Untuk yang Satu Ini, Orang Indonesia Harus Belajar dari Papua

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Untuk yang Satu Ini, Orang Indonesia Harus Belajar dari Papua

Johanes Randy Prakoso - detikTravel
Jumat, 18 Sep 2015 17:50 WIB
Untuk yang Satu Ini, Orang Indonesia Harus Belajar dari Papua
Kebersamaan dalam membangun rumah honai (Randy/detikTravel)
Yahukimo - Kehidupan modern yang lebih individualistis, membuat kita lupa dengan nilai gotong royong yang dulu begitu kokoh di negeri ini. Mungkin kita perlu belajar lagi soal gotong royong dengan orang Papua.

Saat SD mungkin traveler diajarkan soal gotong royong yang merupakan jiwa bangsa Indonesia. Walau nilai itu mulai memudar, tapi traveler masih bisa merasakannya langsung apabila berkunjung ke pemukiman Suku Dani di Yahukimo, Papua.

Dalam pelajaran PPKn dulu dijelaskan, kalau nilai-nilai luhur seperti gotong royong, kegigihan, kesabaran, serta kerendahan hati merupakan hal utama yang dijunjung bangsa Indonesia. Namun dalam prakteknya nilai tersebut perlahan mulai memudar, khususnya di kota besar.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam misi mencari jiwa Indonesia, detikTravel bersama rekan media dan blogger berkunjung ke Wamena di Papua dalam cultural trip Mahakarya Indonesia. Wamena merupakan lembah hijau yang dihuni oleh mayoritas Suku Dani.

Ketika tim sedang trekking di daerah Yahukimo, Wamena tampak serombongan pria dan mama yang sedang sibuk berkumpul di tepi Sungai Jago. Di keramaian tersebut tampak rumah honai yang sedang dibangun oleh para pria, dibantu oleh para mama yang sibuk menyiapkan makanan di dekatnya.

Siapa pun yang melihatnya pasti sadar, bahwa tampak pembagian tugas antara kaum pria dan kaum mama. Namun dibalik perbedaan itu, tampak semangat gotong royong, kegigihan, kesabaran, serta kerendahan hati, nilai luhur Indonesia yang masih ada dan hidup di Papua.



"Kita lihat ketika mereka membangun Honai, itu gotong royongnya keliatan, guyub banget, solidaritasnya kuat," ujar sejarawan JJ Rizal yang ikut dalam rombongan Mahakarya Indonesia, Selasa (15/9/2015).

Secara adat di Suku Dani, adalah tugas laki-laki untuk membuka ladang dan membangun honai, sementara kaum mama bertugas untuk memasak hingga urusan merawat anak. Bahkan dalam Suku Dani yang tradisional, nilai luhur itu ada dan masih dijaga hingga kini secara lintas generasi.

Adapun peran perempuan dalam Suku Dani juga begitu signifikan, sekali pun secara status kaum perempuan berada di bawah laum laki-laki. Namun apabila melihat para mama Suku Dani, perjuangan hidup mereka begitu keras dan penuh nilai luhur.



"Di Suku Dani perempuan itu punya tempat istimewa, bagaimana mereka membawa noken saat mengikuti suaminya, hingga soal kesabaran perempuan dalam menghadapi laki-laki di tengah Suku Dani," cerita JJ Rizal.

Pada akhirnya perjalanan ke Yahukimo mengajarkan saya dan rombongan, bahwa jiwa Indonesia ada dan dapat ditemui melalui Suku Dani yang hidup di pedalaman Papua. Bahwa sejatinya nilai-nilai luhur itu perlu untuk dipertahankan dan dijaga hingga nanti.

(rdy/adf)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads