Ketika tim Ekspedisi Jurnalis ke Carstensz 2015 menetap selama 5 hari di Desa Ugimba, Kabupaten Intan Jaya pertengahan Agustus kemarin, ada satu hal yang mencuri perhatian. Apalagi kalau bukan garam gunung!
Garam tersebut wujudnya seperti batu. Bagian bawahnya tinggal digerus, lalu jatuhlah butiran-butiran garam yang berwarna putih dan rasanya asin. Pertanyaannya, dari mana garam tersebut berasal?
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Maximus menambahkan, garam gunung sudah ada sejak dulu dan digunakan sebagai bumbu masak. Suatu yang dianggapnya sebagai berkah dari Tuhan untuk suku Moni yang menetap di Desa Ugimba dan sekitarnya. Sebab, jarak dari sana ke pantai jauhnya ratusan kilometer.
Maximus kemudian menjelaskan proses pembuatan garam gunung. Pertama, air garam akan ditimba dulu dan dimasukan dalam suatu wadah besar. Wadah yang kalau dulu terbuat dari batu, tapi kini sudah ada yang memakai panci.
"Lalu dimasak dengan suhu yang sangat panas, bisa sampai 100 derajat Celcius lebih. Lalu, air garamnya akan mengeras dan menjadi batu yang seperti kamu lihat," tuturnya.
Rasa garamnya memang tak jauh berbeda dengan garam laut. Itulah, satu-satunya bumbu masak yang dipakai oleh masyarakat di Ugimba. Mereka memakainya untuk membuat makanan lebih nikmat.
"Sayang, hingga kini belum ada penelitian asal usul mengenai garam gunung. Padahal, ini sesuatu yang sangat menarik," pungkasnya.
(aff/aff)












































Komentar Terbanyak
Dugaan Pungli Petugas Imigrasi Batam Jadi Pemberitaan Heboh Media Singapura
Turis Belanda Tewas Ditusuk di Bali, Apakah Pulau Dewata Masih Aman bagi Wisatawan?
3 Kota di ASEAN Paling Murah Versi Turis AS