datang untuk melihat proses pembuatan bedug.
"Sering, katakanlah ada yang ingin beli bedug, atau ingin tahu proses pembuatannya ya boleh, tinggal datang saja. Mau beli rebana boleh. lihat proses pembuatannya masuk saja," kata Anas, anak laki-laki Musthofa.
(shf/fay)












































Komentar Terbanyak
Viral Baling-Baling Pesawat Diikat Cable Tie, Wings Air Buka Suara
Bandara Husein Bangkit Lagi? Farhan Senyum Lebar Dapat Sinyal dari Prabowo
Katanya Pulau Dewata Dijaga, tapi DPRD Justru Usulkan Gedung Lebih Tinggi