Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Rabu, 05 Agu 2015 14:23 WIB

DOMESTIC DESTINATIONS

Mengintip Meeting Room Ala Istana Siak

Silvia Galikano
detikTravel
Ruang rapat Sultan Siak (Silvia/detikTravel)
Ruang rapat Sultan Siak (Silvia/detikTravel)
Siak - Wisata ke istana identik dengan melihat singgasana atau mungkin juga ruang pesta, tapi bagaimana dengan ruang meeting? Kesultanan Siak di abad ke-19, sudah memiliki ruangan rapat ala kantor pemerintahan modern.

Agak tidak lazim memang, tapi Kesultanan Siak memiliki ruang rapat kerajaan yang bernama Balai Kerapatan Tinggi. Letaknya tidak di dalam istana, tapi berada persis di sebelah barat Pelabuhan Siak.

Didirikan pada 1886, pada masa Sultan Siak XI Syarif Hasyim, Balai Kerapatan Tinggi adalah ruang rapat besar. Sekarang, bangunan ini bernama resmi Balairung Sri: Museum Budaya dan Sejarah Siak. detikTravel mengunjunginya pada pekan lalu.

Bangunan yang menghadap Sungai Siak ini terdiri dari dua lantai. Ciri khasnya adalah tangga utama berbahan marmer yang menjuntai dari pintu utama di lantai dua turun makin ke bawah makin lebar.

Dari luar, yang tampak di lantai 1 adalah kaki-kaki dari semen dan lantai 2 berupa bangunan kayu dengan jendela-jendela kaca yang dipuncaki kubah. Lantai 1 Balai Kerapatan Tinggi kini difungsikan sebagai museum, tapi pengelolaannya tidak sebagus di Istana Siak.

Tak banyak informasi didapat dari sini. Lemari penyimpan artefak hanya berisi satu-dua barang dari yang semestinya penuh. Kekosongan artefak digantikan foto-foto lama yang direproduksi dalam ukuran besar.
 
Lantai 2 Balai Kerapatan Tinggi menunjukkan tata letak ruang rapat dengan kursi-kursi kayu di sepanjang dinding. Singgasana dan mahkota Sultan berada paling utara. Namun ini hanya replika singgasana dan mahkota, karena yang asli ada di Museum Nasional.

Foto-foto lama keluarga kerajaan dan bangunan bersejarah Siak dipasang di sepanjang teras lantai 2. Selain foto, dipasang juga laporan hasil bumi Siak seperti pohon kelapa ada berapa pokok per jalur, pohon pinang bisa menghasilkan berapa pikul dalam sebulan, serta berapa gantang padi didapat setiap kali panen.

Bangunan ini tercatat dua kali direhabilitasi, yakni pada 1937 oleh Pemerintah Belanda dan pada 1976/1977 oleh Sasana Budaya Jakarta. Serah terima hasil rehabilitasi kedua diresmikan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Daoed Joesoef pada 18 Februari 1979.

(fay/fay)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA