Tradisi Pedole-dole dilaksanakan di sebuah lapangan di Kecamatan Pasarwajo, Kabupaten Buton. Dalam acara ini, ada lebih dari 600 anak yang diberi imunisasi tradisional. Usia anak mulai dari sekitar 3 bulan hingga 5 tahun.
"Peserta tadi kurang lebih 600 anak yang diimunisasi lokal yang kita sebut Pedole-dole. Ini budaya yang beberapa kali dilakukan secara kolosal. Pedole-dole budaya tua, sudah dilakukan ratusan tahun," ujar Bupati Buton Samsu umar Abdul Samiun di Pasarwajo, Buton, Senin (24/8/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Anak-anak kebal terhadap penyakit, cuma sentuhannya sentuhan lokal. Bhisa itu ada profesinya, tidak sama dengan dukun," kata Umar.
Saat tradisi Pedole-dole berlangsung, ada beberapa bhisa yang turun tangan langsung untuk imunisasi 600-an balita. Setiap anak datang ditemani ibunya, kemudian menunggu giliran dipegang oleh bhisa.
"Kita kasih dupa, kita doakan dulu habis itu pakai minyak kelapa. Doanya bahasa Buton, supaya dikasih kesehatan, dikasih kekuatan," ujar Maria, seorang bhisa di prosesi Pedole-dole.
Masing-masing balita akan digendong bhisa. Kemudian diberi asap dari pembakaran kemenyan dan beberapa campuran lain sambil didoakan. Lalu si anak akan ditengkurapkan di atas daun pisang dan diberi minyak yang dicipratkan dengan dedaunan.
Ada juga anak yag disuapi makanan seperti pisang atau ikan. Supaya merasa lebih nyaman. Karena anak yang diimunisasi memang banyak yang menangis.
"Kita kasih makan agar tidak merasakan apa-apa," ucap Maria.
Dalam prosesi adat ini, ikut hadir pula beberapa turis mancanegara yang singgah di Buton dalam acara Sail Tomini 2015. Edwin, salah satu turis yang datang Australia mengatakan bahwa acara Pedole-dole sungguh unik dan akan membuat bayi sehat.
"Ini acaranya menarik. Para bayi mendapat perlakuan spesial dan sepertinya akan selalu diberikan kesehatan," tutur Edwin.
(sst/sst)










































